This entry is part 7 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 09:24

9 menit membaca

Kelas UFA Materi 39-40-41-42-43

➡️ Materi 39 Bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Imam Ahmad pernah berkata, “bertawakal kepada Allah adalah salah satu amalan hati”.

Pembahasan tawakal adalah sangat penting saat ini karena banyak orang tergantung kepada sebab, terpikat kepada materi. Dan lupa untuk bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau berobat mereka sandarkan kepada dokter.
Kalau bekerja, mereka sandarkan pada bossnya.
Kalau belajar, disandarkan pada usahanya.

Kita memang diperintahkan untuk berikhtiar tapi hati kita harus tetap kita sandarkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Saat pandemi hati kita sandarkan pada vaksin, pada obat. Itu baik namun masalah hati harus diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan kepada sebab yang kasat mata, karena Allah lah mengatur semua alam semesta ini.

Oleh karenanya Nabi ﷺ diantara doanya adalah,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

Yaa hayyu yaa qoyyuum, birohmatika astaghiits, ashlih lii sya’nii kullah, wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ain.

Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (Yang Menegakkan Yang Lainnya), dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan kepada Engkau, perbaikilah segala urusanku, dan jangan Kau serahkan diriku kepada kepadaku meskipun hanya sekejap mata.

Seolah-olah, berkata,”Aku serahkan segala urusanku kepada Mu”.

Tawakal secara bahasa diambil dari
وك ل – ت و ك ل
Wakkala-tawakkala

Wakkala = menyerahkan urusan kepada pihak lain.

Seringkali kita katakan : Wakil saya si fulan.
Maksudnya adalah saya menyerahkan urusan saya kepada dia, dia yang menjalankan urusan saya.

Al ya’timat = bersandar
Tafidh = menyerahkan urusan.

Secara istilah / terminologi, tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyandarkan hati kepada Allah dalam segala urusan kita.

Definisi dari Syaikh As Sa’di : hakikat tawakal kepada Allah yaitu seorang hamba mengetahui bahwa segala urusan perkara adalah milik Allah, bahwasanya apa yang Allah kehendaki akan terjadi, dan apa yang Allah tidak kehendaki tidak terjadi. Dialah Allah Yang Memberi Manfaat dan juga memberi mudharat, Dialah Allah Yang Maha Memberi dan Menahan, Tidak ada daya kekuatan kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, setelah seorang hamba yakin akan hal ini, Maka dia dengan hatinya bersandar kepada Rabbnya, dalam rangka untuk meraih kemaslahatan yang berkaitan dengan agama maupun dunianya, dalam rangka juga untuk menolak kemudhorotan dan dia benar-benar percaya kepada Allah dalam rangka meraih apa yang dia cari. Disertai dengan dia menyandarkan hatinya kepada Allah, dia juga berusaha melakukan sebab (ikhtiar), maka kapan seorang hamba senantiasa menghadirkan ilmu ini dalam dirinya yaitu meyakini segala sesuatu di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa menghadirkan dalam hatinya dan menyandarkan diri kepada Allah dan percaya kepada Allah, maka dia telah bertawakal kepada Allah secara sungguh-sungguh.
Dan hendaknya dia bergembira bahwasanya Allah akan mencukupkan urusannya dan Allah telah memberi janji janjinya pada orang-orang yang bertawakal.

❗Intinya tawakal secara istilah adalah menyerahkan urusan kepada Allah, menyandarkan hati kepada Allah dalam segala urusan disertai dengan ikhtiar

➡️ Materi 40 Urgensi Tawakal

1. Sebab masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab

Dalilnya adalah, Rasulullah ﷺ bersabda,

وَمَعَهُم سَبْعُوْنَ أَلْفَاً يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ

Diantara umatku ada yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Dalam riwayat lain Rasulullah ﷺ minta tambah,

فَاسْتَزَدْتُ رَبِّي فَزَادَنِي مَعَ كُلِّ أَلْفٍ سَبْعِيْنَ أَلْفًا

Maka akupun minta tambah kepada Rabbku, maka Rabb-ku memberi tambahan kepada ku, diantara 70 ribu orang tersebut, setiap seribu bawa 70 ribu orang.

Oleh karenanya berdasarkan hadits ini orang yang akan masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab adalah :
70.000 x 70, tambah
70.000 yang awal,
Kira-kira 70.000 x 71 = 4.970.000 orang.

Dan ini jumlah yang lumayan dibanding yang awalnya hanya 70 ribu.

Apa sifat-sifat orang-orang tersebut yang masuk surga tanpa adzab tanpa hisab.

Ketika Nabi ﷺ menyampaikan hal tersebut,
Rasulullah ﷺ kemudian masuk ke rumahnya,

ثُـمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ النَّاسُ فِـي أُولَئِكَ

Kemudian para shahabat saling berbicara satu dengan yang lainnya, ‘Siapakah gerangan mereka itu?’

فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ اللهِ

Ada diantara mereka yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka itu sahabat Rasulullâh ﷺ, yaitu orang yang spesial yang bersahabat dengan Nabi.’

فَقَالَ بَعْضُهُمْ فَلَعَلَّهُمُ الَّذِينَ وُلِدُوا فِـي اْلإِسْلاَمِ وَ لَـمْ يُشْرِكُوا بِاللهِ وَ ذَكَرُوا أَشْيَاءَ فَـخَرَخَ عَلَيْهِمْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ مَا الَّذِي تَـخُوضُونَ فِـيهِ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَرْقُونَ وَلاَ يَسْتَرْقُونَ وَ لاَ يَتَطَيَّرُونَ وَ عَلَى رَبِّـهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Ada lagi yang mengatakan: ‘Mungkin saja mereka orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam dan tidak pernah berbuat syirik sama sekali.’ dan menyebutkan pendapat yang lainnya. (mereka diskusi)

Kemudian mereka bertemu dengan Nabi ﷺ dan memberitahukan hal tersebut kepada beliau.

Beliau ﷺ menjelaskan : ‘Mereka itu adalah orang yang sifatnya tidak pernah minta diruqyah, tidak meminta disembuhkan dengan besi yang dipanaskan (kay) dan tidak pernah melakukan tathayyur (meyakini pamali) dan mereka bertawakkal kepada Rabb mereka.’

➡️Jadi ciri utama mereka adalah bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mereka tidak mau dan tetap tawakal Padahal,
Ruqyah boleh
Kay, pengobatan tradisional yang ada ketika itu, dan hukumnya makruh
Pamali mengurangi tawakal kepada Allah.

Jadi kalau orang yang tawakalnya sempurna, maka ini salah satu sebab masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mungkin sekarang kita pusing memikirkan hisab kita pada harta, lisan, pandangan, pendengaran, waktu kita, hati kita, hak kita untuk orang tua atau anak kita… Terlalu banyak masalah..

Jadi tawakal kepada Allah yang sempurna adalah amalan yang memudahkan kita masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

➡️ Materi 41
Diantara Urgensi tawakal, adalah bahwa tawakal adalah pengumpul keimanan.

Artinya seseorang tidak mungkin bisa bertawakal kecuali imannya kuat.

Ibnu Abbas berkata, “Tawakal kepada Allah adalah pengumpul keimanan.” diriwayatkan Al Bahaqi dalam Syawaul Iman.

Dan juga oleh muridnya Said bin Zubair dengan Lafazh yang sama.

Diantara buktinya adalah seseorang tidak bisa tawakal kecuali mengumpulkan 3 tauhid (Rububiyah, Asma wa sifat, Al Uluhiyah).

Tauhid Rububiyah yaitu meyakini bahwa segala perkara di alam semesta ini yang mengatur hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang Allah tidak kehendaki pasti tidak terjadi.

Jika Allah menghendaki,

إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Apabila Dia menghendaki sesuatu Allah hanya mengatakan : “Jadilah!” maka terjadilah ia.

Semua yang terjadi adalah atas izin Allah.
Semua selain Allah adalah sebab. Yang menentukan akibatnya adalah Allah. Penyandaran hatinya kepada Allah sangat kuat.

Demikian juga seorang tidak mungkin bertawakal kecuali dia memiliki keimanan kepada Tauhid Asma wa sifat dengan keimanan yang baik.

Diantara nama Allah adalah Al Wakil, Yang Maha Mengurusi hamba-hamba Nya.

Dalam Alqur’an datang sekitar 5 ayat.

Allah berfirman,

وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًۭا
Dan cukuplah Allah sebagai wakil mu, yaitu sebagai Yang Memegang Urusanmu.(Yang Maha Mengurusmu)

Dalam ayat lain,

وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًۭا
Dan cukuplah Rab-mu sebagai Wakil

Dalam ayat lain,

حسبنا الله و نعم الوكيل

Allah adalah sebaik-baiknya penolong dan pemegang urusan (Al Wakil).

Tatkala tahu bahwa Allah adalah ni’mal wakil maka kita serahkan segala urusan kepada Allah.

Suatu kehinaan bila seorang hamba serahkan urusan kepada yang semisalnya, makanya doa Rasulullah ﷺ adalah,

وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

dan jangan Kau serahkan diriku kepada kepadaku meskipun hanya sekejap mata.

Bila seseorang menyerahkan urusannya kepada selain Allah maka dia telah alami Al Khidlan, yaitu ditinggal oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian dia akan bisa bertawakal kepada Allah bila dia mengamalkan Tauhid Al Uluhiyah, bahwa tawakal adalah ibadah hati.

Yaitu hanya Allah yang berhak untuk kita serahkan segala urusan sepenuh hati.

Barangsiapa siapa yang hatinya bersandar kepada selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.

Misalnya orang pakai jimat dikatakan melakukan kesyirikan, karena hatinya bersandar kepada jimat.

Jadi benar kata Ibnu Abbas bahwa tawakal kepada Allah adalah pengumpul seluruh keimanan.

Dalam ayat lain Allah gandengkan tawakal dengan keimanan, seperti perkataan Nabi Musa kepada kaumnya,

وَقَالَ مُوسَىٰ يَـٰقَوْمِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ
Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Allah saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”.

Nabi Musa mempersyaratkan kalau kalian beriman buktinya adalah tawakal.

Dalam surat Al-Anfal, ayat 2

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَـٰنًۭا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah takut hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

Di sini juga dibandingkan iman dan tawakal,

Tawakal adalah puncak dari keimanan, bahkan kumpulkan segala bentuk iman termasuk Tauhid Uluhiyah, Rububiyah dan asma wa sifat.

➡️ Materi 42

Diantara Urgensi tawakal adalah Nabi mencontohkan untuk bertawakal dalam segala hal.

Diantara bukti kita tawakal adalah doa.
Setiap kita berdoa, itu berarti kita tawakal kepada Allah.

Orang yang paling banyak berdoa adalah orang yang paling bertawakal kepada Allah, karena dia tahu bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu bahwa yang mengurusi segala urusannya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi mencontohkan dalam segala hal berdoa, dari keluar masuk rumah/masjid/toilet, mau berhubungan dengan istri, masuk pasar, masuk daerah, akan Safar, pulang Safar, naik kendaraan, dzikir pagi petang, doa sebelum tidur.

Nabi ﷺ ketika keluar rumah, berdoa

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Bismillaah, tawakkaltu ‘alallaah, laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Dengan (tawasul dengan) nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

حَوْلَ
Tidak ada perubahan.
Bisa dari buruk ke yang baik, dari sakit menjadi sehat, kekurangan menjadi kecukupan.. Dll.

Semoga perubahan kondisi hanya Allah yang bisa merubah.

Ketika adzan kita dengar..

حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ . حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Marilah menuju kepada sholat
Marilah menuju kepada kemenangan

Kita jawab dengan

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Menunjukkan kalimat tawakal, Yaa Allah, aku tidak mampu untuk menyambut panggilan Mu, untuk sholat untuk menyambut kemenangan, untuk langkahkan kaki menuju masjid kecuali atas izin dari Mu (kekuatan dari Mu).

Maka dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Anas bin Malik,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’

Seketika itu setan-setanpun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya,

’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’ 

Dan seluruh doa menunjukkan kita tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

➡️ Materi 43

Diantara bukti tawakal adalah Rasulullah ﷺ berdoa sebelum tidur.

Diantaranya,

اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Allaahumma aslamtu nafsii ilaika, wa wajjahtu wajhii ilaika, wa fawwadhtu amrii ilaika, wa alja’tu zhohrii ilaika, roghbatan wa rohbatan ilaika, laa malja-a wa laa manjaa minka illaa ilaika, aamantu bikitaabikal-ladzii anzalta, wa binabiyyika-lladzi arsalta.

Ya Allah, aku serahkan jiwaku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharapkan (pahala-Mu) dan takut (adzab-Mu). Tiada tempat bersandar dan menyelamatkan diri dari (hukuman)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.

Ini doa yang terakhir kita ucapkan sebelum tidur, yang ada banyak kalimat tawakkal (serahkan urusan kepada Allah)

Saat tidur, apa yang terjadi kita nggak sadar, kita bertawakal kepada Allah, apakah kita akan meninggal atau tidak, masih bisa bangun atau tidak…

Diantara doa sebelum tidur adalah

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Bismika robbii wa dho’tu janbii, wa bika arfa’uhu, in amsakta nafsii farhamhaa, wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazhu bihi ‘ibaadakash-sholihiin.

Dengan nama Engkau, wahai Tuhanku, aku meletakkan lambungku. Dan dengan namaMu pula aku bangun daripadanya. Apabila Engkau menahan rohku (mati), maka berilah rahmat padanya. Tapi apabila Engkau melepaskannya, maka peliharalah jiwaku, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.

Ini juga doa/tawakal kepada Allah.. Serahkan urusan kepada Allah.

Diantara doa lainnya, dari Ibnu Abbas.

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ
“Allahumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu,

[Ya Allah, karena Engkau aku islam, aku beriman pada-Mu, aku bertawakkal pada-Mu, kepada Engkau aku kembali.

❗(doa lengkapnya Yang tidak disebut Ustadz)

وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ

wa bika khoshomtu. Allahumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillanii. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun”

dan aku mengadukan urusanku pada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada ilah selain Engkau yang bisa menyesatkanku. Engkau Maha Hidup dan tidak mati sedangkan jin dan manusia mati] ❗

Lanjutan Ustadz,

➡️Intinya semua doa adalah menunjukkan kita tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita berusaha menunjukkan kepada Allah bahwa setiap gerak-gerik kita, kita serahkan kepada Allah, jangan sekejap pun kita serahkan urusan kepada selain Allah.. Karena akan ditinggalkan oleh Allah.

Inilah yang kita ikrarkan dalam sholat kita,

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) }

Hanya EngkaulahYangKami beribadah dan  hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

إِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Inilah kalimat tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..

Maka Ikhwan dan Akhwat, Perbanyaklah doa karena setiap doa berarti kita bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala..

kelasUF

KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS KELAS UFA# Materi 44-45-46-47-48 : KEUTAMAAN TAWAKAL
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?