This entry is part 2 of 12 in the series Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

Diterbitkan pertama kali pada: 06-Okt-2020 @ 08:05

5 menit membaca

KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #2
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA

Ini semua kaidah mulia dalam Al Qur’an.
Mari kita niat kan untuk mengamalkan kaidah-kaidah ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang terbaik ….[al-Isra/17:9]

Akan mengatur jiwa kita dalam muamalah dengan keluarga dan masyarakat dan juga kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kaidah 4. Jujur dengan diri sendiri

Allah berfirman,

بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia lebih tahu jiwamya sendiri (daripada orang lain). Meskipun dia menyampaikan alasan-alasannya untuk membela dirinya”. (Surat Al-Qiyamah: 14-15).

Ini berkaitan dengan kondisi di akhirat kelak. Yang berusaha membela diri dengan berbagai alasan.

بَصِيرَةٌ
Penambahan ta marbutoh ini bermakna benar-benar mengetahui.

Ayat ini berkaitan dengan jiwa kita dan Allah menyuruh kita untuk mensucikan jiwa kita.

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا (1) وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا (2) وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا (3) وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا (4) وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا (5) وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا (6) وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9)

Demi matahari dan cahayanya dipagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (penciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, Qs Syam 1-10.

Allah menyebutkan perintah sucikan jiwa setelah bersumpah dengan banyak hal lain.

Beberapa penggunaan kaidah ini.
Bagaimana bermuamalah dan sikapi jiwa diri sendiri.

Prakteknya..

A. Bagaimana mensikapi dalil Alqur’an dan As-Sunnah.

Terkadang kita berat, tapi kita harus jujur. Jiwa kita terpengaruh dengan 2 hal, hawa nafsu dan kepentingan.

Jangan sampai kita memilih pendapat sesuai hawa nafsu kita.

B. Dalam mengurusi aib-aib sendiri agar lalai dari aib orang lain

Coba kita periksa aib-aib atau kesalahan sendiri saat bermuamalah dengan keluarga, saudara sendiri.

C. ketika bertikai dengan orang lain

Sebenarnya jiwa kita tahu kita salah atau tidak. Maka kita harus jujur.. Kalau kita punya salah.

Faidah dari kaidah ini diantaranya,

A. Jangan teroedaya dengan banyaknya pujian dan pengikut

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata,

“Seandainya dosa itu memiliki bau [tidak sedap] maka nescaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.”

B. Jangan emosi dengan cercaan orang

Bila cercaan orang itu benar ada pada kita, maka itu berarti aib kita diketahui orang tersebut.

C. Belajar mengenal keburukan sendiri dan berusaha memperbaikinya
Ini berkaitan dengan kekurangan diri dalam bermuamalah.

Mulai kita muhasabah diri untuk perbaiki diri.

D. Belajar mengakui dosa-dosa di hadapan Allah

Misalnya merenungkan status tulisan kita, komentar kita dll.

Bermuamalah dengan jiwa yang jujur dan diterapkan dengan orang lain..

Kaidah 5

وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى

Dan sesungguhnya telah merugi orang yang berdusta. (Thaha 61)

Ayat ini berkaitan dengan kisah duel nya antara Nabi Musa dan para penyihir Firaun.
Sebelum duel Nabi Musa menasihati dengan mengatakan ayat tersebut dan membuat mereka bimbang.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan Allah telah menjamin orang yang dusta akan rugi dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepadanya.

Kata
افْتَرَى
Dalam Qur’an ada 3 makna
1. Dusta (paling banyak).
2. Kesyirikan
3. Kedzaliman

Yang paling parah adalah berdusta atas nama Allah.
Yang kedua berdusta atas nama Nabi
Dan juga dusta berkaitan hak-hak orang lain.

Para ulama mengatakan “Kejujuran adalah keselamatan.”

Nabi shallallahu alaihi wasallam menjelaskan orang yang dusta dalam berdagang akan dicabut keberkahannya walaupun kelihatannya untung.

Contoh Ayat berdusta atas nama Allah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah Qs Al An’am ayat 93.

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Jadi harus ada dalil.

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ 

“Jangan katakan atas sesuatu yang disipati oleh lisan kalian yang dusta; ini halal dan ini haram, untuk mengadakan kedustaan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang berdusta atas nama Allah tidak akan mendapatkan kemenangan.” (an-Nahl: 116)

Oleh karena itu para ulama dahulu sangat hati-hati dalam mensifati suatu permasalahan.

Dusta atas Nabi dengan membuat hadits-hadits palsu.

Bahkan banyak beredar motivasi dengan hadits palsu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jaman medsos, kedustaan sangat mudah tersebar.

Penulis menyebutkan contoh akibat buruk berdusta kepada orang lain..

– berdusta untuk menjilat penguasa dengan akibat buruk.
– membuat dusta untuk menceraikan pasangan suami istri dan akibat buruk di akhir hidup mereka yang dusta.
– berdusta untuk menghancurkan masa depan seseorang, akibat buruk sering mengalami kecelakaan.

Dusta, mungkin menang sesaat walaupun akhirnya hancur..

Kaidah 6 Damai itu lebih baik.

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa [4] ; 128)

Dalam ayat lain,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Qs An Nisa ayat 35.

Damai itu lebih baik, dan perlu pengorbanan, tidak bisa mengharapkan semua hak nya dipenuhi.

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
Damai itu lebih baik..
Syarat, ada hak kita yang dijatuhkan.

Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yang bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah ke mana ia pergi sambil menangis (karena mengharapkan cinta Barirah, -pent). Air matanya mengalir membasahi jenggotnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada pamannya, Abbas, “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Barirah, “Andai engkau mau kembali kepada Mughits?!”

Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara (syafi’).” Barirah mengatakan, “Aku sudah tidak lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga pernah berusaha mendamaikan sahabat yang bertikai, sampai telat datang sholat yang telah diimami Abu Bakar.

Bahkan sebagian ulama berfatwa boleh mendamaikan pihak yang bertikai dengan uang zakat karena pentingnya perdamaian.

Kisah Ibnu Abbas yang mendamaikan orang-orang khawarij yang menentang Ali bin Abi Thalib.

##$$-aa-$$##

Kaidah Kehidupan Dalam AlQuran

KAIDAH-KAIDAH Kehidupan Dalam Al-Qur’an #1 KAIDAH-KAIDAH KEHIDUPAN DALAM AL-QUR’AN BAGIAN#3
Bagikan Catatan:

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?