8 menit membaca

*AGAR ALLAH TIDAK MURKA*
Ustadz Armin Akbar, Lc
21 Syawal 1446H /20 April 2025
Ba’da Subuh

Sebagaimana Allah punya sifat mencintai, Allah juga punya murka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيْهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِيْ ۚ وَمَنْ يَّحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِيْ فَقَدْ هَوٰى

“Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku maka sungguh, binasalah dia.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 81)

Makna melampaui batas atas rezeki.
1. Rezeki digunakan untuk bermaksiat kepada Allah.
2. Digunakan untuk kesombongan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَّقْتُلْ مُؤْمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآ ؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَا لِدًا فِيْهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهٗ وَاَ عَدَّ لَهٗ عَذَا بًا عَظِيْمًا

“Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 93)

Membunuh adalah dosa yang sangat besar. Imam Dzahabi meletakkan pada urutan kedua setelah syirik dalam Al Kabaair.

Ancaman akibat dosa membunuh, disebutkan ada lima.

1. Neraka
2. Kekal
3. Allah murka
4. Allah laknat
5. Disiapkan adzab yang besar

Ingatlah pada kisah Muhalim bin Jazimah yang jasadnya sering dimuntahkan bumi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ
“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 7)

Siapa yang dimurkai Allah = yahudi, punya ilmu tapi tidak diamalkan.
Nasrani = gak punya ilmu tapi semangat.

Hadits

Sesungguhnya Rahmat Allah mendahului murka Allah.

Allah murka kepada orang jahil ilmu agama tapi ahli dalam ilmu dunia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

“Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 7)

❓Apa tanda seseorang itu dimurkai Allah, supaya kita terhindar, bukan untuk menghakimi seseorang. Karena kita gak tahu akhir dari orang tersebut. (lihat hadits terkait takdir dari Allah)

1. Tidak disenangi oleh manusia.

Hadits – ketika Allah cinta atau benci seseorang.

عن أبي هريرة رضي الله عنه مرفوعًا: «إذا أحب الله تعالى العبد، نادى جبريل: إن الله تعالى يحب فلانا، فأحْبِبْهُ، فيحبه جبريل، فينادي في أهل السماء: إن الله يحب فلاناً، فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القَبُولُ في الأرضِ». وفي رواية لمسلم: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «إنَّ اللهَ تعالى إذا أحب عبدًا دعا جبريل، فقال: إني أحب فلانا فَأَحْبِبْهُ، فيحبه جبريل، ثم ينادي في السماء، فيقول: إن الله يحب فلاناً فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القَبُولُ في الأرضِ، وإذا أبغض عبدا دعا جبريل، فيقول: إني أبغض فلاناً فأبغضه. فيبغضه جبريل، ثم ينادي في أهل السماء: إن الله يبغض فلاناً فأبغضوه، ثم تُوضَعُ له البَغْضَاءُ في الأرض»

Dari Abu Hurairah -raḍiyallahu ‘anhu- secara marfu’, Jika Allah -Ta’ala – mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah -Ta’ala – mencintai si fulan, maka cintailah si fulan itu.” Jibril pun lalu mencintainya. Selanjutnya ia berseru di tengah-tengah para penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah oleh kalian semua si fulan.” Para penghuni langit pun mencintainya. Setelah itu, si fulan itu pun diterima (dicintai) orang di bumi. Di dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah -ṣallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Sesungguhnya Allah -Ta’ālā- apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.” Jibril pun mencintainya dan menyeru di langit. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah oleh kalian semua si fulan itu.” Orang itu pun dicintai oleh para penghuni langit. Setelah itu, si fulan itu pun diterima (dicintai) orang di bumi. Jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, “Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah engkau kepadanya.” Jibril pun membencinya lalu berseru di tengah-tengah penghuni langit, “Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka bencilah kalian kepadanya.” Mereka pun membencinya. Selanjutnya kebencian kepadanya diletakkan di bumi. Muttafaqun Alaihi.

Puncaknya ketika orang tersebut meninggal dunia.

Sunan Nasa’i 1906: Telah mengabarkan kepadaku [Ziyad bin Ayyub] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [Isma’il] dia berkata: telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘Aziz] dari [Anas] dia berkata: “Ada jenazah di usung, lalu jenazah tersebut dipuji dengan kebaikan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib.” Dan ada jenazah yang lain sedang diusung, lalu jenazah itu dikecam dengan keburukan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wajib.” Umar kemudian berkata: “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusannya! Ada jenazah diusung, lalu jenazah tersebut dipuji dengan kebaikan, kemudian engkau bersabda: “Wajib.” dan ada jenazah diusung, lalu jenazah tersebut dikecam dengan keburukan, kemudian engkau bersabda: “Wajib.” beliau bersabda: “Barang siapa yang kalian puji dengan kebaikan, wajib baginya surga dan barang siapa yang kalian kecam dengan keburukan, wajib baginya neraka. Kalian adalah saksi Allah di bumi.”

2. Dia cinta kepada apa-apa yang Allah benci (maksiat).

3. Jauh dari orang-orang sholeh, dan berteman dengan orang-orang yang buruk.

Ingatlah kisah bagaimana Abu Thalib yang berteman dengan Abu Jahal dan lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

4. Meremehkan apa yang diwajibkan oleh Allah.

Sesuatu yang diwajibkan Allah akan dicintai Allah.

Ini seperti dalam hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” HR Bukhari.

5. Tidak suka dinasihati.

Contoh… Ketika dinasihati – urus saja dirimu sendiri…

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُ اتَّقِ اللّٰهَ اَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِا لْاِ ثْمِ فَحَسْبُهٗ جَهَنَّمُ ۗ وَلَبِئْسَ الْمِهَا دُ

“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya Neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 206)

Nabi shallallahu alaihi wasallam,

وَإِنَّ أَبْغَضَ اْلكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُوْلَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ اتَّقِ اللهَ فَيَقُوْلُ عَلَيْكَ نَفْسَكَ

“Kalimat yang paling dibenci oleh Allah, seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah, tapi ia menjawab,”Urus saja dirimu sendiri.” (HR. Baihaqi dan Nasa’i).

Ambillah pelajaran dari kisah khalifah Harun al Rasyid yang ketika diingatkan rakyatnya, turun dari kuda dan sujud.

6. Memiliki sifat yang dibenci Allah (dusta, ghibah, khianat).

7. Suka pamer amal sholeh. Biasa terjadi pada orang-orang yang suka beramal sholeh.

8. Lalai urusan akhirat dan terlalu sibuk urusan dunia.

Nabi ﷺ  bersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah” (HR. Bukhari).

9. Melakukan dosa-dosa besar : riba, zina.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّٰهِ 

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani).

10. Lisan kotor.

11. Tidak peduli dengan penghasilan, haram atau halal.

Rasulullah ﷺ bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ, أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ ؟

Akan datang suatu masa, orang-orang sudah sudah tidak peduli lagi dengan apa dia mendapatkan harta. Apakah dari jalan yang halal ataukah dari jalan yang haram ? HR. Bukhari

12. Tidak sabar ketika ditimpa musibah.

Sabar = menahan.

13. Perhatiannya hanya pada manusia, tidak peduli dengan Allah (murka atau tidak)

14. Gak pernah berdoa kepada Allah.
Padahal Allah selalu kabulkan doa seseorang.

Di surat ghafir ayat 60, Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾

“Dan Rabb kalian berkata: ‘Berdoalah kalian kepadaKu, pasti Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari memohon kepadaKu, maka mereka akan masuk ke neraka jahannam dalam kondisi hina.’” (QS. Ghafir[40]: 60)

✅ Dampak dari Murka Allah

1. Dilaknat Allah, bahkan disebutkan sampai tujuh turunan.

2. Dibinasakan oleh Allah. Seperti kisah nabi Nuh, Nabi Sholeh. Ini tidak berlaku untuk umat Nabi Muhammad ﷺ.

أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَقْبَلَ ذَاتَ يَومٍ مِنَ العَالِيَةِ، حتَّى إذَا مَرَّ بمَسْجِدِ بَنِي مُعَاوِيَةَ دَخَلَ فَرَكَعَ فيه رَكْعَتَيْنِ، وَصَلَّيْنَا معهُ، وَدَعَا رَبَّهُ طَوِيلًا، ثُمَّ انْصَرَفَ إلَيْنَا، فَقالَ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فأعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً، سَأَلْتُ رَبِّي: أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالسَّنَةِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يُهْلِكَ أُمَّتي بالغَرَقِ فأعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بيْنَهُمْ فَمَنَعَنِيهَا

Sa’ad bin Abi Waqash mengatakan, bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ  tiba dari tempat yang tinggi. Ketika melewati masjid Bani Muawiyah, beliau masuk dan kemudian sholat dua rakaat. Mereka pun sholat bersama dan Nabi ﷺ memanjangkan doa kepada Allah lalu berpaling kepada mereka. Rasulullah ﷺ lalu bersabda, “Aku memohon tiga perkara kepada Allah, maka Allah memberiku dua perkara dan menolak satu perkara.

Aku memohon agar Dia tidak membinasakan umatku dengan kekurangan pangan yang menyeluruh, maka Dia mengabulkannya, tidak membinasakan mereka dengan ditenggelamkan, maka Dia mengabulkannya, dan tidak menimpakan permusuhan di antara mereka, maka Dia menolaknya.” (HR Muslim).

3. Terhalang mendapatkan rezeki.

Seseorang diharamkan rezeki karena dosa yang dilakukan.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS Al-A’raf : 96)

4. Terhalang untuk dapat ilmu.

5. Dicabut darinya kebersamaan khusus dengan Allah.

6. Dijadikan terus bermaksiat. Maksiat satu akan mengundang maksiat berikutnya.

7. Dicabut rasa malu dalam bermaksiat.

8. Doa tidak diijabah.

9. Dilupakan oleh Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman..

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةًۭ ضَنكًۭا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Surat Ta-Ha (20) Ayat 124

10. Gundah gulana, sedih.

11. Terhalang untuk Husnul Khatimah

12. Terdampak dosa dari kemaksiatan orang lain. Dosa jariyah.

Dalam sebuah hadits..

عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه

Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” HR Bukhari.

❓Cara hindari murka Allah.

1. Taubat – seperti tidak memiliki dosa.

2. Banyak istighfar.

3. Banyak beramal sholeh… Banyak sedekah (sedekah meredam murka Allah).

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“Sedekah rahasia itu bisa memadamkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Thabrani)

4. Berbakti kepada orang tua.

Dari Atha bin Yassar, ia berkata:

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

“Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih).

Semoga bermanfaat,

#maksiat #dosa #laknat #rezeki #adzab #terhalang #ilmu #malu

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?