10 menit membaca

📖 *SILSILAH HADITS SHAHIH-04*
✒️ Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani yang disusun oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
Ustadz Badrusalam, Lc
20 Dzulhijjah 1446H/ 17 Juni 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

➡️ BAB 1: Akhlak, Perbuatan baik dan Hubungan sesama manusia.

🔹Hadits 10

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرْنِي بِكَلِمَاتٍ أَعِيشُ بِهِنَّ وَلَا تُكْثِرْ عَلَيَّ فَأَنْسَى قَالَ اجْتَنِبْ الْغَضَبَ ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ فَقَالَ اجْتَنِبْ الْغَضَبَ

dari seorang sahabat Nabi ﷺ bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ: Beritahukanlah kalimat-kalimat padaku yang dengannya aku hidup dan janganlah banyak-banyak, karena aku mudah lupa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah marah.” Orang itu mengulangi lagi lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Jauhilah marah.” HR Ahmad.

🔹 Faidah.
1. Bahaya marah, karena sifat yang tercela.
Marah ada dua.
Ulama membagi marah menjadi dua.
A. Marah terpuji, marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Misal – Marah kepada orang yang hina agama Islam, merendahkan Al Qur’an, menghina nabi. Marah kepada orang yang meninggalkan kewajiban.
Namun harus dengan sifat terpuji.

Misal ada dua orang satu sholeh dan satunya sering berbuat maksiat. Yang sholeh sering nasihati teman nya yang berbuat maksiat namun tetap sering diulangi maka orang sholeh marah dan berkata dengan perkataan yang salah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ رَجُلٌ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ، فَقَالَ اللهُ : مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ؟ إِنِّيْ قَدْْ غَفَرْتُ لَهُ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Ada seorang laki-laki berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan, maka Allah berfirman: “siapa yang bersumpah mendahului-Ku, bahwa aku tidak mengampuni sifulan? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya dan Aku telah menghapuskan amalmu.” (HR. Muslim)

Contoh lain adalah orang badui yang kencing sembarangan di Masjid. Sahabat yang melihat ingin segera marah dan mengusir badui yang sedang kencing itu, namun Rasulullah ﷺ melarang para sahabat dan memberi solusi yang lebih baik.

B. Marah tercela, yaitu marah karena dunia. Misal dagangan kita disaingi orang lain dan kita marah.

Marah membela diri. Juga termasuk marah yang tercela. Aisyah radhiyallahu anhaa tidak pernah marah karena membela diri. Karena orang yang dihina marah biasanya akan bermuat lebih kejam, tidak bisa dengan balasan yang sama.

Contoh lain saat Yahudi mendoakan keburukan kepada Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ membalas yang sama.

Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan, “Serombongan orang Yahudi meminta ijin untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka mengucapkan, ‘Assaamu ‘alaikum.’”
‘Aisyah menjawab,
بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ
“Kematian atas kalian (juga) dan laknat.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur ‘Aisyah dengan mengatakan,
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu suka dengan lemah lembut dalam segala urusan.”
‘Aisyah mengatakan, “Tidakkah Engkau mendengar ucapan mereka?”
Rasulullah menjawab,
قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ
“Sungguh aku telah menjawab ‘wa’alaikum.’” (HR. Muslim)

Dalam riwayat Imam Ahmad, ‘Aisyah menjawab dengan mengatakan,

السَّامُ عَلَيْكُمْ يَا إِخْوَانَ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيرِ، وَلَعْنَةُ اللهِ وَغَضَبُهُ

“Kematian atas kalian juga, wahai saudara kera dan babi, laknat Allah atas kalian, dan dan juga murka Allah atas kalian.”
Rasulullah pun menegur ‘Aisyah, “Wahai ‘Aisyah, diamlah.”
‘Aisyah mengatakan, “Wahai Rasulullah, tidakkah Engkau mendengar ucapan mereka?”

Rasulullah pun bersabda,

أَوَمَا سَمِعْتِ مَا رَدَدْتُ عَلَيْهِمْ؟ يَا عَائِشَةُ، لَمْ يَدْخُلِ الرِّفْقُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَمْ يُنْزَعْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Tidakkah Engkau mendengar bahwa aku sudah merespon ucapan mereka? Wahai ‘Aisyah, tidaklah sikap lemah lembut itu terdapat dalam sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah sikap lemah lembut itu tercabut dari sesuatu, kecuali akan memperkeruhnya.” (HR. Ahmad)

Menahan marah itu balasan nya sangat besar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya,
لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّة
“Janganlah kamu marah, dan bagimu surga.” HR Thabrani.

Juga akan mendapatkan kebebasan milih bidadari.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »
“Barangsiapa yang menahan kemarahannya, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia, sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya.” HR Abu Dawud.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada seseorang yang mampu mengendalikan diri ketika marah.

Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”  HR Bukhari.

🔹Hadits 11

Dari Rabi’ah al-Aslami, ia bercerita : “Dahulu, aku bekerja sebagai pembantu Rasulullah ﷺ, lalu, beliau ﷺ memberiku sebidang tanah. Ketika itu, beliau ﷺ juga memberi sebidang tanah pada Abu Bakar (yang berbatasan dengan tanahku). Tiba-tiba, datanglah kecintaan terhadap dunia hingga kami berdua berselisih tentang kepemilikan seutas tandan kurma. Abu Bakar berkata : ‘Tandan itu berada di batas tanahku!’. Maka terjadilah perang mulut antara aku dan Abu Bakar.

Lalu Abu Bakar mengucap perkataan yang membuatku sakit hati, dan ia menyesali ucapannya itu. Abu Bakar berkata kepadaku : ‘Hai Rabi’ah! Balaslah ucapanku tadi dengan perkataan yang semisalnya sebagai qishash.’ Aku berkata : ‘Aku tidak mau.’ Abu Bakar berkata lagi : ‘Kamu mau mengucapkannya sebagai qishash, atau aku akan minta pertolongan Rasulullah ﷺ atasmu.’ Aku berkata : ‘Aku tetap tidak mau.’

Abu Bakar pun meningalkan tanah itu dan pergi menemui Nabi ﷺ, sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan sekelompok orang dari suku Aslam ;mereka pun bertanya :’Semoga Allah merahmati Abu Bakar! Mengapa ia meminta pertolongan Rasulullah ﷺ untukmu, sedangkan ia yang mengatakan begini dan begitu kepadamu tadi?’ Aku berkata kepada mereka : ‘Apakah kalian tahu siapakah orang ini? Ini adalah Abu bakar Ash Shiddiq. Ia adalah (salah seorang dari dua orang) dan ia adalah orang tua bagi kaum muslimin. Aku ingatkan kalian Jangan sampai ia menoleh lalu ia melihat kalian berbondong-bondong membelaku untuk melawannya, Sehingga ia menjadi marah. Lalu ia datang dan menceritakannya kepada Rasulullah ﷺ dan beliau ﷺ ikut marah Karena kemarahannya, lantas Allah pun ikut marah karena kemarahan keduanya sehingga akan celakalah Rabi’ah karenanya.’ Mereka pun berkata : ‘Pulanglah kalian!’.

Kemudian Abu Bakar melanjutkan perjalanan untuk menemui Rasulullah ﷺ, sedang aku mengikutinya seorang diri dari belakang. Setelah kami berjumpa dengan Nabi ﷺ, Abu Bakar menceritakan peristiwa itu apa adanya. Beliau ﷺ menoleh kepadaku seraya berkata : ‘Hai Rabi’ah! Apa yang terjadi antara dirimu dengan Ash Shiddiq.’ Aku menjawab : ‘Wahai Rasulullah, Tadi itu kejadiannya begini dan begini.’ lantas Abu Bakar mengucapkan perkataan yang aku tidak menyukainya. Ia berkata kepadaku: ‘Ucapkan seperti ucapanku kepadamu tadi hingga menjadi qishash (terhadapku). ‘Rasulullah ﷺ menyahut : ‘Kamu (Rabi’ah) benar. Jangan kamu balas ucapannya (Abu Bakar) irit, tetapi katakanlah : ‘Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar! Semoga Allah mengampunimu Wahai Abu Bakar!”. Mendengar hal itu, Abu Bakar beranjak pergi sambil menangis.” HR Ahmad dan Thabrani.

Faidah..

1. Para sahabat berlomba untuk berkhidmah kepada Rasulullah ﷺ.
2. Dunia sering membuat kaum muslimin berselisih.
3. Manusia terbaik setelah para nabi adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Bahkan ada ulama yang mengatakan – iman Abu Bakar kalau ditimbang masih lebih berat dari pada iman seluruh muslim lainnya.

Abu Bakar pun bisa marah, hebatnya beliau langsung menyesal.
4. Keutamaan Rabi’ah – tidak mau membalas marah, dia juga tahu keutamaan Abu Bakar.
5. Anjuran untuk tidak membalas cacian dengan cacian, hinaan dengan hinaan.
6. Kalau orang marah, maka doakan
Allahu Yahdik
GhofaruAllahu lak.

🔹Hadits 12.

Dari Abdullah bin Umar,

قال: سئل اانّبيّ صلّى الله عليه وسلم : أيّ النّاس خير؟: قال : أحسنهم خلقا

Dia berkata, Nabi ﷺ pernah ditanya : Manusia seperti apakah yang paling baik? Beliau ﷺ menjawab : Yang paling mulia akhlaknya. HR Thabrani.

🔹 Hadits 13

Usamah bin Syarik radhiallahu ‘anhu memberitakan,

كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِيِّ كَأَنَّمَا عَلَى رُؤُوْسِناَ الطَّيْرُ، مَا يَتَكَلَّمُ مِنَّا مُتَكَلِّمٌ، إِذْ جَاءَ أُنَاسٌ فَقَالُوْا: مَنْ أَحَبُّ عِبَادِ اللهِ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: أَحْسَنُهمْ 
خُلُقًا

“Kami tengah duduk-duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, seakan-akan di atas kepala-kepala kami ada burung yang hinggap. Tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara. Tiba-tiba ada orang-orang yang datang lalu bertanya, ‘Siapakah di antara hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh-Nya?’ Nabi menjawab, ‘Yang paling bagus di antara mereka akhlaknya’.” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 432 dan Shahih al-Jami’ no. 179)

Faidah.

Adab di majelis Taklim, diam dan memperhatikan.

✅ Cara berakhlak yang mulia.

1. Menuntut ilmu, belajar akhlak Rasulullah ﷺ. Bukan menurut kita tapi menurut orang lain.

2. Berdoa minta akhlak yang baik.

Contoh doa,

Doa Istiftah

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ، حَنِيْفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ، وَنُسُكِيْ، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَبِذَالِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَا عَبْدُكَ. ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ جَمِيْعًا، إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ. أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ. تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros-samaawaati wal ardhi, haniifan wa maa anaa minal musyrikiin. Inna sholaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaatii lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariika lah. Wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin. Allaahumma antal maliku laa ilaaha illaa anta. Anta robbii wa anaa ‘abduk. Zholamtu nafsii wa’taroftu bidzanbii. Faghfir lii dzunuubii jamii’an, innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta.

*Wahdinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdii li-ahsanihaa illaa anta. Washrif ‘annii sayyi-ahaa, laa yashrifu ‘annii sayyi-ahaa illaa anta.*

Labbaika wa sa’daika, walkhoiru kulluhu biyadaika, wasy-syarru laisa ilaik. Anaa bika wa ilaik. Tabaarokta wa ta’aalaita, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, dengan memegang agama yang lurus dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya. Demikianlah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku menganiaya diriku, aku mengakui dosaku (yang telah kulakukan). Oleh karena itu ampunilah seluruh dosaku, sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa, kecuali Engkau.

*Tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak ada yang bisa menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Hindarkan aku dari akhlak yang buruk, tidak ada yang bisa menjauhkanku darinya kecuali Engkau.*

Aku penuhi panggilanMu, aku mohon pertolonganMu, seluruh kebaikan berada di kedua tanganMu, kejelekan tidak dinisbatkan kepadaMu. Aku hidup dengan pertolongan dan rahmatMu, dan kepadaMu (aku kembali). Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi, aku minta ampun dan bertaubat kepadaMu.
HR. Muslim.

3. Mencontoh orang-orang yang punya akhlak yang baik.

🔹Hadits 14

Dari al-Hasan, secara mursal:

احفظ لسانك ، ثكلتك أمّك يا معاذ! فهل يكب الناس على وجو ههم إلّا ألسنتهم

Jaga lidahmu, Ibumu kehilanganmu, hai Muadz! Tidaklah manusia jatuh tertelungkup pada wajah-wajah mereka melainkan akibat ulah lidah mereka.. HR As Suyuthi, al-Kharaithi, Ahmad.

Ini sebenarnya hadits yang panjang yaitu dalam Hadits Arbain 29 – Pintu-Pintu Kebaikan.

Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ قَالَ : لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ ». ثُمَّ تَلاَ : { تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ } { حَتَّى إِذَا بَلَغَ } { يَعْمَلُوْنَ }
ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ.
قَالَ « رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ». ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ « كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya beliau  berkata, “Saya telah mengatakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah! Beritahu saya tentang amalan yang memasukkan saya ke surga dan menjauhkan saya dari api neraka.’

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Sungguh, engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, tapi hal itu akan mudah bagi orang yang Allah berikan kepadanya kemudahan: Engkau beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berbuat syirik kepadaNya, menunaikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah.’

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Maukah engkau aku tunjukkan kepada pintu-pintu kebaikan? Puasa itu adalah perisai, sedekah itu mematikan kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalat seseorang di pertengahan malam.’

Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca ayat, ‘Dan pinggang-pinggang mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Tuhan mereka atas dasar rasa takut dan harapan, dan mereka menunaikan infak dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka jiwa tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kebahagiaan yang menyejukkan mata sebagai balasan dari perbuatan baik mereka.’ (QS. As-Sajdah: 16-17).

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, ‘Maukah engkau aku beritahu  tentang pokok perkara, tiang dan puncaknya?’ Saya mengatakan, ‘Tentu, wahai Rasulullah!’

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Pokok perkaranya adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.’
Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi, ‘Maukah engkau aku beritahu tentang kunci dan pokok dari itu semuanya?’ Aku menjawab, ‘Tentu saja, wahai Rasulullah!’

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang lidah beliau dan mengatakan, ‘Jagalah ini (mulut dan lidah)!’
Maka saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ‘Wahai Rasulullah, apakah kita akan ditanya dan dihukum dengan akibat apa yang kami ucapkan?’

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, ‘Wah, adakah yang membuat orang jatuh ke dalam neraka selain buah dari perbuatan lidah mereka sendiri?’” (HR. Tirmidzi, Imam An-Nawawi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).

Dosa lisan itu berat.
1. Berkata tentang Allah tanpa ilmu.
2. Ghibah
3. Saksi palsu
4. Dusta

Rasulullah ﷺ ingatkan akan bahasa dusta.

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah ﷺbersabda,

 “Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” 
HR Abu Dawud.

🔹HADITS 15.

Dari Abu Hurairah, makan bersama pembantu.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَلْيُجْلِسْهُ ، فَإِنْ لَمْ يَقْبَلْ فَلْيُنَاوِلْهُ مِنْهُ

“Apabila pembantu kalian datang dengan makanan, hendaklah dia mendudukkan pembantunya, kalau dia tidak mau, hendaklah diberi pembantu tersebut dari makanan itu.”

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِي بِالْمَمْلُوكِينَ خَيْرًا ، وَيَقُولُ : أَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ ، وَأَلْبِسُوهُمْ مِنْ لَبُوسِكُمْ ، وَلا تُعَذِّبُوا خَلْقَ اللَّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memberikan wasiat kepada para sahabatnya agar berbuat baik kepada para budak. Dan beliau bersabda, “Berikan makan kepada mereka dari apa yang kalian makan. Dan berilah pakaian kepada mereka dari apa yang kalian pakai. Dan kalian jangan mengadzab ciptaan Allah.””

➡️ HADITS 16.

Dari Mujahid berkata,
لقيني رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فأخذ بمنكبي من ورائي. قال: أما إني أحبّك. قال : أحبك الله الذي أحببتني له. فقال : لولا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ” “إذا أحب الرجل الرجل فليخبره أنه أحبه”. ما أخبرتك. قال: ثم أخذ يعرض علي الخطبة. قال: أما إن عندنا جارية، أما إنها عوراء

“Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu denganku lalu ia memegang pundakku dari belakang dan berkata,

أما إني أحبّك

“Sungguh saya mencintaimu.”

Dia lalu berkata,
أحبك الله الذي أحببتني له

“Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu.”

Dia berkata, “Kalau sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda, “Jika seorang pria mencintai saudaranya hendaklah dia memberi tahu bahwa dia mencintainya“, maka tentulah ucapanku tadi tidak kuberitahukan kepadamu.” Dia   lalu   menyodorkan   sebuah lamaran kepadaku sambil berkata,
“Kami memiliki seorang budak  perempuan  dia  buta sebelah matanya (silakan engkau mengambilnya).”

🔹 Cinta karena Allah, karena Akhlak, karena ketaatan.

Semoga bermanfaat.

#sunnah #adab #akhlak #dusta #ghibah #lisan

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?