KAIDAH SUCIKAN JIWA # MUHASABAH
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 14:40
4 menit membaca10 Kaidah Pensucian Jiwa-lanjutan (Muhasabah)
Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr
Ustadz Kholid Syamhudi
25 Dzulqaidah 1440 H
{يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ}
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu. (Al-Fajr: 27-28)
Yaitu ke sisi-Nya, ke pahala-Nya, dan kepada apa yang telah disediakan oleh-Nya bagi hamba-hamba-Nya di dalam surga-Nya.
{رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً}
dengan hati yang puas lagi diridai. (Al-Fajr:28)
Yakni hati yang puas karena mendapat rida dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
{فَادْخُلِي فِي عِبَادِي}
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. (Al-Fajr: 29)
Maksudnya, ke dalam golongan mereka yang diridai.
{وَادْخُلِي جَنَّتِي}
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr: 30)
Ada 4 kata Aflaha dalam Alqur’an.
وَقَدْ أَفْلَحَ ٱلْيَوْمَ مَنِ ٱسْتَعْلَىٰ
dan sesungguhnya beruntunglah oran yang menang pada hari ini. Qs Ta-Ha (20) Ayat 64
Menunjukkan bahwa orang yang sukses adalah orang yang menang.
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, QS Al-Mu’minun (23) Ayat 1
قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ
Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
QS Al-A’la (87) Ayat 14
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, QS Asy-Syams (91) Ayat 9
Allah menjelaskan ada 3 keadaan jiwa manusia..
1. *An Nafsul Mutmainah – tenang*
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Surat Ar-Ra’d (13) Ayat 28
Juga dalam ayat-ayat dalam surat Al Fajr diatas..
{يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ}
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu. (Al-Fajr: 27-28)
{فَادْخُلِي فِي عِبَادِي}
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. (Al-Fajr: 29)
عِبَادِي
Hambaku
Allah banyak menyebut kata ibaadi untuk memuji hamba-hamba-Nya.
2. *An Nafsul Lawamah.* (masih bagus)
وَلَآ أُقْسِمُ بِٱلنَّفْسِ ٱللَّوَّامَةِ
dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).
Surat Al-Qiyamah (75) Ayat 2
3. *Jiwa yang arahkan manusia untuk berbuat kemungkaran.* (buruk)
إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ
karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Qs Yusuf (12) Ayat 53
Jiwa kita mempunyai 3 keadaan semua itu, maka kita harus melatih diri untuk menjadikan jiwa kita pada keadaan jiwa yang terbaik..
Seorang hamba harus mempunyai pengetahuan tentang jiwa, maka perlu untuk muhasabah..
Orang yang buruk, tidak pernah muhasabah.
Itikaf dalam Ramadhan adalah termasuk untuk muhasabah..
Muhasabah harus dilakukan terus menerus, selama jiwa masih ada di kandung badan.
Nasihat Muhasabah dari orang-orang shaleh.
1. *Abu Bakar Ash Shidiq*
“Ketahuilah wahai hamba Allah, sesungguhnya kalian memasuki waktu pagi dan sore, berada pada batas ajal yang tidak terjangkau oleh pengetahuan kalian. Jika kalian mampu untuk menghabiskan batas ajal tersebut dalam keadaan beribadah kepada Allah, maka lakukanlah. Dan kalian tidak akan sanggup melakukannya kecuali dengan adanya pertolongan Allah. Karena itu bergegaslah beramal sebelum tiba ajal kalian, lalu dia mengembalikan kalian kepada amal-amal kalian yang paling buruk. Karena ada suatu kaum yang menyerahkan ajal mereka kepada orang lain, dan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Maka, aku melarang kalian untuk menjadi seperti mereka. Sesungguhnya di belakang kalian ada pengejar yang tangkas, dan bergerak begitu cepat (baca: kematian).”(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35572)
2. *Umar bin Khaththab*
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat). Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang (pada hari kiamat). Bersiaplah untuk tujuan yang agung, yaitu hari di mana tidak ada perkara samar yang tersembunyi.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 35600)
3. *Utsman bin Affan*
“Wahai keturunan Adam, ketahuilah bahwa malaikat maut yang ditugaskan kepadamu senantiasa mengintaimu dan meninggalkan orang lain sejak kamu berada di dunia. Seolah-olah dia berpaling dari orang lain dan menuju kepadamu. Maka waspadalah, siapkan dirimu dan jangan lalai. Karena sesungguhnya malaikat maut tidak pernah lalai darimu.
Ketahuilah wahai keturunan Adam, jika engkau lalai dari dirimu sendiri dan tidak membekali diri, orang lain tidak akan menyiapkan perbelakan bagi jiwamu, dan pasti akan ada pertemuan dengan Allah Ta’ala. Maka, persiapkanlah bekal bagi dirimu sendiri dan jangan menyerahkannya kepada orang lain.”
(Diriwayatkan oleh Abu Bakr Ad-Dainuri dalam Al-Majaalis wal Jawaahir no. 207)
4. *Ali bin Abi Thalib*
“Wahai manusia, yang paling aku takutkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu. Panjang angan-angan akan melalaikan kalian dari akhirat. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan menyesatkan kalian dari kebenaran.
Ketahuilah, bahwa dunia telah berlalu di belakang, sedangkan akhirat ada di depan. Dan keduanya (dunia dan akhirat), memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya di hari ini (di dunia) adalah waktu beramal dan tidak ada hisab. Sedangkan hari esok (di akhirat) adalah waktu dihisab dan tidak ada waktu lagi untuk beramal.”
(Diriwayatkan oleh Bukhari tanpa sanad dengan shighat jazm [ungkapan tegas] sebelum hadits no. 6417)
5. *Hasan Al Bashri*
“Seorang mukmin adalah pemimpin untuk dirinya sendiri, dia menghisab dirinya sendiri. Pada hari kiamat, hisab itu ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya sendiri ketika di dunia. Dan hisab itu berat bagi orang-orang yang tidak menghisab dirinya di dunia.”
(Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhd no. 307)
6. *Maimun bin Mihran* rahimahullahu Ta’ala berkata,
“Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia lebih intens mengoreksi diri sendiri, melebihi koreksi seorang terhadap rekan bisnisnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ dalam Az-Zuhd no. 239)
7. *Abdullah Ibnu Mubarak*
“Sesungguhnya orang-orang shalih terdahulu, mereka terbiasa melakukan kebaikan secara spontan/tanpa paksaan, sementara diri-diri kita ini nyaris tidak terbiasa (berbuat kebajikan) melainkan harus dengan paksaan. Karena itu sepatutnya kita memaksa diri kita (agar terbiasa melakukan kebaikan).”
(Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 47).
##$$-aa-$$##


