This entry is part 17 of 19 in the series AsmaulHusna

Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 13:44

4 menit membaca

Fiqih Asmaul Husna- *Al Fattah, As Sami’*
Ustadz Armin Akbar
11 Shafar 1441 H

Keutamaan mempelajari Asmaul Husna, akan dimasukkan surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَة وَتِسْعِينَ اِسْمًا ، مِائَة إِلَّا وَاحِدًا ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة

”Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitungnya, niscaya masuk surga” (HR. Bukhari no. 2736, 7392 dan Muslim no. 6986).

Menghitung berarti menghafal dan beramal.
Juga tidak berarti nama Allah dibatasi 99 nama.

Dengan mengenal nama Allah kita semakin mengenal Allah, semakin rindu dan semakin tenang dalam semua keadaan.

*Al Fattah*

Hanya disebut 1x, qs Saba 26.
قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui” [Sabâ/34:26].

Artinya membuka, atau kemenangan (Fathu Makkah), juga keputusan.

Secara istilah, Al Fattah, yang memberi keputusan kepada hamba-hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Al Fattah ada 2 makna, 1

1. Yang Maha Mengadili, putusan Allah sangat adil.

Putusan Allah tidak bisa dibeli.

Qs Al Maidah 36.

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لِيَفْتَدُوا بِهِ مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al-Maidah: 36)

Allah akan menjadikan orang mulia bagi yang berhak untuk mulia dan akan menghinakan orang yang hina.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, orang yang paling mulia, dan kemuliaan Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak langsung diperoleh dengan instan. Perlu waktu dan proses.

{أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى عَبْدًا إِذَا صَلَّى}

Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat. (Al-‘Alaq: 9-10)

Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sikap Abu Jahal laknatullah. Dia mengancam Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bila melakukan salat di Baitullah. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pada mulanya menasihati Abu Jahal dengan cara yang terbaik, untuk itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى}

Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran. (Al-‘Alaq: 11)

Yakni bagaimanakah menurut pendapatmu jika orang yang kamu larang ini berada di jalan yang Iurus dalam sepak terjangnya.

Abu Jahal tidak mampu menghinakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena penjagaan Allah.

Juga bermakna, semua hukum syariat Allah adalah sangat adil, yang hikmahnya luar biasa.

Bila hukum Islam diterapkan maka kejahatan akan minimal.

2. Yang Maha Membuka Pintu-pintu Kebaikan.

1. Diantara pintu kebaikan adalah rezeki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh-Nya maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [Fâthir/35:2]

2. Pintu kebaikan yang lain adalah ilmu.

3. Hidayah.

Allah berikan hidayah kepada siapa saja yang Allah kehendaki.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٨:٥٦

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Konsekuensi iman dengan Al Fattah.

1. Tunduk pada syariat Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menetapi janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. [Al-Fath/48 : 10]

2. Sabar dan tegar dalam dakwah.

3. Memperbanyak doa dengan nama Allah supaya bisa paham ilmu.

Ibnu Taimiyyah, bila gak paham ilmu yang sedang dipelajari, shalat 2 rakaat dan berdoa.

*As Sami’* Maha Mendengar.

Ada 45 x dalam Al-Qur’an.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11).

Sayang banyak orang yang tidak beriman dengan sifat Allah ini, karena berdalil dengan Ayat diatas namun dipotong..

Makhluk itu mendengar sedangkan Allah Maha Mendengar,dan sangat jelas.

Qs Al Mujadilah (Perempuan yang Mendebat).

Wanita mulia ini bernama Khaulah bintu Malik bin Tsa’labah bin Ashram bin Fahr bin Tsa’labah bin Ghannam bin ‘Auf bin ‘Amr al Anshariyah al Khazrajiyah. Ia adalah isteri dari Aus bin ash Shamit, seorang wanita yang mengajukan gugatan (kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hukum) zhihar yang dilakukan oleh suaminya terhadapnya. Maka Allah menurunkan ayat-ayat pertama dalam surat al Mujadilah berkaitan dengan permasalahan wanita ini.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata : Segala puji bagi Allah Yang pendengaranNya meliputi segenap suara. Sungguh telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sedangkan aku berada di tepi rumah. Wanita itu mengeluhkan (sikap) suaminya, dan (hanya sebagian) ucapannya yang bisa aku dengar (dengan suara yang sangat lirih)

Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat

قَدْ سَمِعَ الهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى الهِl وَالهُs يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ الهَl سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [ Al Mujadalah / 58:1]

Begitu juga Allah mendengar suara doa Nabi Yunus walaupun di dasar laut dan dalam perut ikan.

Allah mendengar dan paham dengan sempurna (walau dengan bahasa apapun).

Konsekuensi
1. Semakin semangat untuk berdoa.
2. Membuat kita lebih hati-hati dalam berbicara.

Dalam Berdoa,ada 3 hakl..
A. Yakin Allah Maha Mendengar
B. Yakin bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah
C. Bahwa Allah sangat sayang dan dekat dengan hamba-hamba-Nya.

Contoh doa adalah doa Nabi Zakarya walaupun sudah renta untuk meminta keturunan dan Allah kabulkan.

##$$-aa-$$##

AsmaulHusna

ASMAUL HUSNA # AR RABB ASAMAUL HUSNA # AL BASHIR –
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?