MAKNA DOA DAN DZIKIR – 43
Diterbitkan pertama kali pada: 18-Mei-2024 @ 06:16
6 menit membaca*MAKNA DOA DAN DZIKIR – 43*
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
10 Dzulqaidah 1445H/18.05.2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah Allah mudahkan kita duduk di majelis ilmu.
➡️ *Kita lanjutkan dengan membaca kitab Hisnul Muslim*
6️⃣3️⃣ *Do’a untuk minta hujan*
Doa ini tidak harus dilakukan saat sholat, yaitu sholat istisqa. Dikenal dengan doa istisqa. Boleh dibaca saat khutbah, dan saat lainnya.
⛰️ DOA 1
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa saat meminta hujan..
اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ
Allaahummas qinaa ghaitsan mughiitsan marii’an mari’an naafi’an ghaira dhaarrin, ‘aajilan ghaira aajilin.
“Ya Allah! Berilah kami hujan yang merata, menyegarkan tubuh dan menyuburkan tanaman, bermanfaat, tidak membahayakan. Kami mohon hujan secepatnya (segera) , tidak ditunda-tunda.” [HR. Abu Dawud]
➡️ Faidah
1. Dianjurkan untuk sholat istisqa (sholat meminta hujan.
2. Afdhal nya sholat istisqa dilakukan secara jamaah, dan tata cara nya seperti sholat Ied. Jadi boleh sholat istisqa tidak berjamaah. Dengan surat yang dibaca adalah bebas. Ada hadits terkait bacaan dengan surat tertentu namun hadits nya dhaif.
Rasulullah ﷺ pernah mendirikan di lapangan sebelah Masjid Nabawi, saat ini dibangun Masjid Ghomamah (awan yang berkumpul).
3. Dianjurkan Imam/Khatib keluar (ke lapangan) dan memberi nasihat untuk banyak taubat /istighfar, anjuran tinggalkan pertikaian, perbanyak sedekah terutama sedekah wajib (zakat).
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَمْ يَمْنَعْ قَوْمٌ زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ , وَلَوْلا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا.
“Jika suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, maka mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.”
4. Dari Ibnu Abbas – Nabi shallallahu alaihi wasallam berjalan dalam kondisi merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Khutbah bisa dilakukan sebelum atau setelah sholat.
Isi khutbah – anjuran banyak istighfar, taubat, sedekah..
Tutup dengan doa istisqa.
Imam angkat kedua tangan saat baca doa, dan makmum juga angkat tangan serta aminkan doa. (satu-satunya khutbah dengan makmum boleh angkat tangan dan aminkan doa).
Adapun saat khutbah Jumat, kita boleh aminkan tapi tidak perlu angkat tangan.
Nabi ﷺ angkat tangan sampai kelihatan ketiak nya.
Ada khilaf ulama arah telapak tangan, ada yang keatas atau dibalik (kebawah) dengan hikmah turun hujan.
Ulama ada yang berpendapat bahwa doa dengan telapak tangan ke arah bawah untuk angkat bala’.
Kemudian Nabi ﷺ balik ke arah kiblat dan balikan surbannya. Ini sebagai bentuk Nabi ﷺ optimis Allah akan balikan keadaan.
Kalau hujan tidak turun – turun, dianjurkan untuk sholat istisqa lain, di hari yang lain.
Sholat istisqa ini sudah ada sebelum Islam.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Sulaiman alaihissalam melihat kumpulan semut yang berdoa meminta hujan.
Ulama ada yang melemahkan hadits ini.
Nabi Musa alaihissalam pernah meminta hujan.
Surat Al-Baqarah (2) Ayat 60
۞ وَإِذِ ٱسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ فَقُلْنَا ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ ۖ فَٱنفَجَرَتْ مِنْهُ ٱثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًۭا
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.
⛰️ DOA2
Ada seorang sahabat radhiyallahu masuk masjid saat Nabi ﷺ berkhotbah, meminta solusi dari Nabi karena harta benda mereka habis dan Nabi ﷺ berdoa dengan angkat tangan (saat khutbah Jumat)
اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا
Allaahumma ‘aghitsnaa, Allaahumma ‘aghitsnaa, Allaahumma ‘aghitsnaa.
“Ya Allah! Berilah kami hujan. Ya Allah, turunkan hujan pada kami. Ya Allah! Hujanilah kami.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dari Anas bin Malik, beliau menceritakan: Ada seorang laki-laki memasuki masjid pada hari Jum’at melalui arah darul qodho’. Kemudian ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menghadap kiblat sambil berdiri. Kemudian laki-laki tadi pun berkata, “Wahai Rasulullah, ternak kami telah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan (karena tidak ada pakan untuk unta, pen). Mohonlah pada Allah agar menurunkan hujan pada kami”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu beliau pun berdo’a,
اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا
“Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan pada kami.”
Anas mengatakan, “Demi Allah, ketika itu kami sama sekali belum melihat mendung dan gumpalan awan di langit. Dan di antara kami dan gunung Sal’i tidak ada satu pun rumah. Kemudian tiba-tiba muncullah kumpulan mendung dari balik gunung tersebut. Mendung tersebut kemudian memenuhi langit, menyebar dan turunlah hujan. Demi Allah, setelah itu, kami pun tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian ketika Jum’at berikutnya, ada seorang laki-laki masuk melalui pintu Darul Qodho’ dan ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri dan berkhutbah. Kemudian laki-laki tersebut berdiri dan menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan, “Wahai Rasulullah, sekarang ternak kami malah banyak yang mati dan kami pun sulit melakukan perjalanan. Mohonlah pada Allah agar menghentikan hujan tersebut pada kami.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdo’a:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan”
Setelah itu, hujan pun berhenti. Kami pun berjalan di bawah terik matahari. Syarik mengataka bahwa beliau bertanya pada Anas bin Malik, “Apakah laki-laki yang kedua yang bertanya sama dengan laki-laki yang pertama tadi?” Anas menjawab, “Aku tidak tahu.” HR Bukhari dan Muslim.
➡️ FAIDAH
1. Boleh interaksi jama’ah dengan khatib. Bukan antara jamaah dengan jamaah yang lain. Misalnya Khatib menegur jamaah saat ada keributan. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menegur seseorang yang datang saat khutbah Jumat langsung duduk, ditegur untuk sholat tahiyatul Masjid dulu sebelum duduk.
⛰️ DOA3
اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
Allaahummasqi ‘ibaadaka wa bahaa’imaka wansyur rahmataka wa ahyi baladakal mayyit.
“Ya Allah! Berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu, hewan ternak, berilah rahmat-Mu dengan merata, dan suburkan bumi-Mu yang tandus.” [HR. Abu Dawud 1/305 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud 1/218]
➡️ 6️⃣4️⃣*Do’a apabila hujan turun*
اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Allaahumma shayyiban naafi’an.
“Ya Allah! Turunkanlah hujan yang bermanfaat.” [HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari 2/518]
➡️ FAIDAH
1. Saat hujan doa mustajab, berdoa yang lain sesuai kebutuhan.
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: do’a ketika adzan dan do’a ketika ketika turunnya hujan.” HR Al Hakim dan Al Baihaki.
2. Singkap sebagian pakaian supaya air hujan mengenai sebagian tubuh kita.
Main hujan boleh tapi bukan sunnah.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى
“Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.” HR Muslim
➡️6️⃣5️⃣ *Bacaan setelah hujan turun*
مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ
Muthirnaa bifadhlillaahi wa rahmatihi.
“Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi ﷺ melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya.
Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama’ah shalat, lalu mengatakan, ”Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?”
Kemudian mereka mengatakan,”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”.
(kalau saat ini boleh ucapkan yang demikian kalau ada pertanyaan terkait halal haram)
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,
« أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ. فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا. فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ »
“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” HR Bukhari dan Muslim.
Semoga bermanfaat.
#hujan #istisqa #kufur #bintang #
##$$-aa-$$##


