MEMILIH GURU – FIQIH BERMAHDZAB
Diterbitkan pertama kali pada: 07-Agu-2024 @ 17:53
6 menit membacaMEMILIH GURU – FIQIH BERMAHDZAB
Ustadz Ammi Nur Baits
17 Muharam 1446H / 10 Agustus 2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
Buku yang Ustadz tulis terkait materi ini adalah fiqih bermahdzab.
Beragama itu adalah sebuah perjalanan yang panjang yang titik akhirnya adalah suasana yang menggembirakan.
Perjalanan panjang untuk kebahagian adalah perjalanan yang ada rambu-rambu aturan supaya perjalanan kita selamat.
Diantara rambu itu ada dalil. Sebagian kaum muslim tidak faham dalil dan ada juga yang salah menerapkan dalil.
Dalam agama ada ulama, Ustadz, guru… Apakah setiap orang yang berbicara agama layak disebut guru, layak diambil ilmunya?
Di masa sahabat tidak dikenal mahdzab, Yang baru muncul setelah lewat jaman sahabat.
Ustadz menulis buku Fiqih bermahdzab, yang isinya panduan cara beragama..
Isi buku secara garis besar adalah berkurang nya kualitas bumi. Nilai bumi akan bagus bila kualitas takwa, tawakal manual bagus.
Kondisi Bani Israel yang ditinggal hanya 40 hari oleh Nabi Musa Alaihissalam, mereka sudah menyembah anak sapi.
Lihatlah kaum nya Nabi Isa, gak berapa lama, ajaran nya juga sudah diubah, gak sampai 6 abad, ajaran tauhid sudah gak nampak lagi kecuali segelintir orang yang ahli kitab beneran.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا}
Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya. (Al-A’raf: 56)
Kerusakan yang dimaksud adalah berbuat kemaksiatan, merubah syariat dst.
Bila ulama makin banyak yang meninggal artinya kualitas bumi menurun.
Lihatlah bagaimana perbedaan kualitas generasi awal para shahabat dibanding dengan generasi-generasi berikutnya.
➡️ Tidak semua orang yang bicara agama layak diambil ilmu nya.
1. Dia berusaha menjalankan apa yang dia dakwahkan.
2. Lihat amaliah sehari-hari.
Misalnya tokoh agama yang ceramah agama nya bagus, tapi dari lingkungan sekitar orang tersebut tidak sholat jama’ah.
Jalan shahabat, sholat Jamaah adalah standar islam nya seseorang.
Ibnu Mas’ud berkata : orang yang meninggalkan sholat Jamaah maka dia divonis orang yang jelas kemunafikannya.
Dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Suatu hari, Rasulullah ﷺ salat Subuh bersama kami. Kemudian beliau berkata,
أَشَاهِدٌ فُلَانٌ
“Apakah si fulan hadir?”
Para sahabat menjawab, “Tidak.”
Rasulullah bertanya lagi,
أَشَاهِدٌ فُلَانٌ
“Apakah si fulan hadir?
Para sahabat menjawab, “Tidak.”
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ أَثْقَلُ الصَّلَوَاتِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ، وَلَوْ تَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَيْتُمُوهُمَا، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الرُّكَبِ
“Sesungguhnya dua salat ini (salat isya’ dan salat Subuh) adalah salat yang paling berat dikerjakan bagi orang-orang munafik. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada dalam keduanya -berupa pahala yang besar- niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Abu Dawud)
Orang yang munafik kalau sholat tujuannya adalah supaya manusia melihatnya. Jaman itu Isya dan subuh masih dalam keadaan gelap gulita.
3. Materi yang disampaikan, harus berdasarkan dalil.
❗Jangan hanya lihat orang yang jago retorika.
Simaklah perkataan Ibnu Mas’ud berikut, sebagaimana dikutip Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad,
“Sungguh, kalian ini berada pada zaman yang banyak ulamanya dan sedikit penceramahnya. Sedangkan zaman setelah kalian adalah zaman yang banyak penceramahnya dan sedikit ulamanya.”
Bisa jadi zaman itu sudah kita alami.
Hati-hati dengan orang yang pintar ngomong tapi gak punya ilmu, hal ini pernah di peringatkan oleh Rasulullah ﷺ,yang bersabda :
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah).
Jaman ini, orang yang sampaikan hadits palsu dianggap jujur, dan orang yang sampaikan hadits shahih dianggap dusta.
✅ Padahal kejujuran tertinggi adalah kejujuran dalam menyampaikan agama.
Amanah nya ulama adalah berani sampai ilmu walaupun itu pahit bagi masyarakat maupun bagi dirinya.
Kadang malah Dianggap sesat
Dianggap tekstual
Dianggap penipu
Ruwaibidhah itu apa yang disampaikan gak nyambung dengan petunjuk dari Rasulullah ﷺ.
‼️*Memilih guru itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Sehingga tidak bisa asal.*
Imam Syafi’i : aku ridho untuk jadikan Imam Malik sebagai hujjah antara aku dengan Allah.
🔸Memilih guru, dilarang untuk taklid. Karena tidak ada manusia yang perkataannya tidak pernah salah kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
“Semua orang bisa diterima dan ditolak ucapannya kecuali yang ada di dalam kubur ini (Rasul ﷺ)”
Ulama tidak ada yang paham 100 % agama, kadang ada 50%,70%, dst..
Kalau kepada Nabi ﷺ bukan taklid tapi Ittiba – mengikuti, sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam buku sifat sholat Nabi, para ulama
Mahdzab menasihati supaya memilih ayat atau hadits shahih daripada pendapat mereka bila keduanya bertentangan.
Ulama, kadang ulama sampaikan amalan hanya sampaikan dalil.
Kemudian ada yang jelaskan alasan pemilihan dalil. Kita boleh menerima atau menolak alasan tersebut.
Bila Ustadz sebutkan ikhtilaf, dengan alasan yang berdasar dalil, kita boleh berbeda pilihan yang pilihan Ustadz setelah di tarjih.
✅ Unsur ushul fiqih ada 4,yaitu
1. Sumber
2. Orang yang ambil sumber
3. Cara ambil kesimpulan dari sumber
4. Masyarakat yang ada disekitarnya.
➡️ Gambaran.
Ada sebuah pohon, pohon ini berbuah.
Ada orang-orang/masyarakat yang ingin buah, tetapi tidak semua orang bisa ambil buah itu.
Hanya orang-orang tertentu yang bisa ambil buah.
1. Pohon = dalil
2. Buah = hukum, yang disimpulkan dari dalil
3. Orang yang bisa ambil buah adalah ulama mujtahid
4. Masyarakat sekitar adalah murid-muridnya. Dan ini dibagi dua,
4.1 setelah dipetikkan buah, langsung dikonsumsi, tanpa mau tahu cara memetik buah.
4.2 ada masyarakat sekitar yang dia pelajari cara metik buah. Yang ditiru adalah proses – ijtihad. Inilah *Thalibul ilmi*.
➡️ Bolehkah berbeda pendapat dengan guru?
Berbeda pendapat dengan ulama tidak berarti menghina atau merendahkan ulama. Ini pernah disampaikan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
Banyak ulama yang berbeda pendapat dengan gurunya. Contohnya Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan Imam Malik yang adalah gurunya.
➡️ Kalau guru salah, bagaimana sikap kita?
✅ Tergelincir nya guru ada dua.
1. Karena maksiat – Ustadz juga manusia.
2. Guru sampaikan pendapat yang nyeleneh dan menyimpang. Ada 3 hal yang bisa kita lakukan.
🔸2.1 ketika tahu yang disampaikan salah, dan kita yakin itu salah maka tidak boleh diikuti. Namun tetap dihormati.
Lihatlah perselisihan antara Ali dan Muawiyah, dan kita tidak boleh merendahkan Muawiyah.
🔸2.2 wajib adil dalam menilai. Bila kita kenal beliau konsisten perjuangkan sunnah namun suatu saat tergelincir maka tetap kita anggap sebagai Ahlussunnah.
Lihatlah hadits ini,
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: – إِذَا كَانَ اَلْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ اَلْخَبَثَ – وَفِي لَفْظٍ: – لَمْ يَنْجُسْ – أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ. وَابْنُ حِبَّانَ
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika banyaknya air telah mencapai dua qullah (kulah) maka ia tidak mungkin mengandung najis.” Dalam suatu lafaz hadits, “(Jika air telah mencapai dua kulah), tidaklah najis.”
(Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai sahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibban).
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah berkomentar terhadap hadits ini : seorang ulama yang dikenal komitmen dengan sunnah, kebaikannya sangat banyak bagi masyarakat, ada satu titik dia salah maka jangan anda gunakan untuk menilai salah yang lain. Ini tidak adil.
🔸2.3 jangan disebarkan. Menyebarkan ketergelinciran ulama ada dua dampak buruk.
2.3.1 bisa jadi ada orang yang mengikutinya
2.3.2 bisa jadi kehormatan Ustadz ini tercoreng dan ganggu stabilitas dakwah.
❌ Kecuali..
Dia sampaikan kesalahan secara bebas dan didengar banyak orang dan Dia tidak ingin menghapusnya. ❗
Sehingga perlu ada bantahan yang sifatnya meluas juga.
➡️ Cara terimakasih kepada guru yang ilmu kita ambil.
Yaitu dengan mendoakan.
Dalam Muqaddimah kitab Riyadhus Shalihin, bagian akhir – aku berharap bagi yang telah menyelesaikan kitab ini semoga menjadi pembimbing bagi mereka yang punya perhatian untuk mendapatkan kebaikan, bisa menjadi penghalang baginya potensi kejahatan, dan aku minta kepada Saudara yang baca buku ini untuk mendoakan aku, orang tua ku, guru-guruku dan kaum muslimin.
Tidak ada ulama yang Meminta dipuji.
Pujian tidak berpengaruh pada kebaikan apapun.
Imam Ahmad selalu mendoakan gurunya Imam Syafi’i.
Semoga bermanfaat.
#milihguru #sunnah #salaf
##$$-aa-$$##
L


