Diterbitkan pertama kali pada: 13-Okt-2024 @ 07:12

10 menit membaca

*KEDAHSYATAN BERBAKTI KEPADA IBU*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
8 Rabi’ul Akhir 1446H /12 Oktober 2024 2024
Masjid Izzatul Islam Grand Wisata

Alhamdulilah Allah mudahkan kita duduk di majelis ilmu di tengah banyak agenda.
Kita datang ke rumah Allah untuk belajar ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ.

✅Duduk di majelis ilmu akan mendapat 4 hal keutamaan.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun 1.kepada mereka sakinah (ketenangan), 2. mereka akan dinaungi rahmat,
3. mereka akan dilingkupi para malaikat 4. dan Allah akan menyebut-nyebut mereka (pujian) di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim).

Melanjutkan pelajaran hadits-hadits akhlak. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr menulis kitab ini kitab yang panjang berisi hadits-hadits terkait akhlak.
Kajian akhlak adalah bukan kajian pelengkap, tetapi merupakan jantung dari agama Islam ini.
Misi utama diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah menyempurnakan akhlak manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 4)

Ibnu Abbas – sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ diatas agama yang agung. Sehingga akhlak = agama.

✅Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسٰنَ بِوَا لِدَيْهِ ۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِيْ عَا مَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِـوَا لِدَيْكَ ۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah (berat) yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku sajalah kembalimu.”
(QS. Luqman 31: Ayat 14)

✅Dalam ayat lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan.”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)

Ulama menjelaskan 30, susunan 2 tahun = 6 bulan, maka usia minimal yang bagus adalah 6 bulan kandungan. ❗

🔹Dahsyat nya berbakti kepada Ibu, karena ibu melakukan 3 peranan yang tidak diwakili oleh ayah:

1. Mengandung
2. Melahirkan
3. Menyusui

Sehingga bakti kepada ibu lebih diutamakan daripada bakti kepada bapak.

Kenapa sekarang banyak wanita yang tidak mau punya anak? Karena mereka tidak tahu dahsyatnya peranan seorang ibu.

✅Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ,

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari).

Dalam riwayat lain, Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ : أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ،قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ

“Datang seseorang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi ﷺ menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘ﷺ menjawab, ‘Bapakmu’ ” HR Bukhari.

Kewajiban bakti kepada orang tua tetap wajib walaupun orang tua sudah wafat.
Doa anak sholeh akan menghasilkan pahala untuk orang tua yang sudah wafat.

Kemudian berbakti kepada saudari Ibu,yaitu bibi. Ini juga selama ibu masih hidup.

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ  bersabda,

الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ

Bibi itu kedudukanya seperti ibu. (HR. Abu Dawud).

Yang dimaksud bibi di sini adalah bibi dari ibu. Karena bibi ada 2 (dalam bahasa Arab dibedakan)
1. Bibi dari ibu, yang disebut dengan khalah [arab: الْخَالَةُ]

2. Bibi dari bapak, yang disebut dengan ‘Ammah [arab: العَمَّة]

Ibnu Abbas adalah sepupu Rasulullah ﷺ yang menjadi referensi utama rujukan tentang tafsir ayat Al Qur’an.

Atha bin Yasar (murid Ibnu Abbas) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ada lelaki yang mengadukan: “Aku meminang wanita, tetapi ia menolakku. Dan ada lelaki lain meminangnya, dan wanita itu menginginkannya. Aku pun cemburu, dan aku bunuh dia. Apakah aku masih punya kesempatan bertaubat?” Ibnu ‘Abbas bertanya: “Apakah ibumu masih hidup?” Jawabnya,”Tidak.”

(Ibnu Abbas pun berkata): “
Kalau begitu, bertaubatlah kepada Allah dan berbuat baiklah sebisamu.” Aku bertanya kepada ‘Ibnu ‘Abbas : “Mengapa engkau bertanya tentang ibunya?”
Ibnu Abbas menjawab,”Aku tidak mengetahui ada amalan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah melebihi bakti kepada ibu.” (Shahihah)

Ini adalah sebuah renungan buat kita. Jangan sia-siakan berbakti kepada ibu , itulah peluang terbaik untuk masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits ini mengisyaratkan supaya bertanya hanya kepada ahli ilmu. ❗

Bakti kepada Allah itu amalan yang paling Allah cintai.

Kisah pembunuh 99 orang – juga mengisyaratkan untuk bertanya kepada ahli ilmu bukan ahli ibadah.

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri rodhiyallohu ‘anhu, Nabi ﷺ  bersabda, “Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang membunuh 99 jiwa, lalu ia bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah), lalu ia mendatangi rahib tersebut dan berkata, ‘Jika ada orang yang membunuh 99 jiwa, apa taubatnya bisa diterima?’ Rahib pun menjawab, ‘Tidak.’ Lalu orang tersebut membunuh rahib itu sehingga genap sudah dia membunuh 100 nyawa. Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang ‘alim, lalu dia berkata, ‘Jika ada orang telah membunuh 100 jiwa, apakah masih ada pintu taubat untuknya?’ Orang alim itu pun menjawab, ‘Ya Siapakah yang menghalangi nya untuk bertaubat? Pergilah ke daerah ini karena di sana terdapat sekelompok orang yang menyembah Allah a’ala, maka sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke daerahmu yang dulu karena daerah tersebut adalah daerah yang jelek.’ Laki-laki ini lantas pergi menuju tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Ketika sampai di tengah perjalanan, maut menjemputnya. Maka terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, ‘Orang ini pergi untuk bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah’. Sedangkan malaikat azab berkata, ‘Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun’. Lalu datanglah malaikat lain dalam bentuk manusia, mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai juru damai. Malaikat ini berkata, ‘Ukurlah jarak kedua tempat tersebut, daerah yang jaraknya lebih dekat, maka daerah tersebut yang berhak atas orang ini.’ Mereka pun mengukur jarak kedua tempat tersebut dan teryata orang ini lebih dekat dengan tempat yang ia tuju, Oleh karena itu ruhnya dibawa oleh malaikat rahmat.” (HR. Bukhari & Muslim)

✅❗Hal bertanya pada ahli ilmu di tegaskan dalam firman Allah.

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ 
” maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 43)

Selanjutnya ada penjelasan yang shahih..

🔹Atsar dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ لَهُ وَالِدَانِ مُسْلِمَانِ يُصْبِحُ إِلَيْهِمَا مُحْتَسِبًا ، إِلا فَتْحَ لَهُ اللَّهُ بَابَيْنِ ، يَعْنِي : مِنَ الْجَنَّةِ ، وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدٌ ، وَإِنْ أَغْضَبَ أَحَدَهُمَا لَمْ يَرْضَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ ، قِيلَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ ؟ قَالَ : وَإِنْ ظَلَمَاهُ

“”Tidaklah seorang Muslim yang memiliki kedua orang tua yang Muslim yang dia pada setiap hari berbuat baik kepada keduanya, kecuali Allah akan membukakan baginya 2 pintu (surga). Kalau orang tua itu tinggal seorang diri, maka 1 pintu yang Allah bukakan. Kalau dia membuat marah / murka salah satu dari keduanya, maka Allah tidak akan ridha hingga orang tuanya ridha.” Seseorang berkata, “Seandainya kedua orang tuanya dzalim?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Walaupun orang tuanya dzalim!”

Ridha Allah ada pada ridha orang tua
Murka Allah ada pada murka orang tua.
Ini adalah standarisasi agama.. Ridha harus sesuai syariat.

✅Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Luqman 31: Ayat 15)

❗❗Tetap berbakti kepada orang tua yang dzalim kepada anaknya. Kewajiban tidak gugur.

Seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma dan beliau mengatakan:

الكَبائرُ تِسْعٌ: الإشراكُ باللهِ، وقَتْلُ نَسَمَةٍ، والفِرارُ مِنَ الزَّحفِ، وقَذْفُ المُحْصَنةِ، وأكْلُ الرِّبا، وأكْلُ مالِ اليتيمِ، وإلحادٌ في المسجدِ، والَّذي يَستَسخِرُ، وبُكاءُ الوالدينِ مِنَ العُقوقِ

“Ada 9 dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa, kabur dari perang, menuduh wanita baik-baik berzina, makan riba, memakan harta anak yatim, melakukan penyimpangan di masjid, tidak membayar upah pekerja, membuat orang tua menangis karena perbuatan durhaka” (HR. Bukhari).

Jadi jangan membuat orang tua menangis.

‼️Kalau ada orang tua yang anak nya nakal.. Maka bisa jadi itu indikasi orang tua nya dulu tidak berbakti kepada bapak ibunya.

‼️Begitu juga kalau ada orang tua yang bicara pelan – nak bapak ibu mau bicara tapi jangan marah ya – ini adalah indikator ada yang salah.

➡️ Cara berbakti kepada orang tua itu banyak, kepada ibu dengan
1. cara lemah lembut.
2. Memberi apapun yang membuat senang. (barang atau kebaikan). Jangan tanya duluan.

Dalam hadits, Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib radhiallahu’ahu, bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda:

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

“sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah).

❗Jangan membuat orang tua menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat dari hadits Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhuma- ia berkata:
“Ada seorang laki-laki mendatangi Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam rangka berbaiat kepada beliau untuk berhijrah, dan ia meninggalkan kedua orangtuanya dalam keadaan menangis. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

ارجع إليهما وأَضْحِكْهُمَا كما أبكيتــهما
“Kembalilah engkau kepada kedua orangtuamu, dan buatlah keduanya TERSEYUM kembali, sebagaimana engkau telah membuatnya MENANGIS”
HR Abu Dawud.

✅ dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami bahwa ayahnya Jahimah as-Sulami Radhiyallahu anhu  datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Wahai Rasûlullâh! Aku ingin ikut dalam peperangan (berjihad di jalan Allâh Azza wa Jalla ) dan aku datang untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tetaplah bersamanya! Karena sesungguhnya surga ada di bawah kedua kakinya.”
HR Nasai.

Hadits ini sering dijadikan pedoman bahwa surga ada di telapak kaki ibu padahal maknanya adalah harus berbakti yang lebih kepada ibu. Karena ibu punya hak 3x daripada ayah.

✅ Jadi bakti kepada orang tua lebih unggul daripada perang, dari pada hijrah.

✅ Rasulullah ﷺ  bersabda:

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi).

‼️✅ Balas jasa anak kepada orang tua itu susah.

Dari Abu Hurairah dari “Rasulullah ﷺ . Beliau ﷺ bersabda,

لاَ يَجْزِى وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوْكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ

“Seorang anak tidak dapat membalas budi kedua orang tuanya kecuali jika dia menemukannya dalam keadaan diperbudak, lalu dia membelinya kemudian membebaskannya.”  HR Bukhari dan Muslim.

✅ Dari Abi Burdah, ia melihat melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya.

Orang itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ –  إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

ثُمَّ قَالَ : ياَ ابْنَ عُمَرَ أَتَرَانِى جَزَيْتُهَا ؟  قَالَ : لاَ وَلاَ بِزَفْرَةٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ طَافَ ابْنُ عُمَرَ فَأَتَى الْمَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ : يَا بْنَ أَبِى مُوْسَى إِنَّ كُلَّ رَكْعَتَيْنِ  تُكَفِّرَانِ مَا أَمَامَهُمَا

Orang itu lalu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, walaupun setarik nafas yang ia keluarkan ketika melahirkan.”

Beliau lalu thawaf dan shalat dua raka’at pada maqam Ibrahim lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa (Abu Burdah), sesungguhnya setiap dua raka’at (pada makam Ibrahim) akan menghapuskan berbagai dosa yang diperbuat sesudahnya.” (HR Bukhari)

✅ Abu Hurairah itu masuk Islam nya telat, hanya bersama Nabi ﷺ selama 3-4 tahun. Abu Hurairah berusaha dakwah kepada ibu nya yang mana Awalnya ibu nya sering mencaci nya dan menolak Islam. Suatu saat ibunya bahkan mencela Nabi ﷺ, Maka Abu Hurairah gak kuat kalau Nabi ﷺ dicela dan menemui Rasul ﷺ dan mohon bantuan Rasulullah ﷺ untuk doakan ibunya. Akhirnya ibunya masuk Islam dengan bersyahadat. (gak perlu harus disaksikan Nabi ﷺ).

Mendengar hal tersebut aku bergegas kembali menemui Rasulullah ﷺ . Aku menemui beliau dalam keadaan menangis karena begitu gembira. Kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, bergembiralah. Sungguh Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberikan hidayah kepada ibu-nya Abu Hurairah”. Mendengar hal tersebut beliau memuji Allah dan menyanjungnya lalu berkata, “Bagus”. Lantas kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, doakanlah aku dan ibuku agar menjadi orang yang dicintai oleh semua orang yang beriman dan menjadikan kami orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Beliau pun mengabulkan permintaanku. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba-Mu ini yaitu Abu Hurairah dan ibunya orang yang dicintai oleh semua hambaMu yang beriman dan jadikanlah mereka berdua orang-orang yang mencintai semua orang yang beriman”. Karena itu tidak ada seorang pun mukmin yang mendengar tentang diriku ataupun melihat diriku kecuali akan mencintaiku [HR Muslim].

✅ Tanya Jawab.

1. Makna Raudhah dari taman surga.

A. Ketenangan hati
B. Ditempat itu ibadah itu spesial
C. Nanti di hari kiamat, akan berubah menjadi taman surga.

Semoga bermanfaat.

#bakti #orangtua #jihad #hijrah #menangis #salaf #sunnah #RizalYuliarPutrananda #durhaka

$$##-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?