This entry is part 7 of 25 in the series Tafsir Al A'raf

Diterbitkan pertama kali pada: 30-Mei-2021 @ 20:43

5 menit membaca

📖 TAFSIR QS AL A’RAF#7: AYAT 52 -56
👤Ustadz Dr Firanda Andirja MA
🗓️ 19 Syawal 1442H
🕌 Masjid AlIkhlas Dukuh Bima (zoom)

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنٰهُمْ بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلٰى عِلْمٍ هُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami telah perinci atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 52)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini menjelaskan bahwa Al Qur’an telah menjelaskan hujah-hujah secara terperinci, dan Allah yang lebih tahu atas segala sesuatu.

Perincian itu atas dasar Ilmu, dari Dzat Yang Maha Mengetahui secara detail, sehingga tidak ada yang salah.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا تَأْوِيْلَهٗ ۗ يَوْمَ يَأْتِيْ تَأْوِيْلُهٗ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ نَسُوْهُ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَآءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِا لْحَـقِّ ۚ فَهَلْ لَّـنَا مِنْ شُفَعَآءَ فَيَشْفَعُوْا لَـنَاۤ اَوْ نُرَدُّ فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَـعْمَلُ ۗ قَدْ خَسِرُوْۤا اَنْفُسَهُمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَا نُوْا يَفْتَرُوْنَ

“Tidakkah mereka hanya menanti-nanti bukti kebenaran (Al-Qur’an) itu. Pada hari bukti kebenaran itu tiba, orang-orang yang sebelum itu mengabaikannya berkata,

“Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran. Maka, adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu?”

Mereka sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri dan apa yang mereka ada-adakan dahulu telah hilang lenyap dari mereka.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 53)

Takwil Al Qur’an, terjadinya apa yang dijelaskan Al Qur’an, takwil juga bermakna terjadinya. (Lihat surat Yusuf).

Orang-orang kafir itu akan menyaksikan kebenaran Al Qur’an. Dan setelah mereka diadzab, mereka menyesal, penyesalan yang sia-sia.

Mereka harapkan syafaat (dan tidak ada yang memberi pertolongan) atau dikembalikan ke dunia untuk beramal sholeh (dan ini juga tidak mungkin terjadi).

Mereka adalah orang yang merugi. Yang mereka lakukan di dunia tidak ada manfaatnya sama sekali.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia jadikan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Rabb alam semesta.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 54)

Ini ayat Rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah ciptakan langit dan bumi dalam 6 hari.
Ada khilaf makna, namun dhahir nya adalah 6×24 jam. Karena saat itu hari belum berjalan.

❔Kenapa butuh 6 hari? Hikmah nya adalah.
Al Qurthubi mengatakan :

🔸1. Allah beri pelajaran untuk pelan-pelan.
🔸2. Agar nampak kekuasaan Allah, karena malaikat menyaksikan.
🔸3. Allah menjelaskan bahwasanya setiap segala sesuatu ada waktunya, maksudnya orang musyrikin arab tidak akan diadzab sekarang, tapi ada waktunya.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍۢ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍۢ

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.
Surat Qaf (50) Ayat 38

Dimana ayat sebelumnya adalah firman Allah yang menjelaskan kaum-kaum sebelumnya yang mendustakan kebenaran Allah.

Setelah selesai, Allah istiwa di atas Arsy, dan hukum-hukum mulai berlaku.

Allah istiwa di atas Arsy, bagaimana nya tidak tahu, seperti penjelasan Imam Malik.

Ketika Imam Malik (wafat th. 179 H) rahimahullah ditanya tentang istiwa’ Allah, maka beliau menjawab:

َاْلإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَمَا أَرَاكَ إِلاَّ ضَالاًّ.

“Istiwa’-nya Allah ma’lum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bid’ah, dan aku tidak melihatmu kecuali da-lam kesesatan.” Kemudian Imam Malik rahimahullah menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya.

Istiwa ada 3 makna. Dalam Al Qur’an.

1. Istiwa penunggang hewan
2. Istiwa di atas kapal
3. Istiwa kapal nabi Nuh di atas Judi.

Sehingga istiwa nya Allah tidak diketahui, karena kita juga tidak tahu bagaimana Allah. Namun Allah mengabarkan bahwa Allah istiwa di atas Arsy dan ini harus kita imani.
Inilah Aqidah Ahlussunnah Wal jamaah.

Proses siang malam tidak pernah terlambat, walaupun sudah berjalan jutaan tahun.

Matahari dan bulan adalah atas aturan Allah.
Segala penciptaan dan Pengaturan adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka dari itu mintalah hanya kepada Allah, jangan kepada wali-wali.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ 

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 55)

Semakin mereka butuh kepada Allah maka itu semakin tinggi di sisi Allah.
Dan orang yang paling butuh kepada Allah adalah Rasulullah ﷺ, begitu seringnya beliau berdoa. Saat di padang Arafah, beliau ﷺ berdosa dari Dhuhur sampai Maghrib.

Kita sering susah khusyu karena kebutuhan kita kepada Allah (tadorruk) kurang.

✅Kenapa doa dengan suara yang lembut.❔

1. Lebih menunjukkan kita beriman. Karena Allah Maha Mendengar.
2. Lebih beradap, tundukkan diri.
3. Lebih khusyu, lebih ikhlas, lebih konsen.

Hukum asal doa dan dzikir adalah dengan suara yang lirih.

Salah satu bentuk melampaui batas (i’tida’) adalah dalam berdoa.

Bentuk melampaui batas dalam berdoa,

1. Dalam sebuah hadits disebutkan,

Dari Abu Nu’amah bahwasanya Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu ‘anhu mendengar anaknya membaca doa : “Ya Allah berilah kami istana putih di sisi kanan Surga”.

Maka dia berkata kepada anaknya : “Wahai anakku mintalah kepada Allah Surga dan berlindunglah kepadaNya dari api Neraka, sebab saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّهُ سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ

“Akan muncul dari umatku sekelompok kaum yang berlebihan dalam berdoa dan bersuci” (Musnad Ahmad)

2. Berdoa kepada selain Allah.
Syirik adalah sebesar-besar melampaui batas dalam berdoa.

3. Berdoa dengan tidak tadhoruk, seakan-akan tidak butuh

4. Meminta yang tidak berhak untuk dia dapatkan. (Syaukani)
Misal meminta suatu yang mustahil.

5. Berdoa dengan angkat suara (teriak) – Syaukani.

✳️Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَ رْضِ بَعْدَ اِصْلَا حِهَا وَا دْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًا ۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 56)

Kerusakan, kerusakan maknawi.. Yaitu maksiat dan syirik.
Dan akhirnya dampaknya terus ke kerusakan fisik.

Ayat sebelumnya adalah adab berdoa secara dhahir, dan ayat ini terkait hati kita yang harus takut dan berharap.

Al jazaa min jinsil ‘amal….Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.

Tanya jawab.

▶️1. Dimana Allah sebelum alam diciptakan?

Jawab. Allah sendirian kemudian menciptakan alam diluar Allah.
Alam itu sangat kecil.

Ada syubhat kalau Allah di atas langit berarti butuh tempat. Ini tidak benar, karena langit dan bumi itu dalam genggaman Allah.

Justru langit dan bumi yang butuh kepada Allah.

Langit di atas bumi, dan langit tidak butuh bumi, dan langit jauh lebih besar dari bumi.

Syubhat sifat-sifat Allah ini karena pengaruh filsafat,hanya logika yang salah.

Padahal sifat Allah itu Allah sebutkan dalam Al Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , dan Al Qur’an serta hadits adalah petunjuk, bukan tipuan….

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Digita Template

Tafsir Al A'raf

TAFSIR QS AL A’RAF#6: AYAT 44 -51 TAFSIR QS AL A’RAF#8: AYAT 57-64
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?