SIFAT SHOLAT NABI # DUDUK ISTIRAHAT
- SIFAT SHOLAT NABI:#1 – Sholat di atas mimbar dan sutrah
- SIFAT SHOLAT NABI # SHOLAT IBADAH YANG ISTIMEWA
- SIFAT SHOLAT NABI # MEMBACA AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI# BACAAN SETELAH AL FATIHAH
- SIFAT SHOLAT NABI # DUDUK ISTIRAHAT
- SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SETELAH ALFATIHAH (LANJUTAN)
- SIFAT SHOLAT NABI # NIAT
- SIFAT SHOLAT NABI#BACAAN SHALAT MALAM & SHALAT JUM’AT
- SIFAT SHOLAT NABI # BACAAN SHALAT FAJAR-DHUHUR-ASHAR-MAGHRIB
Diterbitkan pertama kali pada: 04-Jul-2020 @ 21:04
4 menit membacaSifat sholat Nabi – *Duduk Istirahat*
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny
8 Jumadil Akhir 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
*Duduk Istirahat (sebelum bangkit berdiri ke rakaat berikutnya)*
Kemudian (sebelum bangkit berdiri), Rasulullah ﷺ duduk (di atas kaki kiri dengan tegak, hingga setiap tulang kembali kepada posisinya).
Para ulama berselisih pendapat pada duduk istirahat ini:
1. Disunahkan secara mutlak , dipilih oleh Syaikh al-Albani dan Ulama Syafi’iyah.
Disebut oleh
2. Hanya bila diperlukan saja, dipilih oleh Ibnul Qayyim dan beberapa ulama.
Hadits2 yang menjelaskan sifat-sifat Rasulullah ﷺ selain dari hadits Malik Ibnul Quwailith ini, berarti hanya keadaan tertentu.
Dan Malik Ibnul Quwailith ini datangnya saat Rasulullah ﷺ sudah sepuh.
Dan juga banyak pertentangan kapan takbir intiqal nya diucapkan. Ada 3 pendapat (saat angkat kepala, setelah duduk, dan memanjangkan bacaan takbir intiqal ini) dan semua Dalilnya umum.
Pendapat Ibnul Qayyim dan pendapat ulama Hanabilah yang menyatakan duduk istirahat ini hanya bila diperlukan dipilih oleh Ustadz.
*Bertumpu dengan Kedua Tangan Ketika Bangkit Berdiri ke Rakaat Selanjutnya.*
Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam bangkit ke rakaat kedua sambil bertumpu pada tanah (lantai).
Maksudnya mendahulu kan lutut dulu.
Jumhur ulama berpendapat angkat tangan dulu.
Khilaf di sini sama dengan khilaf saat turun sujud.
Pendapat yang menyatakan turun tangan dulu dan naik dari sujud (lutut dulu) diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan lebih kuat, karena hikmah nya lebih ringan dan cocok untuk semua usia.
Beliau shallallahu alaihi wasallam melakukan ‘ijn dalam shalat, yaitu : bertumpu dengan kedua tangan (kepal) apabila beliau bangkit berdiri. Ijn ini sunnah menurut pendapat Syaikh Al Albani. Dan banyak pendapat dari ulama mutaqadimin melemahkan pendapat ini. Juga pendapat sebagian besar ulama mutaakhirin.
Apabila beliau ﷺ bangkit ke rakaat kedua, beliau ﷺ membuka rakaat itu dengan bacaan “Alhamdulilah” (surat Al Fatihah), dan tidak diam (seperti rakaat pertama untuk membaca doa istiftah, maksudnya tidak membaca istiftah)
Namun ini menafikan untuk tidak baca Taawudz dan Basmalah (secara syir).
فَاِ ذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰ نَ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 98)
Pada rakaat kedua ini melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, namun rakaat kedua ini lebih pendek daripada rakaat pertama.
Rakaat kedua :
– tidak baca istiftah
– bacaan ayat lebih pendek
– tidak ada takbiratul ikram namun ada takbir intiqal.
*Wajibnya Membaca Al Fatihah pada setiap Rakaat*
Nabi ﷺ memerintahkan orang yang tidak benar dalam shalat nya agar membaca Al Fatihah pada setiap rakaat, dimana setelah memerintahkannya untuk membacanya pada rakaat pertama, beliau bersabda kepadanya,
ثمّ افعل ذلك في صلا تك كلّها
Kemudian lakukan hal itu pada shalatmu seluruhnya,
Pada riwayat lain,
… في كلّ ركعة
.. Pada setiap rakaat..
Beliau ﷺ juga bersabda,
في كلّ ركعة قر اءة
Pada setiap rakaat itu ada bacaan (Al Fatihah).
Bagaimana dengan makmum?
Allah berfirman
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kalian mendapat rahmat” Qs Al A’raf 204.
Jadi makmum lebih baik mendengarkan bacaan imam dan diam.
Juga tidak ada penjelasan kapan makmum membaca Al Fatihah saat imam membaca dengan keras.
Imam Syafii, qoul jadid ketika di Irak mengatakan wajib membaca Al Fatihah di setiap rakaat
“لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب” أي في كل ركعة
‘Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah’, maksudnya pada tiap rakaat”
Ketika di mesir (qoul Jadid) beliau mengatakan tidak wajib dengan dalil qs Al A’raf ayat 204.
Diantara yang melemahkan wajibnya baca fatihah disetiap rokaat bagi makmum saat Imam baca keras , tdk ada penjelasan kapan waktunya membaca alfatihah
Kenapa cukup mendengar bacaan imam?
– akan khusyu
– tidak ada penjelasan khusus
*Tasyahhud Awal*
Selanjutnya, setelah selesai dari mengerjakan rakaat kedua, beliau ﷺ duduk untuk Tasyahhud, Apabila shalat yang beliau ﷺ kerjaan adalah Shalat dua rakaat, seperti shalat Subuh, beliau ﷺ duduk dengan iftirasy seperti cara beliau duduk diantara dua sujud.
Demikian pula cara duduk pada Tasyahud awal dari shalat yang 3 atau 4 rakaat.
Pendapat 4 mahdzab duduk Tasyahud :
1. Hanafiah – semuanya duduk Tasyahud dalam shalat adalah iftirasy
2. Malikiyah – semua tawaruk
3 Syafi’i – setiap duduk Tasyahud yang ada salamnya duduk tawaruk. Dan duduk yang tidak ada salam adalah iftirasy.
4. Hanabilah – semua duduk Tasyahud di dalam shalat itu iftirasy kecuali duduk Tasyahud kedua (tawaruk).
Setiap orang diwajibkan mengikuti dalil yang menurutnya lebih kuat tapi jangan ikuti hawa nafsu, karena kita tidak dibebaskan untuk berpendapat tapi wajib ikuti dalil.
Kenapa mereka berbeda pendapat? Karena tidak ada dalil khusus yang menjelaskan.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kepada orang yang tidak benar shalatnya dengan bersabda,
فاءذا جلست في وسط الصلاة فاطمئن، وافتر ش فخذ ك اليسرى ثم تشهد
” apabila engkau duduk di tengah shalat, maka duduklah dengan tenang (thuma’ninah) dan bentangkanlah paha kirimu, kemudian bertasyahudkah”.
Abu Hurairah berkata,
نها ني خليلي ﷺ عن إقعا ءٍ كاء قعا ء الكلب
Kekasihku (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) melarangku duduk dengan cara iq’a seperti cara iq’a (jongkoknya) anjing.
Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ
*SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK*
(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)


