This entry is part 1 of 1 in the series Juz_amma
  • TAFSIR JUZ ‘AMMA – 01

Diterbitkan pertama kali pada: 12-Jan-2025 @ 14:38

7 menit membaca

📜 *TAFSIR JUZ ‘AMMA – 01*
✒️ Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’ di
🎤Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
Ahad, 12 Rajab 1446H/12 Januari 2025

Penulis tafsir ini Syaikh Al ‘Alamah Al Baqi Abdurrahman bin Nasir bin Abdullah bin Nasir As-Sa’di.

Beliau berasal dari suku Tamim dan dilahirkan di kota Unaizah di Qassim pada tanggal 12 Muharram tahun 1307 H.

Beliau tumbuh besar sebagai seorang yatim piatu. Ibunya meninggal ketika beliau berusia 4 tahun, dan ayahnya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun.

Beliau mulai mempelajari Al-Qur’an sepeninggal ayahnya, kemudian menyelesaikan hafalannya di umur 11 tahun. Beliau juga belajar dari para ulama besar di negaranya dengan sangat bersungguh-sungguh. Beliau terbilang hampir menguasai setiap bidang ilmu, kemudian beliau mulai mengajar di usia 23 tahun, dan menghabiskan hampir seluruh waktunya dengan belajar dan mengajar.

✅ Beberapa guru beliau

Syekh Ibrahim bin Hamad bin Jasir

Merupakan guru pertama Syekh As-Sa’di, seorang penghafal hadis, sangat penyayang terhadap fakir miskin, serta memiliki simpati yang besar terhadap mereka. Dikisahkan oleh Syekh As-Sa’di bahwa pernah suatu ketika datang seorang miskin kepada Syekh Ibrahim di musim dingin, kemudian beliau rahimahullah melepaskan salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada orang tersebut, meskipun tentu beliau juga membutuhkannya.

Syekh Muhammad bin Abdul Karim As-Shibl

Merupakan guru Syekh di bidang ilmu fikih dan ilmu-ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya. Beliau dikenal sebagai seorang pengembara dalam menuntut ilmu. Berbagai negara telah beliau jelajahi, termasuk di antaranya adalah kota Makkah, negeri Syam, Irak, dan bahkan hingga Lahore, India.

Syekh Saleh bin Utsman Al-Qad

Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tauhid, tafsir, fikih, dan usul fikih, serta ilmu-ilmu Arab, dan beliaulah guru yang paling banyak diambil ilmunya oleh Syekh As-Sa’di sampai beliau meninggal dunia.

Syekh Ali An-Nasir Abu Wadi

Merupakan guru Syekh As-Sa’di dalam ilmu hadis.

Syekh Muhammad bin Syekh Abdul Aziz Al-Muhammad

Direktur Ilmu Pengetahuan di Arab Saudi kala itu, merupakan guru Syekh As-Sa’di ketika beliau di Unaizah.

Syekh Muhammad As-Shinqiti

Merupakan guru Syekh As-Sa’di di bidang ilmu tafsir, hadis, dan ilmu-ilmu Arab, seperti ilmu nahwu, sharaf, dan lain-lainnya.

Di antara guru beliau yang lainnya adalah Syekh Abdullah bin Ayed, Syekh Saab Al-Quwaijri, Syekh Ali Al-Sanani, dan lain-lainnya.

✅ Beberapa murid beliau adalah.

1. Syaikh Abdulah bin Abdurrahman Al Bassam
2. Syaikh Abdullah bin bin Abdul Azis al ‘Uqoil
3. Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin

Beliau wafat pada tahun 1376 H, pada hari Kamis pada usia 66 tahun. .Beliau dishalatkan ba’da dhuhur pada hari itu juga,kota Unaizah tidak pernah menyaksikan shalat jenazah yang seperti itu sebelumnya

✅ Pujian ulama kepada Syaikh As Sa’di.

1. Dari Syaikh bin Baz : orang yang sangat mendalam dan banyak ilmu pada fikih dan sangat perhatian pada pendapat-pendapat Yang dikuatkan dengan dalil. Beliau sangat sedikit berbicara kecuali yang ada kebaikan di dalamnya.

”Beliau (al- Sa’di) banyak perhatian terhadap fiqih dan berupaya mengetahui yang rajih dengan dalil dalam perkara persilisihan. Sedikit bicara kecuali dalam perkara yang ada faidahnya. Saya tidak sekali bermajlis dengan beliau di Makkah dan Riyadh, selalu bicaranya sedikit
kecuali dalam masalah ilmu. Tawadhu’dan berperangai mulia. Siapa saja membaca kitab-kitabnya tentu tahu keutamaan, ilmu dan perhatiannya terhadap dalil. Semoga Allah merahmatinya dengan
rahmat yang melimpah.”

2. Dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.

“Sesungguhnya jarang sekali ada orang seperti dia dalam ibadah, ilmu dan akhlaqnya, dimana Ia memu’amalahi orang lain besar dan kecil sesuai dengan keaadaannya, memperhatikan orang-orang miskin dan membantu mereka secara langsung, Ia penyabar terhadap gangguan
orang dan selalu mohon ma’af ketika ada kiranya yang mengganggu orang lain”.

✅ Tafsir surat An Naba. Atau surat Amma.

Dalam surat ini ada kata Naba dan Amma karena ada kata tersebut ada kata tersebut.

Surat ini adalah surat makkiyah.

Ada khilaf.

1. Surat Makkiyah diturunkan di Makkah, surat Madaniyah diturunkan di madinah.

2. Surat Makkiyah turun sebelum hijrah nya Nabi ﷺ ke Madinah. Dan surat Madaniyah turun setelah Nabi ﷺ hijrah ke kota Madinah.

3. Surat Makkiyah – di dalamnya ada redaksi panggilan tertuju pada penduduk kota Makkah, sedangkan Madaniyah ada redaksi panggilan kepada penduduk Madinah.

Kemudian Syaikh menulis.

Bismillahirrohmannirrohim.

Karena.

1. Mengikuti surat awal Al Quran
2. Mengikuti Nabi ﷺ, seperti surat Nabi ﷺ kepada Heraklius.
3. Mengikuti imam Bukhari.

Surat pertama dari juz ‘amma yang akan kita selami kandungannya adalah surat an-Naba’ yaitu surat ke 78.

Allah Subhanallahu wata’ala berfirman :

عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ

“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (QS An-Naba’ : 1)

Kemudian Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:

عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

“mereka bertanya tentang berita yang besar.” (QS An-Naba’ : 2)

An-Naba’ dalam bahasa arab artinya berita, yaitu berita yang penting yang sedang mereka bicarakan. Bahkan Allah Subhanallahu wata’ala sifatkan dalam hal ini dengan الْعَظِيمِ yaitu berita yang besar. Para ahli tafsir masa salaf memiliki 3 pendapat tentang makna firman Allah Subhanallahu wata’ala النَّبَإِ الْعَظِيمِ “tentang berita yang besar”

Apa yang dimaksud dengan berita yang besar ini? Sebagian salaf mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengan berita yang besar

Yakin ada tiga macam.
1. Ilmu Yakin
2. Ainul Yakin
3. Haqqul Yakin

Berita besar yang dimaksud disini adalah tentang adanya hari akhirat. Orang-orang musyrik Quraisy mendustakan hari kiamat.

Iman itu susah, tidak perlu ada bukti tanda dzahir nya.

الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

“yang mereka perselisihkan tentang hal ini” (QS An-Naba’ : 3)

terjadi perdebatan tentang suatu berita besar yang membuat mereka berselisih. Ada yang sekedar menyangka akan adanya hari kebangkitan namun tidak meyakini, ada yang meyakini akan adanya hari kebangkitan mereka itulah kaum muslimin, ada pula yang benar-benar mengingkari akan adanya hari kebangkitan yaitu dari kaum musyrikin arab. 

كَلَّا سَيَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ

“sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui. Dan kemudian sekali-kali tidak, mereka akan mengetahui (kebenaran dari hari kebangkitan tersebut)” (QS An-Naba’ : 4-5)

Sekarang mereka mengingkari, tetapi kelak mereka akan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka dibangkitkan. Mereka akan menyaksikan dahsyatnya hari kiamat tersebut.

 أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهاداً (6) وَالْجِبالَ أَوْتاداً (7) وَخَلَقْناكُمْ أَزْواجاً (8) وَجَعَلْنا نَوْمَكُمْ سُباتاً (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِباساً (10) وَجَعَلْنَا النَّهارَ مَعاشاً (11) وَبَنَيْنا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِداداً (12) وَجَعَلْنا سِراجاً وَهَّاجاً (13) وَأَنْزَلْنا مِنَ الْمُعْصِراتِ مَاءً ثَجَّاجاً (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَباتاً (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفافاً (16)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh,  dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat. Qs An Naba 6-15.

Jarak antar langit adalah 500 tahun perjalanan. Ketebalan langit juga 500 tahun perjalanan. Sehingga untuk menempuh tujuh langit selama 7000 tahun perjalanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

ﻣَﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ ﺇِﻻَّ ﻛَﺤَﻠَﻘَﺔٍ ﻣُﻠْﻘَﺎﺓٍ ﺑِﺄَﺭْﺽِ ﻓَﻼَﺓٍ ﻭَﻓَﻀْﻞُ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﺮْﺳِﻲِّ ﻛَﻔَﻀْﻞِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻔَﻼَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﺤَﻠَﻘَﺔِ

“Tidaklah tujuh langit dibandingkan kursi (Allah Ta’ala) kecuali seperti cincin yang dilemparkan di tanah lapang dan besarnya ‘Arsy dibandingkan kursi adalah seperti tanah lapang dibandingkan dengan cincin“  HR Bukhari dan Muslim

Diciptakan pasangan yang sejenis, sama-sama manusia, bukan dari makhluk lain.
Inilah nikmat yang Allah berikan.

Malam adalah saat tidur untuk istirahat. Sebagai pemutus kesibukan, yang bila dipaksakan untuk kurangi waktu tidur pasti tidak nyaman badannya.

Alam jadikan malam dan tidur untuk dirasakan oleh manusia untuk tidak bergerak, istirahat untuk dapatkan ketenangan.

Allah bangun di atas nya langit yang kokoh, kuat. Dijadikan atap bagi bumi dan banyak manfaat bagi bumi.

Allah jadian matahari sebagai sumber cahaya, dan bermanfaat bagi manusia, hasilkan panas dengan banyak manfaat seperti untuk tumbuhan dll.

Dan Allah turunkan air yang banyak manfaat bagi tumbuhan dan manusia.

Allah jadikan tumbuhan, yang bermanfaat untuk hewan, untuk manusia.

Allah jadikan kebun yang lebat dan berisi buah yang bermanfaat bagi manusia.

Maka Yang berikan nikmat yang agung tersebut hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala… Bagaimana bisa kalian dustakan?

Setiap ketaatan adalah bentuk manifestasi kesyukuran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adalah sifat durhaka, bila nikmat yang Allah berikan digunakan untuk hal-hal yang bermaksiat kepada Allah.

Tawasul yang diperoleh.

1. Dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sempurna dalam berdoa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى فَا دْعُوْهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْۤ اَسْمَآئِهٖ ۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ 
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 180)

2. Tawasul dengan amal sholeh. Disebutkan dalam doanya.

ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

(Yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”
Surat Ali-Imran (3) Ayat 16

Juga kisah tiga pemuda yang terjebak dalam gua. (pemuda yang hindari zina, pemuda bakti orang tua, tuan yang memberikan gaji yang telah dikembangkan)

3. Doa orang sholeh yang masih hidup dan ada dan sanggup berdoa.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala ketika mengkisahkan anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam (yang artinya), “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)“.(QS. Yusuf:97).

Sedangkan dalil dari hadits adalah doa Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ‘Ukasyah bin Mihson radhiyallhu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar menjadikan ‘Ukasyah termasuk  tujuh puluh ribu golongan yang masuk surga tanpa hisab.

Semoga bermanfaat.

#tafsir #AhmadZainuddin #albanjary #annaba #juz30 #akhirat

$$##-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?