This entry is part 13 of 27 in the series Sifat Sholat Nabi

Diterbitkan pertama kali pada: 04-Jul-2020 @ 14:42

6 menit membaca

Sifat sholat Nabi – *Membaca dengan Tartil, Membetulkan bacaan Imam dan berlindung dari gangguan syetan*
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny
30 Syaban 1440H

*Membaca Al-Qur’an dengan tartil dan membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an*

Baca Alqur’an saat sholat dengan pelan, tartil, dan membaguskan suaranya.

Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur’an – seperti diperintahkan Allah kepada beliau ﷺ (dalam surat Al Muzzammil)
وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

Dan bacalah al-Qur’an itu dengan tartil. (Al-Muzammil: 4)

– *secara tartil*, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu tergesa-gesa , akan tetapi dengan bacaan yang jelas, huruf demi huruf, sampai-sampai beliau ﷺ suatu surat secara tartil menjadi lebih lama dari surat yang lebih panjang darinya.

Beliau ﷺ bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada pemilik Alqur’an-shohibul/ahlul Qur’an (orang yang senantiasa membaca, menghafal dan mengamalkan) , ‘Bacalah dan naiklah (ke tingkatan 2 surga) serta tartillah sebagaimana engkau di dunia membaca dengan tartil ! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” HR Abu Dawud dan Tirmidzi (shahih).

Maka dari itu bersemangatlah dalam menghafal dan mengamalkan Al Qur’an.

Beliau shallallahu alaihi wasallam memanjangkan bacaan-bacaan nya, misal ada huruf mad(panjang) dibaca panjang. Seperti
Pada bismillaaahirohmaanirrahiiim..

Beliau ﷺ selalu berhenti pada akhir ayat walaupun ayatnya pendek (walaupun artinya belum sempurna maknanya seperti ayat fawailul lil mushollin), bukan berarti yang menyambung ayat tercela.

Beliau ﷺ juga terkadang mertaji’kan (mendendangkan – lantunan) suara beliau sebagaimana yang beliau ﷺ lakukan pada waktu penaklukan Fathu Makkah ketika beliau berada di atas unta beliau. Dimana beliau ﷺ membaca surat Al Fath dengan sangat bahagia dan suara yang lembut. Surat ini turun setelah perjanjian Hudaibiyah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga memerintahkan agar membaguskan suara ketika membaca Al-Qur’an, dimana beliau ﷺ bersabda,

زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah al-Quran dengan Suara kalian.” (HR. Abu Dawud, shahih )

Juga hadits..

فَإِنَّ الصَّوْتَ الْحَسَنَ يَزِيدُ الْقُرْآنَ حُسْنًا

“Sesungguhnya suara yang merdu itu akan menambah keindahan al-Quran. ” (HR. Al-Hakim, shahih)

Maka tidak masalah bila kita mencari masjid yang bacaan nya bagus dengan niat untuk mencari kekhusyuan sholat.

Maka sebaiknya kita ikuti tanda baca dalam Alqur’an karena hal tersebut berhubungan dengan makna. Misal tanda ruku ع، harus berhenti.

Dalam hadits lain, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“sesungguhnya di antara orang yang paling bagus suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah orang yang apabila kamu mendengarnya sedang membaca, maka kamu pasti mengiranya seorang yang takut kepada Allah.” shahih.

NABI shallallahu alaihi wasallam bahkan memerintahkan membaca Al Quran dengan melagukannya:

تَعَلَّمُوا كِتَابَ اللَّهِ وَتَعَاهَدُوهُ وَاقْتَنُوهُ وَتَغَنَّوْا بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ أَوْ فَوَالَّذِي نَفْسُ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ الْمَخَاضِ فِي الْعِقَلِ

“Pelajarilah Kitabullah, jagalah dengan mengulang-ulang , tekunlah, dan lagukanlah bacaanya. Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya hafalan Al Quran lebih cepat hilang dari hafalan dibanding dengan unta betina (yang sedang hamil) yang terlepas dari tali penambatnya.” (HR. Ad Darimi dan Ahmad)

Semakin tua, semakin susah hafal dan semakin cepat lupa.
CARA menyemangati dalam menghafal adalah dengan memikirkan pahalanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barangsiapa yang tidak memperindah suaranya ketika membaca Al Qur’an, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Abu Daud, shahih).

Allah sangat senang sekali ketika mendengar bacaan seorang Nabi dengan irama yang sangat indah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Musa Al asy’ari,

لَوْ رَأَيْتَنِى وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ الْبَارِحَةَ لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ

“Seandainya saja engkau melihatku ketika aku mendengarkan bacaan Al Qur’anmu tadi malam. Sungguh engkau telah diberi salah satu seruling keluarga besar Nabi Daud” (HR. Muslim) maksudnya suara yang sangat bagus.

Dan Abu Musa menjawab, Seandainya saja aku mengetahui tempat Anda waktu itu, niscaya aku akan membacanya untuk anda dengan lebih syahdu lagi.

Mengindahkan bacaan tetap harus memperhatikan tajwid, irama harus ikuti tajwid.
Tidak boleh membaguskan irama dengan mengorbankan tajwid.

Menjaga tajwid adalah wajib sedangkan membaguskan irama adalah sunnah.

*Meralat bacaan Imam*

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan untuk Meralat imam apabila bacaanya keliru, dimana pernah suatu waktu Beliau shallallahu alaihi wasallam shalat dan membaca Al-Qur’an di dalamnya, namun ada kekeliruan dalam bacaan beliau.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا مَنَعَكَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat dan membaca (beberapa ayat Al Qur’an) dalam shalatnya, dan beliau terbalik-balik dalam bacaannya, seusai shalat beliau bersabda kepada Ubay: “Apakah kamu tadi ikut shalat bersama kami?” Ubay menjawab; “Ya.” Sabda beliau: “Apa yang mencegahmu (untuk tidak membenarkan tentang ayat tadi)?”(HR. Abu Daud, shahih)

Bila sudah diingatkan (dibetulkan), dan imam tidak mau, maka kita harus mengalah. Kita harus yakin dulu bahwa imam salah.
Kalau kita jauh dari Imam, minimal kita benarkan bacaan kita sendiri.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah lupa bacaan seperti diceritakan oleh Ibnu Sirin melalui jalur Abu Hurairah..

Beliau berkata ” Rosulullah ﷺ sholat dengan kami salah satu sholat sore hari (dhuhur atau ashar rowi ragu-ragu), ibnu Sirin berkata: Abu Hurairah menyebutkan nama sholat tersebut tapi aku lupa (sholat apa yang dimaksud). Kemudian beliau ﷺ sholat dengan kami dua roka’at kemudian salam, lalu Rosulullah ﷺ berdiri (dan berjalan) menuju sebuah kayu yang melintang di dalam masjid. Kemudian beliau bersandar diatasnya seakan-akan beliau sedang murka. Rosulullah shollallahu alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya dan beliau merapatkan jari-jarinya. Orang-orang yang tergesa-gesa keluar dari pintu-pintu masjid dan mereka berkata: ” sholatnya pendek (diqoshor)”.

Di dalam kaum itu terdapat Abu Bakar dan Umar, namun keduanya segan untuk bertanya pada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam . Ada seseorang yang mempunyai tangan yang panjang, ia disebut Dzul yadain, ia bertanya kepada Rosululloh shallallahu alaihi wasallam : “Ya Rasulullah apakah engkau lupa ataukah sholatnya di qoshor?”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab: ” aku tidak lupa, dan sholat nya tidak di qoshor”. Lalu Rasulullah ﷺ bertanya (kepada orang-orang yang hadir): “Apakah seperti yang dikatakan Dzul Yadain?”. Para shohabat menjawab: “Benar”. Maka Rasulullah ﷺ maju lalu sholat (melakukan) apa yang beliau telah tinggalkan, kemudian salam. Lalu, beliau ﷺ bertakbir dan bersujud seperti sujudnya (dalam sholat) atau lebih lama. Kemudian beliau mengangkat kepala dan takbir lalu sujud sebagaimana beliau bersujud atau lebih lama, kemudian beliau mengangkat kepala dan bertakbir.

Para sahabat ada yang bertanya: “apakah Rasulullah mengucapkan salam?” . Abu Hurairah berkata: ” Aku diingatkan bahwa Imron bin Hushoin berkata: Rasulullah ﷺ mengucapkan salam“.

*Membaca Ta’awwudz dan meludah ringan dalam shalat untuk menangkal gangguan syetan*

Ketika konsentrasi kita terganggu disunnahkan membaca ta’awwduz dan meludah ringan ke kiri 3x.

Kasus semacam ini pernah dialami oleh salah seorang sahabat, yaitu Utsman bin Abil ‘Ash radhiallahu ‘anhu. Beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan gangguang yang dia alami ketika shalat. Kemudian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذاك شيطان يقال له خنزب فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه واتفل على يسارك ثلاثاً

“Itu adalah setan. Namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”

Kata Utsman, “Aku pun melakukannya, kemudian Allah menghilangkan gangguan itu dariku.” (HR Muslim, no. 2203)

Bagaimana jika saat jamaah? Ketika mungkin tetap meludah ringan bila tidak mungkin karena kuatir mengganggu maka Tidak usah dilakukan karena meludah ringan itu sunnah.

Tanya jawab..
1. Shalat Qabliyah itu batasannya adalah saat seseorang melakukan sholat wajib. Shalat sunnah pun boleh di qadha (bila ada udzur) . Hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam saat ketiduran dan bangun kesiangan).

Misalnya orang yang tidak pernah shalat selama 40 tahun, kemudian dapat hidayah, maka dia tidak wajib mengqadha’ shalat yang ditinggalkan (juga puasa) Karena tidak ada udzur dan tidak ada niat shalat.

##$$-aa-$$##

Sifat Sholat Nabi

SIFAT SHOLAT NABI # SUTRAH DAN YANG MEMBATALKAN SHOLAT SIFAT SHOLAT NABI# RUKUK
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?