Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, LcAlkabaair

SYARAH KITAB AL-KABAAIR (69-70) : PUTUS ASA – TIDAK PANDAI BERTERIMA KASIH

This entry is part 29 of 32 in the series AlKabaair

Diterbitkan pertama kali pada: 19-Mar-2022 @ 08:03

4 menit membaca

*SYARAH KITAB AL-KABAAIR (69-70)* : _PUTUAS ASA – TIDAK PANDAI BERTERIMA KASIH_
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc
16 Sya’ban 1443H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Yang bisa menambah nikmat Allah adalah syukur kita kepada Allah.. Dan bila kita lalai maka Allah akan mengadzab kita..

Allah Ta’ala berfirman,

ما يفعل الله بعذابكم إن شكرتم وآمنتم

“Tidaklah Allah akan mengadzab kalian jika kalian bersyukur dan beriman. Dan sungguh Allah itu Syakir lagi Alim” (QS. An-Nisa: 147).

Kita lanjutkan dengan kitab Al Kabaair…

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyalahu ‘anhu beliau berkata :

_Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang baik tapi aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang buruk agar jangan sampai menimpaku_

➡️ *69 : PUTUS ASA*

Putus asa dari kebaikan Allah.. Adalah dosa besar.
Walaupun tidak diungkapkan.

Putus asa dari rahmat Allah memiliki kelaziman berprasangka buruk kepada Allah, dan ini termasuk dosa besar.

🔸Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

_Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir._ (QS. Yusuf [12]: 87)

Ini adalah perkataan Nabi Yakub alaihissalam kepada putra-putranya.

Orang-orang kafir berputus asa kepada Allah dan akhirnya merasa mereka berhasil karena usaha sendiri dan merasa gagal karena mereka sendiri yang akhirnya mereka bunuh diri.

Ini berbeda dengan sifat orang-orang yang beriman.

🔸Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

_Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dia-lah yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji._ (QS. Asy-Syuura [42]: 28)

Kata قَنَطُ maknanya putus asa (berbeda dengan kata pada ayat sebelumnya يَيْأَسُ    yang diartikan sama, yang mana sebenarnya artinya tiap kata tersebut punya makna khusus).

🔸Allah berfirman…

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ

_Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah._ (QS. Az-Zumar [39]: 53)

🖍️Hasan Al Bashri berkata, ayat ini adalah ayat yang paling memberi harapan (Baabun roja = pintu harapan).

Kita hadirkan keseimbangan antara KHOUF (takut) dan ROJA (harap) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

🔸Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

_Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla._ (HR. Muslim)

Orang yang putus asa orang yang prasangka buruk kepada Allah.

🔸Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖۤ اِلَّا الضَّآلُّوْنَ

_Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat._
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 56)

Orang yang putus asa itu termasuk mendustakan ayat-ayat Al Qur’an. (Ibnu Aththiyah)

🔸Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إن لله مائة رحمة أنزل منها رحمة واحدة بين الجن والإنس والبهائم والهوام، فيها يتعاطفون، وبها يتراحمون، وبها تعطف الوحش على ولدها، وأخر الله تسعا وتسعين رحمة يرحم بها عباده يوم القيامة

_Sesungguhnya Allah memiliki 100 rahmat. Salah satu di antaranya diturunkannya kepada kaum jin, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Dengan rahmat itulah mereka saling berbelas kasih dan menyayangi. Dengannya pula binatang liar mengasihi anaknya. Dan Allah mengakhirkan 99 rahmat untuk Dia curahkan kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat._
(Muttafaq ‘alaih)

🖍️Semakin besar husnudzon kepada Allah, semakin besar kasih sayang Allah.

Seperti dalam hadits qudsi..

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi Ibrahim yang sendirian berjuang menegakkan tauhid dan dimusuhi kaumnya yang akhirnya menyiapkan kayu bakar untuk membakar Ibrahim, dan Ibrahim yakin akan pertolongan Allah
Dan Allah pun menolong Ibrahim dengan membuat api tidak mampu membakar Nabi Ibrahim…

Kisah orang-orang yang terombang ambing di tengah lautan dan berdoa kepada Allah, masih Allah selamatkan sampai di daratan, walaupun mereka akhirnya kembali kepada kesyirikan.

Doa orang-orang yang ada noktah kesyirikan masih Allah kabulkan, maka kita sebagai mukmin harusnya tidak akan putus asa kepada Allah.

➡️ *70 : KUFUR NIKMAT*

Kufur, tidak pandai berterima kasih kepada manusia.

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من استعاذ بالله فأعيذُوهُ ومن سأل بالله فأعطوه، ومن أتى إليكم معروفاً فكافئوه، فإن لم تجدوا، فادعوا له، حتى يعلم أن قد كافأتموه

_Siapa yang memohon perlindungan dengan mengatasnamakan Allah , maka lindungilah dia. Dan siapa yang meminta dengan mengatasnamakan Allah, maka berilah ia. Dan siapa yang berbuat baik kepadamu, balaslah kebaikannya. Jika anda tidak mampu, maka doakanlah dia sampai dia tahu bahwa kalian telah memberinya yang setimpal._
HR Abu Dawud.

Contoh kan berbakti kepada orang tua kepada anak-anak, baik saat orang tua masih hidup maupun sudah meninggal.

✔️Bakti kepada orang tua yang sudah meninggal itu lebih besar karena kalau masih hidup kadang didasari take and give..
Orang tua yang sudah meninggal itu sangat menanti doa anaknya yang shoheh.

🔸Allah Ta’ala berfirman,

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

_Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu._ (Luqman: 14).

✔️Bakti kepada orang tua yang sudah meninggal itu lebih besar karena kalau masih hidup kadang didasari take and give..
Orang tua yang sudah meninggal itu sangat menanti doa anaknya yang shoheh.

🔸Allah Ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

*ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII.*

_Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri._ (QS. Al-Ahqaf: 15)

🔸Rasulullah ﷺ bersabda,

لا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لا يَشْكُرُ النَّاسَ

_Tidak akan bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia_. HR Abu Dawud.

Sebagian ulama salaf mengatakan, “Kufur nikmat termasuk di antara dosa-dosa besar, dan sebagai bentuk mensyukuri nikmatnya dapat dilakukan dengan balasan yang setimpal atau dengan doa”.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

AlKabaair

Syarah Kitab AL KABAAIR : 67 -Mengurangi timbangan dan takaran & 68-Merasa aman dari siksaan Allah SYARAH KITAB AL-KABAAIR (71-72-73) : _MONOPOLI AIR – TANDA WAJAH – JUDI_
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?