JANGAN KAU SAKITI SAUDARAMU
Diterbitkan pertama kali pada: 17-Sep-2023 @ 08:29
7 menit membaca*JANGAN KAU SAKITI SAUDARAMU*
Ustadz Armin Akbar, Lc
2 Rabi’ul Awal 1445 H/17 sept 2023
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
✅ Muamalah itu ada 3.
1. Muamalah dengan kedzaliman, hukumnya dilarang. Kedzaliman biasanya dari orang-orang yang punya kelebihan (harta, kuasa, fisik).
2. Muamalah Dengan keadilan
3. Muamalah dengan Al Fadhl.
Efek samping dari orang melakukan kedzaliman adalah
1. disegerakan adzab di dunia.
Abu Bakrah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
”Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [diakhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Abu Dawud)
2. Doa orang yang di dzalimi.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الله حِجَابٌ
Artinya : ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah”.
(H.R. Bukhori dan Muslim)
3. Bangkrut di akhirat.
أَتَدْرُونَ مَا المُفْلِسُ؟ قَالُوا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لَيْسَ لَهُ دِرْهَمَ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ: إِنَّ المُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Artinya : “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”.
Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda”.
Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dikalangan ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tapi ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan, sementara belum selesai pembalasan tindak kedzalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya, kemudian diapun dicampakkan kedalam neraka”.
(H.R. Muslim)
Imam Syafi’i : seburuk-buruk bekal yang kita bawa ke akhirat adalah kedzaliman kepada orang lain.
Imam Ats – Tsaury : Sesungguhnya engkau berjumpa dengan Allah dengan membawa 70 dosa kepada Allah, maka itu lebih ringan daripada satu kedzaliman kepada manusia.
➡️ Bentuk kedzaliman
1. Hutang tapi gak dibayar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)
2. Tidak membayar imbalan
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).
2️⃣ Muamalah dengan keadilan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ، مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ
“Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim dan Abu Dawud)
Berikan balasan yang setimpal.
3️⃣ Muamalah Al Fadhl.
Dibalas dengan lebih baik.
1. Setiap manusia pasti berbuat kesalahan.
Namun Allah menunda adzab.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّا سَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَآ بَّةٍ وَّلٰـكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـأْخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 61)
2. Allah beri pahala yang sangat besar.
Bahkan hanya dengan niat namun terhalang udzur.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari)
Dan kita masuk surga karena rahmat Allah, dalam hadits disebutkan,
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
➡️ Contoh muamalah Al Fadhl :
🔹1. Balas kebaikan dengan kebaikan atau lebih.
Dari Jabir bin Abdillah Al Ansahary, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرْوُفٌ فَلْيُجْزِئْهُ، فَإِنْ لَمْ يُجْزِئْهُ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ، وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ، وَمَنْ تَحَلَّى بَمَا لَمْ يُعْطَ، فَكَأَنَّمَا لَبِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, hendaklah dia memuji orang tersebut, karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya. Jika dia menyembunyikannya, berarti dia telah mengingkari kebaikannya. Seorang yang berhias terhadap suatu (kebaikan) yang tidak dia kerjakan atau miliki, seakan-akan ia memakai dua helai pakaian kepalsuan.”
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma di masa kecilnya pernah menginap di rumah Maimunah bintu al-Harits radhiallahu ‘anha, bibinya. Maimunah sendiri adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunda kaum muslimin. Saat itu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menyiapkan air untuk wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban Maimunah bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma lah yang melakukannya, beliau pun berdoa untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ
“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”
🔹2. Memaafkan kesalahan orang lain.
Perhatikan kisah bagaimana Nabi Yusuf memaafkan saudaranya yang berbuat dzalim saat Nabi Yusuf masih kecil.
disebutkan disebutkan dalam kisah bahwasannya ada saudaranya Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang senantiasa Abu Bakar memberikan kepadanya makanan. Namun ternyata saudaranya itu ikut-ikutan menyebarkan berita dusta tentang ‘Aisyah dan menuduh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berzina. Lalu kemudian Allah turunkan ayat yang mensucikan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Maka Abu Bakar marah sekali kepada Mistah dan bersumpah untuk tidak lagi memberi makan kepada Mistah. Tapi ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan. Allah berfirman:
أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّـهُ لَكُمْ
“Tidakkah kamu suka Allah memaafkan dosa kamu?” (QS. An-Nur[24]: 22)
Contoh lain adalah memaafkan hutang bisa dengan memberi tunda waktu bayar, atau kurangi jumlah hutang.
Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—pernah mendoakan dengan doa kerahmatan bagi seorang yang lapang dada. Berliau bersabda, “Semoga Allah merahmati lelaki yang lapang dada ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih hak.” (HR. Al-Bukhari) . Dalam riwayat lain disebutkan, “Dan ketika melunasi kewajiban.”
🔹3. Membalas keburukan dengan kebaikan.
🔸Seorang Arab badui yang berbuat kasar kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, namun Nabi ﷺ bahkan memberi harta nya kepada badui yang meminta tersebut.
🔸dari [Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma] dia berkata; “Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia. anak laki-lakinya -yaitu Abdulah bin Abdullah- datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya memohon kepada beIiau agar sudi memberikan baju beliau kepada Abdullah untuk kain kafan ayahnya, Abdullah bin Ubay bin Salul. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bajunya kepada Abdullah. setelah itu, Abdullah juga memohon Rasulullah agar beliau berkenan menshalati jenazah ayahnya. Kemudian Rasulullah pun bersiap-siap untuk menshalati jenazah Abdullah bin Ubay, hingga akhirnya Umar berdiri dan menarik baju Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarang untuk menshalatinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pilihan kepadaku.” Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi; “Kamu memohonkun ampun bagi orang-orang munafik atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka, maka hal itu adalah sama saja. sekalipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali (Qs. At-Taubah 9: 80). Oleh karena itu, aku akan menambah istighfar lebih dari tujuh puluh kali untuknya.” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ia adalah orang munafik?.” Tetapi, rupanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap saja menshalatinya, hingga Allah menurunkan ayat Al Qur’an: “Janganlah kamu sekali-kali menshalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya.” (Qs. At-Taubah 9: 84).HR Bukhari.
🔹4. Berbuat baik kepada orang yang tidak dikenal.
Nabi Ibrahim memberikan layanan istimewa kepada para tamu yang menjumpainya dengan hidangan daging sapi.
🔹5. Tidak melupakan kebaikan orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita.
🔸Saat hendak memasuki kota Mekah, Zaid bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau bisa kembali ke kota Mekah sedangkan mereka, kafir Quraisy, telah mengusirmu?” Nabi pun menjawab, “Wahai Zaid, sungguh Allah yang akan menunjukkan jalan keluarnya. Allah akan menolong nabi-Nya dan agama-Nya.” Beliau pun malam itu bermalam di gua Hira, tempat wahyu turun pertama kali.
Beliau pun mengutus seorang utusan dari bani Khuza’ah untuk menemui Akhnas bin Syariq untuk memberikan jaminan keamanan dan perlindungan untuk beliau. Akan tetapi Akhnas menolak, “Aku hanyalah seorang sekutu, dan sekutu tidak memberikan perlindungan.” Begitu pula Suhail bin Amr. Ia mengatakan, “Bani Amir tidak memberikan perlindungan kepada bani Kaab.” Sampai akhirnya Muth’im bin Adi bersedia memberikan jaminan dan perlindungan untuk Rasulullah.
Rasulullah ﷺ selalu mengingat jasa baik Muth’im bin Adi (meninggal dalam keadaan tidak beriman). Sehingga lima tahun kemudian, ketika Rasulullah berhasil menawan sebagian kafir Quraisy Mekah pada perang Badar, beliau bersabda, “Seandainya Muth’im bin Adi masih hidup, lalu ia datang memintaku membebaskan tawanan ini, maka aku pasti akan bebaskan mereka semua.”
🔸Kebaikan kepada istri (pasangan)
Kebaikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada Khadijah. Ingatlah kisah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bebaskan tawanan perang Badr – Abul Ash – yang ditebus istrinya (Zainab binti Rasulullah) dengan kalung dari Khadijah.
Ingat selalu kebaikan istri kita, jangan mudah jatuhkan talak.
🔸Kebaikan kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita.
🔸Kebaikan kepada guru-guru kita yang telah beri ilmu.
Ali bin Abi Thalib berkata :
“Aku adalah budak (hamba sahaya) bagi orang yang mengajariku walau hanya satu huruf”.
Semoga bermanfaat.
##$$-aa-$$##

