KASYFU SYUBHAAT #-15 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-1 Muqaddimah
- KASYFU SYUBHAAT #-2 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-3 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-4 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-5 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-15 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-6 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-7
- KASYFU SYUBHAAT #-8 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
- KASYFU SYUBHAAT #-9 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
Diterbitkan pertama kali pada: 18-Des-2022 @ 19:28
9 menit membaca*KASYFU SYUBHAAT* #-15 (Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullahu)
🎙️Ustadz Dr. *Firanda Andirja*, LC, M.A
Ahad malam, 25 Jumadil Awal 1444 H (18 Des 2022)
🕌 Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
➡️ Berbeda kaum musyrikin terdahulu dan sekarang.. Dan sudah dibantah.
1. Para ulama sudah sebutkan bantahan orang Islam bisa terjatuh pada kemurtadan
2. Para ulama/fuqohaa sebutkan banyak sebab kekufuran, dan hanya satu sebab bisa kafir. Bahkan sebab yang sepele.
Misal hinaan yang lecehkan keagungan Allah, Rasulullah ﷺ dan agama Allah
🔹Dikatakan juga: jika orang-orang dulu tidak kafir melainkan lantaran mereka hanya memadukan antara syirik dan mendustakan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam dan Al-Qur’an serta mengingkari hari kebangkitan dan yang lainnya. Maka apalah artinya bab yang di sebut oleh Para ulama’ seluruh madzhab: “bab hukum orang murtad”. Yaitu yang tak lain adalah orang muslim yang menjadi kafir sesudah dirinya Islam. Kemudian para ulama’ menyebutkan beberapa macam murtad. Setiap macam dari macam-macam murtad itu dihukumi kafir dan dijadikan darah dan harta bendanya itu halal. Sampai-sampai para ulama’ itu menyebutkan hal-hal yang gampang terjadi dan dilakukan orang. Seperti; seseorang yang menyebut sesuatu kalimat dengan lisannya, tanpa ada keyakinan dalam hatinya ataupun menyebut suatu kalimat dengan bercanda dan main-main.
Dan dikatakan pula: orang-orang yang Allah katakan tentang mereka:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلامِهِمْ
“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu), Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah islam”. (At Taubah: 74).
Mereka ucapkan satu kata kufur.. Cukup menjadikan dia kafir setelah Islam.
Ketika hukumi ini Allah tidak melihat niat mereka..
Ini ayat terkait orang munafik yang batin nya kafir tetapi dhahirnya Islam.
Mereka disikapi dengan dhahir nya, namun setelah mereka ucapkan kata kufur jadilah mereka kafir batin dan kafir dhahir
🖍️ Dalil 2..
Apakah kamu tidak mendengar, bahwasanya Allah telah mengkafirkan mereka hanya karena mereka mengucapkan satu kalimat? padahal semasa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam mereka berjihad bersama beliau Shallallahu‘alaihi wasallam. Mengerjakan shalat bersama beliau, berzakat, menunaikan ibadah haji dan mentauhidkan Allah.
➡️ Secara dhahir mereka muslim.
Allah tidak menyebut niat mereka atas kekufuran mereka.
🖍️ Contoh lain.
Demikian pula, orang-orang yang Allah katakan tentang mereka:
قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ. لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Katakanlah: “Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah: 65-66).
Ayat ini turun saat mereka (orang-orang kafir) menghina para sahabat.
Mereka akui hanya bercanda artinya tidak menolak bahwa mereka memang mengejek.
🔹Allah Subahanahu wata’ala telah menerangkan dan menjelaskan dengan sejelas- jelasnya, bahwasanya mereka itu kafir sesudah beriman, padahal mereka ikut bersama Rasulullah ﷺ dalam perang Tabuk, mereka telah mengucapkan satu kalimat kekafiran, meski mereka katakan bahwa mereka mengucapkan kalimat itu atas dasar gurau belaka.
✅ Mereka kafir karena perkataan tanpa perlu lihat hatinya.
Oleh karenanya renungkan syubhat berikut ini, yaitu ucapan mereka: “Mengapa kalian mengkafirkan orang-orang Islam yang mereka bersaksi, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mereka mengerjakan shalat dan puasa?”
Kemudian renungkan jawaban syubhat itu, karena jawaban ini adalah termasuk paling bermanfaat di antara isi lebar-lembaran ini. (jawaban syubhat dengan 4 sisi).🔸
🔹Contoh pembatal tauhid karena perbuatan. Yaitu kisah Bani Israil.. Padahal mereka Islam.
Dan termasuk dalil atas hal itu juga adalah apa yang sudah Allah ceritakan tentang Bani Israil dengan keislaman, keilmuan, dan keshalihan mereka, masih saja mereka mengatakan kepada nabi musa ‘alaihi sallam:
اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
“Buatlah untuk kami suatu tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai tuhan- tuhan (berhala).” (QS.Al A’raaf:138).
🔹Dan ucapan beberapa sahabat:
اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ
“Buatlah untuk kami dzaatu anwaath (nama sebuah Pohon).”
Mendengar ucapan itu Rasulullah Shalallahu‘alaihi wasallam lalu bersumpah, bahwasanya ucapan itu serupa dengan ucapan Bani Israil “buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala).”
Nabi ﷺ menegur ucapan ini dalam perang hunain.
Dari Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allahu akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telag mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi).
🔹Bani Israil ditegur dengan keras oleh Musa dan para shahabat ditegur keras oleh Rasulullah ﷺ.
Sebagai jawabannya, hendaklah anda katakan:
“Sesungguhnya Bani Israil tidak melakukan itu, demikian pula orang-orang yang telah memohon kepada Nabi Shalallahu‘alaihi wasallam tidak juga melakukan itu. Tetapi jika melakukan itu yakni membuat tuhan berhala, jelas mereka akan kafir. Seperti juga tidak ada perbedaan pendapat antara ulama’ bahwa orang-orang yang dilarang Rasulullah Shalallahu‘alaihi wasallam itu andaikan tidak mentaati beliau Shalallahu‘alaihi wasallam dan mengambil Dzaatu Anwaath itu sesudah mereka dilarang, niscaya mereka pun menjadi kafir.” Dengan demikian terjawablah.
Syubhat : Yang mereka lakukan bukan kafir
Jawaban
1. Jelas Nabi Musa marah dan Nabi Muhammad ﷺ juga marah, taruhlah itu bukan kafir.
2. Ulama sepakat, jika mereka ngeyel untuk melakukan nya maka kafir.
🔹Timbul pertanyaan kenapa sahabat dan Bani Israil tidak kafir?
Karena mereka tidak melaksanakan hal itu, *mereka jahil* dan ini udzur.
🔸Jawaban lain Apa yang dilakukan sahabat dan Bani Israil adalah kufrun fi’li – yaitu kekafiran perbuatan. (belum berbuat)
✅ *kisah ini memberi pelajaran:*
🔸(a) Bahwasanya seorang muslim, bahkan seorang ‘alim, terkadang dapat terperosok ke dalam macam syirik tanpa sepengetahuannya. Dengan demikian kisah ini pun memberi pelajaran kepada kita agar belajar dan berhati-hati serta mengerti bahwa ucapan seorang bodoh, “kami sudah faham tauhid itu“, adalah kebodohan yang terbesar dan termasuk makar (tipu daya) syaithan yang terbesar, (harus belajar)
➡️ *Tauhid secara global mudah, cepat.. Dan Rasul ﷺ menjelaskan tauhid selama 13 tahun* bahkan selama di Madinah juga terus dakwah tauhid… *Makanya tauhid perlu dijelaskan secara detail.*
🔸(b) Kisah ini juga memberi pelajaran, bahwa seorang muslim jika mengucapkan perkataan kufur dan dia tidak tahu, lalu diingatkan atas perbuatannya itu, kemudian seketika itu juga bertaubat dari ucapan itu, maka ia tidak kafir, sebagaimana yang sudah dilakukan kaum Bani Israil dan sahabat yang meminta kepada Nabi Shalallahu‘alaihi wasallam dalam kisah di atas,
🖍️ Ini adalah udzur bil Jahl.
🔸(c) Dan kisah itu juga memberi pelajaran, bahwasanya jika dia tidak kafir maka dia harus ditegur dengan perkataan yang keras kepadanya, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu‘alaihim wasallam, kepada orang-orang lain dari sahabat itu.
🖍️ Perlu teguran yang keras sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
➡️ Syubhat selanjutnya.
Orang-orang musyrik mempunyai syubhat lain, mereka mengatakan bahwa nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah menyalahkan pembunuhan Usamah Radhiallahu‘anhuma terhadap orang yang sudah mengatakan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
dan beliau bersabda kepadanya:
أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
“Mengapa engkau bunuh setelah ia mengucapkan: Laa Ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah)?”
Begitu juga sabda beliau Shallallahu‘alaihi wasallam:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah)”
Dan hadits-hadits lain tentang menahan diri dari orang yang telah mengucapkan kalimat tauhid. Yang diinginkan orang-orang bodoh itu adalah, bahwasanya barang siapa yang sudah mengucapkan kalimat itu, maka tidak dikafirkan dan tidak dibunuh, meski ia telah berbuat apa saja, maka, harus dikatakan kepada orang- orang bodoh itu:
🔹Jawaban syubhat tersebut.
Sudah maklum, bahwasanya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam telah memerangi orang-orang Yahudi dan menawan mereka padahal mereka mengatakan Laa Ilaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah). Seperti juga sudah maklum, bahwa sahabat- sahabat Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam telah memerangi Bani Hanifah (kaum Nabi palsu musailamah Al kadzab) , padahal mereka bersaksi, bahwasanya tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah, mereka juga mengerjakan shalat dan mengaku dirinya Islam.
🔸🕌Bahkan orang-orang Nasrani ada yang akui kenabian Nabi Muhammad tetapi tidak akui Nabi ﷺ diutus untuk mereka. Dan ini kafir.
Demikian pula halnya orang-orang yang dibakar oleh ‘Ali bin Abi Thalib dengan api, dan orang-orang bodoh itu mengakui, bahwa barang siapa yang mengingkari hari pembalasan, maka ia dihukum kafir dan boleh dibunuh,
meskipun telah mengucapkan Laa Ilaha Illallah.
dan barang siapa mengingkari sesuatu dari rukun-rukun Islam, ia juga kafir dan boleh dibunuh meskipun telah mengucapkan kalimat tauhid itu. Lalu, kalau orang yang mengingkari satu cabang agama, pengakuan Islamnya batal dan tak berguna, adakah berguna pengakuan keislaman orang yang mengingkari tauhid yang merupakan asas dan dasar agama para Rasul?
➡️ Banyak dalil menunjukkan bahwa meskipun ucapkan laa ilaha illa Allah tetapi tetap dihukumi kafir bila lakukan sebab kekufuran.
BANTAHAN Qiyas Aulawi – kalau furu saja dibantah apalagi yang ushul.
Namun, memang musuh-musuh Allah tidak faham makna hadits-hadits itu. Adapun hadits Usamah adalah bahwasanya ia telah membunuh seorang lelaki yang sudah mengaku dirinya Islam disebabkan karena Usamah menyangka, bahwa lelaki itu tidak mengaku Islam kecuali karena rasa takut atas darah dan hartanya.
🔸Jadi, jika seorang telah memperlihatkan keislamannya, maka wajib bagi muslim menahan diri, dan tidak tergesa-gesa membunuhnya sehingga diketahui dengan teliti pada dirinya apa-apa yang bertentangan dengan keislamannya itu.
Tentang hal itu, Allah subhanahu wata’ala telah menurunkan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka betabayunlah (telitilah).” (An Nisaa’: 94).
Tabayyun yakni tatsabbut, berhati-hati dalam bertindak, tidak ceroboh, ayat tersebut menunjukkan kewajiban menahan diri dan bertasabbut. Lantas, jika sudah terang (setelah diteliti) ada sesuatu yang berlawanan dengan Islam, maka boleh dibunuh, berdasarkan firman Allah -maka telitilah- kalau seandainya tidak boleh dibunuh jika ia mengucapkan kalimat tauhid, padahal telah terbukti, setelah diteliti bahwa ia menentang Islam, maka perintah “tatsabbut” tidak akan mempunyai arti.
Demikian pula hadits lain yang sejenisnya, maknanya adalah seperti yang sudah kami sebutkan, dan bahwasanya barang siapa yang telah menampakkan ketauhidan dan keislaman, maka wajib orang muslim menahan diri darinya, kecuali jika sudah terang darinya sesudah diteliti, hal-hal yang membatalkan ketauhidan dan keislamannya itu. Sebagai dalil atas hal itu adalah bahwasanya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:
أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
“Mengapa kamu bunuh dia sesudah mengatakan Laa Ilaaha illallah (tiada Tuhan selain Allah)?”.
Dan beliau shallallahu‘alaihi wasallam juga yang bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa Ilaha Illallah (tiada Tuhan selain Allah)”
Beliau Shallallahu‘alaihi wasallam pula yang bersabda tentang kaum khawarij:
أَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ
“Dimana saja kamu sekalian bertemu mereka, maka bunuhlah. Sungguh, jika aku mendapatkan mereka (khawarij) niscaya pasti akan aku bunuh mereka (seperti) terbunuhnya kaum ‘Aad.”
Padahal orang-orang khawarij itu termasuk orang-orang yang banyak beribadah, bertahlil dan bertasbih. Sampai-sampai para sahabat merasa rendah diri di hadapan orang-orang khawarij itu. Mereka telah belajar ilmu dari para sahabat, akan tetapi meski begitu, ucapan mereka Laa Ilaha Illallah sama sekali tidak berguna bagi mereka.
Begitu juga ibadah mereka yang banyak dan pengakuan Islam mereka juga tidak berguna tatkala telah tampak dari mereka perlawanan terhadap syari’ah.
Demikian halnya apa yang sudah kami sebutkan tentang peperangan terhadap orang-orang Yahudi dan peperangan para sahabat terhadap bani Hanifah.
Begitu juga Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam ingin memerangi Bani Mushthaliq tatkala seorang lelaki dari mereka memberitahu beliau Shallallahu‘alaihi wasallam bahwasanya Bani Mushthaliq enggan membayar zakat, sehingga Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti.” (Al Hujuraat: 6).
Dan benar, bahwa lelaki itu telah berbohong dalam memberitakan tentang mereka.
Semua ini menunjukkan bahwa maksud Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang mereka pakai sebagai hujjah itu adalah seperti apa yang kami sudah sebutkan di atas.
Seorang yang mengaku ucapkan laa ilaha illa Allah tidak berarti Islam nya selamat, karena lakukan sebab kekufuran.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

