TAFSIR QS AL A’RAF#23: AYAT 174-180
- TAFSIR QS AL A’RAF#1 : AYAT 1-11
- TAFSIR QS AL A’RAF#2: AYAT 12-22
- TAFSIR QS AL A’RAF#3: AYAT 22-30
- TAFSIR QS AL A’RAF#4: AYAT 31-37
- TAFSIR QS AL A’RAF#5: AYAT 38-43
- TAFSIR QS AL A’RAF#23: AYAT 174-180
- TAFSIR QS AL A’RAF#6: AYAT 44 -51
- TAFSIR QS AL A’RAF#7: AYAT 52 -56
- TAFSIR QS AL A’RAF#8: AYAT 57-64
- TAFSIR QS AL A’RAF#9: AYAT 65-72
Diterbitkan pertama kali pada: 03-Okt-2021 @ 21:06
4 menit membaca📖 TAFSIR QS AL A’RAF#23: AYAT 174-180
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 27 Safar 1443H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)
Kita lanjutkan..
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 174)
Maksud ayat-ayat ;
1. Ayat-ayat dalam surat Al A’raf
2.. Ada juga yang mengatakan Al mzitsaq, ayat-ayat perjanjian yang Allah ambil dari anak-anak Adam
3. Tentang kabar umat terdahulu yang membangkang dan Allah adzab.
Yaitu kembali kepada tauhid dari kesyirikan..
Allah firmankan orang yang melepaskan diri dari ayat Alqur’an.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا تْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ الَّذِيْۤ اٰتَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا فَا نْسَلَخَ مِنْهَا فَاَ تْبَعَهُ الشَّيْطٰنُ فَكَا نَ مِنَ الْغٰوِيْنَ
“Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 175)
Ayat ini tentang orang yang telah diberi hidayah namun meninggalkan hidayah.
Para ulama menafsirkan yang dimaksud adalah Bal’am bin Baura, seorang alim jaman nabi Musa, dapat hidayah namun ditinggalkan dan akhirnya tersesat.
Ada yang mengatakan yang dimaksud adalah Umayyah bin Abi sauld (jaman jahiliyah). Dia tidak beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ.. Dia ingin jadi Nabi.
Ada juga yang mengatakan Abu Amir Al Fasiq dari suku Kahzraj. Yang tidak lakukan kesyirikan, namun setelah Rasulullah ﷺ datang dia tidak beriman kepada Rasulullah ﷺ.
Juga termasuk orang Yahudi yang cari kemudian.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰـكِنَّهٗۤ اَخْلَدَ اِلَى الْاَ رْضِ وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ ۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْـكَلْبِ ۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ فَا قْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Ayat ini juga peringatan orang ujub..
Ini juga dalil bahwa orang ilmu bisa terperosok.
كَمَثَلِ الْـكَلْبِ ۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ
⛔Perumpamaan seperti anjing,
kau usir tetap menjulurkan lidah
Kau biarkan tetap menjulurkan lidah
Kondisi menjulurkan lidah.kondisi yang menghinakan. Seperti orang yang diberi hidayah namun tertutup.
✔️Ada kesamaan ,3 pendapat..
1. Demikianlah kondisi orang yang sesat diatas ilmu. Di nasihat atau tidak sama saja.. Seperti anjing yang kondisinya tidak boleh selalu menjulurkan lidah.
2. Sesatnya orang tersebut karena dunia. Sama seperti anjing yang pikirannya selalu makanan. (Ibnu Katsir)
3. Ibnu asyur dan Al Alusi.
Anjing capek menjulurkan lidah
Tidak capek tetap menjulurkan lidah.
Tahapan..
1. Sudah capek cari bidayah
2. Setelah hidayah di depan mata malah ditinggalkan.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سَآءَ مَثَلًا ٱ لْقَوْمُ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا وَاَ نْفُسَهُمْ كَا نُوْا يَظْلِمُوْنَ
“Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami; mereka menzalimi diri sendiri.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 177)
Kemaksiatan yang dilakukan adalah kesyirikan.
✳️ Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِيْ ۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 178).
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memegang hidayah.
Sesungguhnya nilai seseorang sesuai akhirnya.
Inilah kisah tragis orang yang dapat hidayah namun akhirnya terjerumus ke dalam kemaksiatan.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 179)
Allah jelaskan bahwa sebagian takdir Allah adalah penghuni bumi. Dan ada yang ditakdirkan sebagai penghuni neraka Jahanam.
📌Kenapa lebih sesat dari hewan ternak (makan. Karena binatang ternak diberi insting untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Sementara orang-orang kafir telah diberi sarana untuk mendapatkan keimanan namun justru mereka meninggalkan keimanan (manfaat yang paling besar)
Sisi kedua. Karena mereka memiliki Sebab-sebab untuk dapat hidayah (Qalbu), sedangkan hewan tidak.
Mereka lalai.
✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى فَا دْعُوْهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْۤ اَسْمَآئِهٖ ۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Milik Allah lah Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoa lah dengan dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang pada nama-nama Allah. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 180)
Syarat-syarat nama Allah.
1. Harus ada dalil baik Al Qur’an dan Sunnah.
Dalil
هِ الْاَ سْمَآءُ
Nama-nama yang sudah diketahui.
2. Harus mengandung makna yang indah secara langsung dan tidak ambiqu terhadap makna yang konotasinya buruk…
الْحُسْنٰى
Yang terindah.
3. Digunakan untuk berdoa.
فَا دْعُوْهُ بِهَ
📌Berdoa lah dengan nama-nama tersebut
Berdoa mencakup.
▶️A. Doaul masalah, maksudnya memohon dengan tawasul dengan nama tersebut yang relevan dengan permintaan kita.
Contoh..
Yaa Razzaq – Urzuqny
Yaa Rahman – Irhamny dst
▶️B Doaul ibadah, beribadah.
Contoh ibadah.
Dengan cara amalkan konsekuensi dari kandungan nama-nama tersebut
Al Bashr, kita yakin Allah senantiasa melihat kita.
AR Raqib, kita yakin Allah senantiasa mengawasi kita.
⛔ Penyimpangan dalam nama-nama Allah. (Al Ilhad).
Lahd, kecenderungan. Atau penyimpangan.
Contohnya..
A. Kaum musyrikin yang menolak nama Ar Rahman
Allah berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسْجُدُوا۟ لِلرَّحْمَـٰنِ قَالُوا۟ وَمَا ٱلرَّحْمَـٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًۭا ۩
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang”, mereka menjawab: “Siapakah yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami(bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).
Surat Al-Furqan (25) Ayat 60
▶️Contoh lain.
Menjadikan nama-nama Allah untuk nama berhala.
Berhala Lat, diplesetkan dari Allah
Al Uzaa dari Al Azis
Al manat dari Al Manan
▶️Contoh lain, memberi nama Allah dengan yang tidak pantas.
Seperti Al Ab (Tuhan Bapak)
Ilatul Tammah (Tuhan dan Alam bersatu).
Mu’tazilah yang menolak kandungan makna nama-nama tersebut.
❕❕Mereka akan dibalas sesuai perbuatan mereka. Jadi jangan asal bicara nama-nama Allah.


