Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATematikTazkiyatun Nafs

KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL

This entry is part 8 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 09:54

6 menit membaca

KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL

➡️Materi 44

Diantara keutamaan tawakal adalah tawakal diperlukan dalam segala urusan kehidupan kita.

Allah menyuruh tawakal dalam ayat.

Contohnya bila ingin menang atas musuh.

إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kalian , maka tidak ada yang dapat mengalahkan kalian; jika Allah meninggalkan kalian , maka siapa lagi yang dapat menolong kalian setelah Allah? Maka hendaknya orang yang beriman bertakwal kepada Allah. Qs Ali Imran : 160

Allah kaitan kemenangan dengan tawakal.
Bila seorang mukmin terlalu PD, akhirnya dia kalah.

Disini kalau ingin menang dengan orang-orang kafir (musuh Allah), jalan keluarnya salah satunya adalah tawakal kepada Allah.

Juga, dalam Qs An Nisa ayat 81. Jika engkau berpaling hendaknya engkau berpaling dari musuh-musuh sambil ditemani tawakal.

فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

Maka berpalinglah dari mereka dan bertakwallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.

Bila ada orang yang rendah kan kita di medsos hendaknya kita berpaling, tidak usah dilayani, tapi berpaling disertai tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga Allah akan mencukupkan kita, selamatkan kita dari gangguan orang-orang tersebut.

Kemudian Allah contoh kan, dalam surat At Taubah 129, seandainya orang-orang berpaling darimu (misal dalam dakwah), maka bertawakallah kepada Allah.

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ

Jika mereka berpaling darimu, maka ucapkan: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Yang berhak disembah kecuali Allah semata. Maka Hanya Kepada-Allah aku bertawakkal”.
Qs At Taubah : 129

Terkadang Allah kasih ujian berat, semua berpaling dari dia. Allah ajarkan supaya dia bertawakal kepada Yang Di Atas.

Jangan pernah berputus asa karena pintu langit tidak pernah tutup.

Kita butuh tawakal,
▫️Ketika kita berpaling dari orang-orang yang mengganggu kita
▫️Ketika orang-orang berpaling dari kita,padahal kita akan memberi kebaikan.

➡️Materi 45

Kondisi kita butuh tawakal Yang Allah sebutkan dalam tawakal, diantaranya.

➡️ Ketika kita ingin perdamaian atau mendamaikan orang-orang yang bersengketa. Qs Al Anfal ayat 61.

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah engkau kepada perdamaian dan bertawakkallah engkau kepada Allah.

Misal saat ribut dengan orang, atau mendamaikan orang maka kita harus tawakal kepada Allah.

➡️ KONDISI lainnya adalah ketika kita ditimpa musibah atau hal-hal yang tidak kita sukai (penyakit, bencana).

Untuk mudah sabar / tegar maka harus disertai tawakal.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Bahwasanya tidak akan menimpa kita kecuali apa yang telah Allah catatka kepada kita. Dialah Penolong kita, dan hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal kepada Allah”.
Qs At Taubah ayat 51.

➡️ Diantara Yang penting dalam segala ibadah, (sholat, haji, sedekah, sholat malam, itikaf, dll).

Karena kalau kita bertawakal maka segala urusan dimudahkan oleh Allah.
Sebagian orang menganggap tawakal hanya urusan dunia (menikah, cari rezeki, lamar kerja).

Allah isyaratkan dalam surat Hud ayat 123.

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Beribadahlah kepada Allah dan bertakwal kepada Allah.

Allah gandengkan antara ibadah dan tawakal,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Maka Nabi ﷺ mewasiatkan Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu untuk senantiasa bertawakal dalam ibadah,

يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Wahai Muadz jangan engkau lupa untuk berdoa setiap di setiap penghujung sholat.

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir (Ingat Allah – ibadah) , bersyukur (termasuk ibadah) dan beribadah yang baik pada-Mu).”

➡️Materi 46

Diantara kondisi kita butuh tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu ketika kita khawatir akan godaan syetan yang sangat kuat. Dalam kondisi tertentu kita tidak kuasa menghadapi godaan syetan.

➡️Ingat syetan tidak menguasai orang-orang yang bertawakkal.

Bila kita bertawakal maka kita akan mampu menahan godaan syetan.

Dalam surat An-Nahl ayat 99

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak punya kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb mereka

Yang jadi masalah kita sering terjerumus kepada godaan syetan karena kita kurang tawakal.

Mungkin terlalu PD dengan iman, ilmu, pengalaman kita.

Allah juga ajarkan bila Kita ingin meraih surga yang tinggi maka hendaknya kita bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman, tatkala menjelaskan sifat-sifat penghuni surga,

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا۟ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةًۭ ۖ وَلَأَجْرُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ

Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar(daripada yang di dunia) , kalau mereka mengetahui, Surat An-Nahl (16) Ayat 41

Siapa mereka?

الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

(yaitu) orang-orang yang sabar dan bertawakkal kepada Allah.
An-Nahl (16) Ayat 42

Sungguh indah bila keduanya tergabung pada seseorang (sabar dan tawakal).

➡️ Demikian juga diantara keutamaan tawakal, yaitu jika engkau ingin meraih kecintaan Allah kepada mu (diantara Aqidah Ahlussunnah Wal jamaah, Allah memiliki sifat Mencintai, Allah dicintai dan Allah mencintai).

Yaitu dengan bertawakal, semakin besar tingkat tawakal seseorang maka Allah akan semakin mencintainya.

Allah berfirman,

فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)
Bertawakallah kepada Allah, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.

Kita jangan PD, serahkan semua kepada Allah, kita tinggal berikhtiar.

Intinya barangsiapa bertawakal kepada Allah maka Allah cukup baginya.

Seperti firman Allah,

{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah cukup baginya. (Ath-Thalaq: 3)

Allah akan penuhi urusannya.
Allah akan mudahkan urusannya. Dia tidak perlu kepada makhluk.

Allah sebaik-baik tempat bersandar.

وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
Bertawakallah kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai wakilmu (pengurus mu).

Yaitu mengurusi segala keperluan, segala gerak gerik kita, dengan syarat kita bertawakal kepada Allah.

➡️Materi 47

Diantara keistimewaan tawakal kepada Allah adalah dimudahkan urusannya.
Diantaranya tawakal dalam mencari rezeki. Imam Ibnu Rojab Al Hambali dalam kitabnya Jami’ul Ulum Wal Hikam menyebutkan, “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang tinggi kemudian berusaha meskipun usahanya tidak maksimal, bisa mendatangkan rezeki yang banyak.”

Dalilnya adalah Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya maka Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung, lihatlah burung pergi di pagi dalam keadaan perut kosong dan pulang sore hari dalam kondisi perut sudah kenyang.

Padahal burung tidak punya kemampuan berfikir seperti manusia (cari untung banyak), namun burung punya tawakal yang sangat tinggi dan hanya berusaha semampunya, namun Allah memudahkan rezeki baginya.

Karenanya dalam shahih Muslim Rasulullah ﷺ memuji orang-orang yang hatinya seperti burung,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

“Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung.” (HR. Muslim).

Para ulama menjelaskan bahwasanya mereka bertawakal kepada Allah.

Kenapa dikhususkan burung? Yaitu bertawakal dalam mencari rezeki.

Kadang tawakal kita kurang dalam mencari rezeki misalnya menyadarkan pada kemampuan kita, pengalaman kita, kehebatan kita.

Beda dengan burung yang tidak tahu akan cari untung, kapan musim ini itu dst.

Dari sini kita perbaiki tawakal dalam mencari rezeki, kita menaikkan level tawakal kita.
Tawakal kepada sang Maha Pemberi rezeki.

KALAU tawakal kita benar kepada Sang pemberi rezeki (tawakal yang tinggi dengan usaha yang sedikit), memudahkan kita memperoleh rezeki yang halal.

➡️Materi 48

Telah disebutkan bahwasanya untuk memudahkan meraih rezeki dengan memperbaiki tawakalnya, semakin seseorang kuat tawakal disertai usaha sedikit apalagi usaha nya baik disertai tawakal yang tinggi maka Allah akan memudahkan rezekinya.

Kita coba introspeksi diri kita, mungkin sebagian dari kita tawakalnya kurang.
Masih bersandar pada sebab-sebab materi.

Misalnya pada bank. Bahkan tawakal kepada Riba. Sebaiknya kita berusaha dengan Sebab-sebab yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ada sebuah syair dari Imam Syafi’i :

Aku bertawakal untuk urusan rezekiku pada Allah Sang Penciptaku, Dan aku yakin bahwasanya tidak ragu sama sekali Dialah Allah Yang akan memberi rezeki kepada ku. Apapun rezeki yang sudah tercatat padaku, maka tidak akan luput dari ku, meskipun rezeki tersebut berada di ujung dalam dasar lautan. Allah akan datangkan rezeki ku dengan karunia-Nya meskipun lisanku tidak memintanya. Karenanya buat apa hati ini tersiksa, menyesal, ketakutan tidak dapat rezeki sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membagi rezeki-Nya kepada makhluk.

{وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرض إِلا عَلَى الله رِزْقُهَا } [هود: 6]

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Huud: 6).

Kalau hewan yang tidak bisa berfikir seperti kita yang Allah jamin rezeki nya, bagaimana lagi dengan kita..

Semua ini adalah kehendak Allah, yang bila berkehendak hanya mengatakan, “Kun” Fayakun.
Tugas kita hanya tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati disertai ikhtiar.

kelasUF

KELAS UFA# Materi 39-40-41-42-43 : Tawakal KELAS UFA# Materi 49-50-51-52-53 : HAKIKAT TAWAKAL
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?