Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID#49 – Nama Yang DIPERHAMBAKAN kepada selain Allah

Diterbitkan pertama kali pada: 10-Jul-2020 @ 20:53

4 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid Bab 49 Nama Yang DIPERHAMBAKAN kepada selain Allah.
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
14 Rajab 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

BAB 49 NAMA YANG DIPERHAMBAKAN KEPADA SELAIN ALLAH

          Firman Allah Subhanahu wata’ala :

فلما آتاهما صالحا جعلا له شركاء فيما آتاهما فتعالى الله عما يشركون

          “Ketika Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki laki yang sempurna (wujudnya), maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang dikaruniakan kepada mereka, maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka ” (QS. Al A’raf, 190).

          Ibnu Hazm berkata : “Para ulama telah sepakat  mengharamkan setiap nama yang diperhambakan kepada selain Allah, seperti : Abdu Umar (hambanya umar), Abdul Ka’bah (hambanya ka’bah) dan yang sejenisnya, kecuali Abdul Muthalib.”

          Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan:

“Setelah Adam menggauli istrinya Hawwa, ia pun hamil, lalu iblis mendatangi mereka berdua seraya berkata : “Sungguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkan kalian dari sorga. Demi Allah, hendaknya kalian mentaati aku, jika tidak maka akan aku jadikan anakmu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya, demi Allah, itu pasti akan ku lakukan”, itu yang dikatakan iblis dalam menakut-nakuti mereka berdua, selanjutnya iblis berkata : “Namailah anakmu dengan Abdul harits ”. 

Tapi keduanya (Adam dan Hawa) menolak untuk mentaatinya, dan ketika bayi itu lahir, ia lahir dalam keadaan mati. kemudian Hawwa hamil lagi (yang ketiga) , dan datanglah iblis itu dengan mengingatkan apa yang pernah dikatakan sebelumnya. Karena Adam dan Hawwa cenderung lebih mencintai keselamatan anaknya, maka ia memberi nama anaknya dengan “ lAbdul Harits”, dan itulah penafsiran firman Allah Subhanahu wata’ala : [جعلا له شركاء فيما آتاهما].

Pada keduanya menjadikan sekutu dari rezeki yang Allah berikan (berupa anak).

          Ibnu Abi Hatim meriwayatkan pula, dengan sanad yang shaheh, bahwa Qotadah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Yaitu, Adam dan Hawwa menyekutukan Allah dalam Ketaatan (bukan ibadah) kepada iblis, bukan dalam beribadah kepadanya ” .

          Dan dalam menafsirkan firman Allah [ لئن آتيتنا صالحا] yang artinya : “Jika engkau mengaruniakan anak laki-laki yang sempurna (wujudnya)” ,  Mujahid berkata : “Adam dan Hawwa khawatir kalau anaknya lahir tidak dalam wujud manusia”, dan penafsiran yang senada ini diriwayatkannya pula dari Al Hasan (Al Basri), Said (Ibnu Jubair) dan yang lainnya.

Hukum memberi nama Abdul kepada selain Allah.

1. Syirik besar, jika maksudnya penghambaan karena Rububiyah, misalnya nama Abdu AsySyam dengan meyakini matahari ikut mengatur alam semesta.

Jika maksudnya penghambaan uluhiyah, misalnya Abdu Al Uzza, dengan meyakini bahwa berhala Al Uzza juga berhak disembah selain Allah.

Abulahab itu nama Aslinya Abu Lahab, Tapi Allah tidak mau sebutkan dalam ayat Al Qur’an. Karena abdul uzza itu maknanya buruk.

Juga Abdur-Rasul jika meyakini Rasul ikut mengatur alam semesta maka syirik akbar

2. Syirik kecil, bila menyandarkan kenikmatan atau anugerah kepada selain Allah/untuk pengagungan.

Misalnya Abdul Harits, harits ini nama syetan dengan sebab nama harits akan selamat.

Contoh Abdul Kabah, dengan maksud penghambaan.

3. Boleh, jika maksud dari Abdu adalah budak.

Contoh : Abdul Muthalib, budak nya Muthalib. Nama aslinya adalah Syaibah, tapi dikira budak nya Muthalib.

Nama Abdul Husein, Abdul Rosul bisa syirik besar atau kecil tergantung keyakinan.

Allah berfirman,

{هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (189) فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (190) }

Dialah Yang menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah —Tuhannya— seraya berkata, “Sesung­guhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan Allah kepada keduanya itu. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Qs Al A’raf 189-190.

Khilaf dari para ulama.

1. Yang dimaksud dalam ayat adalah Adam dan Hawwa.

Ini pendapat jumhur ahli tafsir. Misal Ath Thabari, ini riwayat dari Ibnu Abbas dan murid2 nya seperti Mujahid dan Ikrimah.

Pendapat dipilih oleh penulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Dalil nya Marfu’ (Dhaif)
Atsar = dikritik sebagai riwayat Israiliyat
Ijma =oleh Ath Thabari (tp ternyata bukan).

Kisah Adam, karena Adam pertama kali digoda, dan Terjerumus, dan Adam bertaubat dan taubat nya diterima Allah, namun tetap diturunkan ke bumi sebagai hukuman.

Dan hikmah, doa taubat..

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

ROBBANAA AATINAA FID DUN-YAA HASANAH, WA FIL AAKHIROTI HASANAH, WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR.

Artinya: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201)

Harits (berusaha) =nama Iblis sebelum tersesat.

Bantahan :
1. Ijma ulama bahwa para nabi ma’sum (terjaga) dari dosa besar, sementara dalam ayat Adam dan Hawwa melakukan kesyirikan (dosa besar.)

2. Dosa ini tidak disebutkan oleh Adam di Padang Mahsyar, padahal dosa ini lebih parah dari pada dosa di surga.

3. Cara iblis menggoda aneh. Pakai ngenalin diri pernah nipu..

4.

جَعَلا
Mereka berdua, jenis laki-laki dan perempuan.

شُرَكَا
Jamak, bukan hanya 1 (Iblis) tapi banyak.

يُشْرِكُونَ
Mereka (banyak), jadi adalah anak keturunan Adam.

2. Yang dimaksud bukan Adam dan Hawwa, tetapi keturunan mereka

Pendapat As Syingkiti di Aduaul bayan.

3. Tawaquf- Allah lebih tahu siapa yang dimaksud.

Al Hasan Al Bashri, Ibnu Katsir, Syaikh Utsaimin.

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?