Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID # 52 DOA DENGAN, “YA ALLAH, AMPUNI AKU JIKA ENGKAU MENGHENDAKI”

Diterbitkan pertama kali pada: 09-Jul-2020 @ 17:30

4 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid Bab 52:“Doa dengan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau Menghendaki”.
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
6 Sya’ban 1441H
Live streaming…

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِيْ إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمْ المَسْأَلَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan:

“Ya Allah, Ampunilah aku jika Engkau menghendaki”,

atau berdo’a: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki”,

tetapi hendaklah meminta dengan mantap, karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.”

Dan dalam riwayat Muslim, disebutkan:

وَلْيُعْظِمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Dan hendaklah ia memiliki keinginan yang besar, karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya sesuatu yang Ia berikan.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ إِنْ شِئْتَ

Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau berkehendak.

Ini bab adab kepada Allah, segala halbyang berkaitan Dengan Allah.

Ini adab berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada sesuatu yang agung di sisi Allah kecuali doa (hadits).

Berdoa harus membulatkan harapan kepada Allah.

لاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ إِنْ شِئْتَ، اللَّهُمَّ ارْحَمْنِيْ إِنْ شِئْتَ، لِيَعْزِمْ المَسْأَلَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian yang berdo’a dengan ucapan:

“Ya Allah, Ampunilah aku jika Engkau menghendaki (mau) ”,

atau berdo’a: “Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki”,

tetapi hendaklah serius kan lah tekad , karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.”

Para ulama berselisih dalam berdoa seperti ini, makruh atau haram dan yang benar adalah haram..

1. Makruh – dengan dalil saat kunjungi orang sakit.

لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Laa ba’sa, thohuurun in syaa-allaah.

Tidak apa-apa (jangan terlalu bersedih dengan sakit ini), menjadi pembersih dosa, Insya Allah.

2. Hadits tersebut adalah bukan doa tetapi khabar bukan Insya’ (doa).

Jadi dalil doa itu istisna makruh adalah kurang tepat, jadi hukumnya haram.

Penyebutan rahmat dan ampunan dalam doa diatas hanyalah contoh bukan batasan, sehingga larangan di atas berlaku untuk semua doa.

Yang dilakukan adalah pembulatan tekad/harapan.

Dan dalam riwayat Muslim, disebutkan:

وَلْيُعْظِمْ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ

“Dan hendaklah ia besarkan permohonannya , karena sesungguhnya Allah tidak terasa berat bagi-Nya apa yang Ia berikan.”

Sebab larangan (haram) doa seperti ini :
1. Cara seperti ini menunjukkan seakan-akan orang yang berdoa tidak merasa butuh.

2. Seakan-akan ada yang berat bagi Allah untuk Allah kabulkan. (padahal semua ringan bagi Allah).

Hadits qudsi – disebutkan..

Wahai hamba-Ku, seandainya generasi pertama kalian dan generasi akhir kalian, baik dari bangsa manusia dan jin, semuanya berdiri di atas tanah yang tinggi, lalu mereka semua meminta kepada-Ku, lalu aku penuhi permintaan mereka, untuk yang demikian itu, tidaklah mengurangi apa-apa yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya (air tatkala) jarum dimasukkan ke dalam lautan.
HR Muslim.

Dalam sebuah hadits juga disebutkan Allah Maha Kaya..

Semakin kita minta kepada Allah semakin Allah suka.

3. Seakan-akan Allah bisa memberi dengan terpaksa.

فَإِنَّ اللهَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ
Allah tidak pernah terpaksa..

4. Karena mengatakan dalam doa jika Kau berkehendak toh tidak ada hasil, karena memang pengabulan doa atas kehendak Allah.

Surat 6 ayat 41.

{مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ }

kalian berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, (Al-An’am: 41)

BESAR kan doa kita..

1. Allah suka hamba merengek2.
2. Jangan anggap doa kita besar.

Hukum doa yang diakhiri dengan Insya Allah.

Ada 2.

1. *Ditujukan langsung kepada Allah, yaitu Allah sebagai Al Mukhatab (Yang diajak bicara)
Contoh Ya Allah ampuni aku jika Engkau berkehendak.

2. Jika Allah sebagai kata ganti orang ketiga.

Contoh Semoga Allah merahmati mu Insya Allah. (jika Dia berkehendak).

Hukum khilaf,

2.1. Boleh, dengan dalil..

A. Lafal hadits yang dilarang berkaitan dengan kata ganti orang kedua.

B. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata, saat orang sakit..

Thohuurun Insya Allah

C. Maksud orang-orang mengucapkan Insya Allah adalah untuk berkah bukan untuk menggantungkan.

2.2 haram,

Dan ini lebih kuat dan lebih hati-hati.
Karena meskipun lafadz untuk orang kedua namun Ilahnya sama.

Juga karna bentuk khabar.

Berkah? Seperti kurang yakin….

Adab dalam berdoa.

1. YANG perlu dijauhi..

A. Jangan syirik

B. Berdoa dengan kedzaliman, memutus silaturahim

C. Jangan berlebihan dalam berdoa (misalnya Jadikan aku Nabi, jin, malaikat)
Berdoa dengan doa Nabi Sulaiman yang meminta kerjaan yang khusus untuk Nabi Sulaiman.

Jangan terlalu detail.. Ya Allah berilah surga dengan bidadari hijau..

D. Jangan ragu-ragu, dengan kata Insya Allah, Insyi’ta..

2. Yang perlu dilakukan.

A. Merengek2 (Ilhah)
B. Diulang 3x
C. Husnudzon kepada Allah. Yakin
Berdoalah dalam kondisi yakin dikabulkan (hadits)
D. Memuji Allah
E. Bershalawat kepada Nabi.
F. Memilih waktu2 mustajab (1/3 malam terakhir, saat sujud, sore di hari Jumat)
G. Jika memungkinkan memilih tempat2 mustajab.
H. Bertawasul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat Nya.

Yakinlah bahwa doa itu ibadah, nampak ketundukan dia kepada Allah.

Syirik paling bahaya adalah syirik doa..

Yakin bahwa doa kita dikabulkan,
1. Sesuai dengan yang diminta
2. Ditunda diakhirat
3. Di palingkan dari bahaya yang semisal..

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?