This entry is part 4 of 10 in the series ma.shirahsahabat

Diterbitkan pertama kali pada: 01-Jul-2020 @ 20:55

8 menit membaca

Kisah Sahabat: *Saad bin Abi Waqqash*
Ustadz Muhammad Anwar
16 Rajab 1440H

*Nasab Saad bin Abi Waqqash*

Ayah Saad adalah anak dari seorang pembesar bani Zuhrah. Namanya Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah (suku Zuhrah – Zuhri)

Malik, ayah Saad, adalah anak paman Aminah binti Wahab, ibu Rasulullah ﷺ. Malik juga merupakan paman dari Hamzah bin Abdul Muthalib dan Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Sehingga nasab Saad termasuk nasab yang terhormat dan mulia. Dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi ﷺ.

Jumlah istri 11 (bukan dalam waktu yang sama), anaknya 18.

Lahir di Makkah, 23 Tahun sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam diutus menjadi Rasulullah.

Saad imi dikenal jago memanah, melempar tombak dan penglihatan yang tajam.

Saad Masuk Islam..
Sebelum masuk Islam, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pernah bermimpi. Beliau berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat sesuatu apapun. Tiba-tiba bulan menyinarinya. Beliaupun mengikuti sinar bulan tersebut. Tampak olehnya beberapa orang yang telah mendahuluinya berjalan ke arah bulan. Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berupaya melihat sekumpulan orang itu. Ternyata mereka adalah Zaid bin Haritsah, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum. Memang benar, mereka lebih dahulu masuk Islam.

Saad bin Waqqash memeluk Islam saat berusia 17 tahun. Ia menyaksikan masa jahiliyah. Abu Bakar ash-Shiddiq berperan besar mengenalkannya kepada agama tauhid ini. Ia menyatakan keislamannya bersama orang yang didakwahi Abu Bakar: Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah. Hanya tiga orang yang mendahului keislaman mereka.

Ujian Keimanan Saat Masuk Islam.
Ketika Saad bin Abi Waqqash memeluk Islam, menerima risalah kerasulan Muhammad ﷺ, dan meninggalkan agama nenek moyangnya, ibunya sangat menentangnya. Sang ibu ingin agar putranya kembali satu keyakinan bersamanya. Menyembah berhala dan melestarikan ajaran leluhur.

Ibunya mulai mogok makan dan minum untuk menarik simpati putranya yang sangat menyayanginya. Ia baru akan makan dan minum kalau Saad meninggalkan agama baru tersebut.

Setelah beberapa lama, kondisi ibu Saad terlihat mengkhawatirkan. Keluarganya pun memanggil Saad dan memperlihatkan keadaan ibunya yang sekarat. Pertemuan ini seolah-olah hari perpisahan jelang kematian. Keluarganya berharap Saad iba kepada ibunda.

Saad menyaksikan kondisi ibunya yang begitu menderita. Namun keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.

Ibunya pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia sadar, kecintaan anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah dengan aksi mogok yang ia lakukan. Berkaitan dengan persitiwa ini, Allah pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash. Yaitu Qs Luqman-15, yang akan disebutkan kemudian.

*Keutamaan Saad bin Abi Waqqash*

1. *Yang pertama-tama masuk Islam.*
Sampai beliau pernah berucap “Saya mewakili sepertiga umat Islam” (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Saad).

{وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100) }

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar. Qs At Taubah 100.

2. *Termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga*

Dari Abdurrahman bin ‘Auf, dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: Abu Bakr di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.

Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.

Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .

Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’

Dia menjawab, ‘Silahkan!’

Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.

Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’

Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.

Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’

Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’

Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”

Laki-laki yang dimaksud itu adalah Saad bin Abi Waqqash.

Saad bin Abi Waqqash menjumpai perselisihan besar yang terjadi pada kaum muslimin. Antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, radhiallahu ‘anhum ajma’in. Sikap Saad pada saat itu adalah tidak memihak kelompok manapun. Ia juga memerintahkan keluarga adan anak-anaknya untuk tidak mengabarkan berita apapun kepadanya.

3. *Turun ayat Luqman-15*

Allah pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash.

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” QS Luqman-15.

Pelajaran :
– tidak boleh menuruti perintah orang tua yang maksiat kepada Allah

4.*Paman dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*

Rasulullah pernah membanggakan punya paman (Saad bin Abi Waqqash).

5. *Mendapatkan doa Nabi shallallahu alaihi wasallam*

Saad bin Abi Waqqash adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki doa yang manjur dan mustajab. Rasulullah ﷺ meminta kepada Allah ﷻ agar doa Saad menjadi doa yang mustajab tidak tertolak.

Beliau ﷺ bersabda,

اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمَيْتَهُ، وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ

“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/ 500).
(saat perang Badr)

Doa Rasulullah ﷺ ini menjadikan Saad seorang prajurit pemanah yang hebat dan ahli ibadah yang terkabul doanya.

Kisah lain, dalam sebuah hadits..

“Suatu ketika, pada saat Sa’ad menjabat sebagai kepala pemerintahan negara irak yang berhasil dikuasainya dalam peperangan pada saat itu,beliau pun mulai menata ulang kota, sumber daya manusia, alam dan sebagainya, dibawah kepemimpinannya negara irak terbilang cukup makmur, namun beberapa diantara penduduk tersebut tidak menyukai kepemimpinannya, sehingga salah satu diantara penduduk Makkah mengadukan Sa’ad kepada Umar, mereka mengatakan bahwa sholatnya tidak baik. Hingga akhirnya Umar mengirimkan surat kepada Sa’ad perihal pernyataan dari salah seorang warga negaranya tersebut, namun Sa’ad meluruskan perihal tuduhan tersebut kepada Umar lewat suratnya, Sa’ad berkata :”‘Aku mengerjakan sholat sesuai dengan sholatnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Aku memanjangkan shalat pada raka’at pertama, karena didalamnya terdapat tambahan bacaan doa iftitah pada permulaan rakaat, kemudian aku pun meringkaskan shalat ku pada dua rakaat terakhir dari pada shalatku pada rakaat kedua, tidak lain karena pada hal tersebut tidak terdapat tambahan bacaan surah pendek didalamnya. ’

Mendengar itu Umar berkata, “Berarti itu hanya prasangka terhadapmu wahai Abu Ishaq.’ Dia kemudian mengutus beberapa orang untuk bertanya tentang dirinya di Kufah, ternyata ketika mereka mendatangi masjid-masjid di Kuffah, mereka mendapat informasi yang baik, hingga ketika mereka datang ke masjid Bani Isa, seorang pria bernama Abu Sa’dah berkata, ‘Demi Alloh, dia tidak adil dalam menetapkan hukum, tidak membagi secara adil dan tidak berjalan (untuk melakukan pemeriksaan) di waktu malam. Setelah itu Sa’ad berkata, ‘Ya Alloh, jika dia bohong maka butakanlah matanya, panjangkanlah usianya dan timpakanlah fitnah kepadanya.’”

Abdul Malik berkata,

“Pada saat itu aku melihat Abu Sa’dah menderita penyakit tuli dan jika ditanya bagaimana keadaanmu, dia menjawab, ‘Orang tua yang terkena fitnah, aku terkutuk oleh do’a Sa’ad.”

(HR. Muttafaq ‘Alaihi)

5.*Pernah menjaga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam*

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjamin orang yang menjaga adalah orang yang shalih.

Pada suatu malam, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sulit untuk tidur. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya ada orang saleh dari sahabatku yang sudi menjagaku malam ini.”

Tiba-tiba terdengar suara dentingan senjata. “Siapa ini?,” tanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam.

Lelaki itu menjawab, “Sa’ad bin Abi Waqqash. Saya wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Saya datang kemari guna menjagamu.”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallampun mendoakan kebaikan untuknya, kemudian beliau tidur dengan lelap hingga terdengar suara dengkurannya.

HR. Muslim.

6.*Memiliki keahlian dalam memanah*

Tidak pernah melesat dalam memanah, orang yang pertama kali melemparkan anak panah untuk membela kalimat Allah.
Saad bin Abi Waqqash adalah orang pertama dalam Islam yang melemparkan anak panah di jalan Allah. Ia juga satu-satunya orang yang Rasulullah pernah menyebutkan kata “tebusan” untuknya. Seperti dalam sabda beliau ﷺ dalam Perang Uhud:

اِرْمِ سَعْدُ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ

“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755)

Di tangan Saad lah runtuhnya kekuasaan Persia..sebagai panglima perang. 30 ribu vs 200 ribu.

$$##-aa-##$$

Digita Template

ma.shirahsahabat

SHIRAH # BILAL BIN RABAH SHIRAH # SA’AD BIN ABI WAQQASH(2) – Perang Qadisiyyah
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?