Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID#48 – Mensyukuri Nikmat Allah

Diterbitkan pertama kali pada: 10-Jul-2020 @ 20:58

6 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid Bab 48: Mensyukuri Nikmat Allah
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
7 Rajab 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :

ولئن أذقناهم رحمة منا بعد ضراء مسته ليقولن هذا لي  

“Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata “ini adalah hak-Ku”. (QS. Fushshilat, 50).

          Dalam menafsirkan ayat ini Mujahid (murid Ibnu Abbas) mengatakan : “ini adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak mendapatkan rahmat tersebut”.

Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan : “ini adalah dari diriku sendiri”.

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

قال إنما أوتيته على علم عندي 

“(Qarun) berkata : sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku” (QS. Al Qashash, 78).

         Qotadah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan: “Maksudnya : karena ilmu pengetahuanku tentang cara-cara berusaha”.

         Ahli tafsir lainnya mengatakan : “Karena Allah mengetahui bahwa aku orang yang layak menerima harta kekayaan itu”, dan inilah makna yang dimaksudkan oleh Mujahid : “aku diberi harta kekayaan ini atas kemulianku”.

Diantara bentuk tidak bersyukurnya manusia adalah bila diberi nikmat maka dia mengatakan ini adalah karena aku.

Ini adalah perkataan orang kafir.

Syukur, adalah ibadah yang agung.
Iman dibagi 2 yaitu sabar dan syukur.

Allah berfirman,

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) bagi orang yang selalu bersabar dan banyak bersyukur.  [Asy-Syûrâ/42:33]

Mana yang lebih utama miskin sabar dan kaya bersyukur? Jawabannya adalah yang lebih bertakwa diantara keduanya…

Syukur itu syarat-syaratnya (Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin):

1. Mengakui dalam hati

+ mengenal itu adalah nikmat

Banyak orang yang tidak sadar nikmat, misal nikmat aman negeri, nikmat sehat..

Diantara sifat Nabi Ibrahim adalah bersyukur dengan nikmat-nikmat yang kecil.

++ mengenal pemberi nikmat (Allah)

Semua nikmat dari Allah, sedangkan yang bermuamalah dengan kita hanya sebagai perantara.

+ mengetahui seluruh nikmat dari Allah.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”. (Qs. An Nahl: 53)

++ jangan merasa pantas / berhak mendapatkannya.

Kalau tidak maka terkena ujub.

Allah ﷻ menceritakan sifat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam:

إن إبراهيم كان أمة قانتا لله حنيفا ولم يك من المشركين* شاكرا لأنعمه اجتباه وهداه إلى صراط مستقيم

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik, Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus”
(QS. An-Nahl: 120-121).

2. Mengakui dengan lisan

+ banyak memuji Allah, Alhamdulilah
++ menceritakan karunia (kepada orang-orang yang tidak hazad)

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11).

+++ menisbahkan nikmat kepada Allah.

Hukum asal kita adalah ingat akhirat dan jangan lupa dunia.

2 pendapat dari para ulama tentang perkataan Qarun..

على علم عندي

1. Ilmu Qarun yang cerdas (bertentangan dengan kaidah – tidak nisbah kepada Allah)

2. Ilmu Allah bahwa saya memang berhak. (bertentangan dengan kaidah – jangan merasa pantas dapat nikmat)

3. Syukur dengan anggota tubuh, yaitu beramal sholeh.

+dengan menampakkan nikmat tersebut dan tidak mengingkari

++ digunakan untuk takwa kepada Allah: sedekah, haji, umrah, berbakti kepada kedua orang tua.

+++ tidak digunakan untuk maksiat.

Seperti yang diingat Yusuf saat digoda, dengan mengingat nikmat Allah.

Apa hukumnya orang yang tidak menisbahkan nikmat kepada Allah? Syirik asghar, dalam Tauhid Rububiyah.

          Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

إن ثلاثة من بني إسرائيل : أبرص وأقرع وأعمى، فأراد الله أن يبتليهم، فبعث إليهم ملكا، فأتى الأبرص، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : لون حسن، وجلد حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به، قال : فمسحه، فذهب عنه قذره، فأعطي لونا حسنا وجلدا حسنا، قال : فأي المال أحب إليك ؟ قال : الإبل أو البقر – شك إسحاق – فأعطي ناقة عشراء، فقال : بارك الله لك فيها، قال : فأتى الأقرع، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : شعر حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به، فمسحه فذهب عنه قذره، وأعطي شعرا حسنا، فقال : أي المال أحب إليك ؟ قال : البقر أو الإبل، فأعطي بقرة حاملا، قال : بارك الله لك فيها، فأتى الأعمى، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : أن يرد الله إلي بصري فأبصر به الناس، فمسحه فرد الله إليه بصره، قال : فأي المال أحب إليك ؟ قال : الغنم، فأعطي شاة والدا، فأنتج هذان وولد هذا، فكان لهذا واد من الإبل، ولهذا واد من البقرن ولهذا واد من الغنم.

         “Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu : penderita penyakit abros (albino) orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

         Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit abros (albino) dan bertanya kepadanya : “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”, ia menjawab : “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya : “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi ?”, ia menjawab : “onta atau sapi”, maka diberilah ia seekor onta yang sedang bunting, dan iapun didoakan : “Semoga Allah memberikan berkahNya kepadamu dengan onta ini.”

         Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya :“Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”, ia menjawab :“Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian malaikat tadi bertanya lagi kepadanya : “Harta apakah yang kamu senangi ?”. ia menjawab : “sapi atau onta”, maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan : “Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

         Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya : “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab : “Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya : “Harta apakah yang paling kamu senangi ?”, ia menjawab : “kambing”, maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

         Lalu berkembangbiaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama (sakit abros) memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berikutnya :

ثم إنه أتى الأبرص في صورته وهيئته، قال : رجل مسكين قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي أعطاك اللون الحسن والجلد الحسن والمال، بعيرا أتبلغ به في سفري، فقال : الحقوق كثيرة، فقال له : كأني أعرفك ! ألم تكن أبرص يقذرك الناس، فقيرا فأعطاك الله U المال ؟ فقال: إنما ورثت هذا المال كابرا عن كابر، فقال : إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت. قال : وأتى الأقرع في صورته، فقال له : مثل ما قال لهذا، ورد عليه مثل ما رد عليه هذا، فقال : إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت. قال : وأتى الأعمى في صورته فقال : رجل مسكين وابن سبيل قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي رد عليك بصرك شاة أتبلغ بها في سفري، فقال : قد كنت أعمى فرد الله إلي بصري، فخذ ما شئت، ودع ما شئت، فوالله لا أجهدك اليوم بشيء أخذته لله، فقال : أمسك مالك، فإنما ابتليتم، فقد رضي الله عنك وسخط على صاحبيك. أخرجاه.

          Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit abros (albino) , dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya :

“Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor onta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab : “Hak-hak (tanggunganku) masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya : “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit abros, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan ?”, dia malah menjawab : “Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”, 

maka malaikat tadi berkata kepadanya :“jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”. (sakit abros dan miskin)

          Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita abros , serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama.

Maka malaikat itu berkata : “jika anda berkata bohong niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”. (botak dan miskin)

          Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya : “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”.

Maka orang itu menjawab :“Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah”. Maka malaikat tadi berkata : “Peganglah harta kekayaan anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah, Allah telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda” (HR. Bukhari dan Muslim).

Faidah
1. Tidak mengapa mengisahkan kisah orang terdahulu asal kisahnya benar dan berfaidah.
2. Bersyukur dengan menisbahkan nikmat kepada Allah maka nikmat tersebut akan dijaga Allah
3. Sifat Qana’ahlah yang menyebabkan kita mudah bersyukur
4. Allah menguji hamba dengan kenikmatan dan kesulitan
5. Malaikat bisa menyamar, sehingga boleh kita nyamar bila ada maslahat
6. Doa malaikat adalah mustajab
7. Bila berdoa dengan doa yang tidak pasti, maka boleh dengan doa bersyarat – misalnya Ya Allah bila orang ini muslim maka..

8. Boleh sebutkan masa lalu yang buruk dalam rangka mengingatkan (menasihati).
Bukan untuk mengejek atau mencela..

وَلَا تَنَا بَزُوْا بِا لْاَ لْقَا بِ ۗ

“Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 11)

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK

##$$-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?