Diterbitkan pertama kali pada: 11-Des-2022 @ 13:25

8 menit membaca

📜 Silsilah Amalan Qolbu *”Al Muhasabah”*🎙️ Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
🗓️ 17 Jumadil Awwal 1444H /10 Des 2022
🕌 Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan doa memohon ilmu yang bermanfaat.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’an, wa a’uudzu bika min ‘ilmin laa yanfa’.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.
HR. Ibnu Hibban. Hadis hasan

Al Muhasabah = menyempurnakan hitungan dosa
Dengan wazan : Hasaba – yuhasibu – Muhasabatan…

♦️ Secara istilah, oleh Imam Al Mawardi (Ali bin Muhammad bin Habib, wafat di Baghdad – Syafi’iyah) : seorang mengulang di malam hari apa saja yang dia lakukan di siang hari.
Jika amalan itu baik dia ikuti dengan amalan semisalnya
Jika amalan itu buruk dia koreksi jika memungkinkan dan berhenti dari melakukan amalan itu.

🔹 *Hukum Muhasabah*
Adalah wajib – jika ditinggal dengan sengaja diancam dengan siksa.

🔹Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَوَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr: 18-19).

Ayat ini juga ada larangan untuk tidak Muhasabah.

Karena kelak kita akan ditanya Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ

“Tidak ada seorangpun dari kamu kecuali akan diajak bicara oleh Rabbnya ‘Azza wa Jalla tanpa ada penterjemah antara ia dan Allah.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

🔹Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) (dari syetan) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

Ingat = Muhasabah.

Dalil dari hadits tentang Muhasabah

🔹 Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani).

Ingat kematian – ingat persiapan – rajin ibadah dan amal sholeh.

🔹Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﺍﻟْﻜَﻴِّﺲُ ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻥَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ، ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺟِﺰُ ﻣَﻦْ ﺃَﺗْﺒَﻊَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺛُﻢَّ ﺗَﻤَﻨَّﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ

“Orang yang pandai adalah  orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsu, kemudian berangan-angan kosong kepada Allah” (HR. Tirmidzi).

Dua poin penting..
1. Perhatikan amal
2. Beramal untuk akhirat

Muhasabah adalah amalan Qalbu – hati bersih – selamat dari penyakit.

Para ulama berkata : Hati adalah raja anggota tubuh.

🔹 Dalil Ijma seperti dikatakan Imam Al IS as Syafi’iyah..

Para ulama sepakat tentang wajibnya hitung diri amalan yang sudah dilakukan dan amalan yang akan dilakukan.

✅ Tata cara Muhasabah dari metode

1️⃣ Sangat teliti dalam hitung dosa sebagaimana teliti nya pedagang saat hitung dagangannya

Maimun bin Mihran Al Jazary – Abu Ayyub (Ulama Tabiin) yang ajarin anak-anak Umar bin Abdul Aziz : seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia menghitung-hitung dosa dirinya lebih teliti dari hitungan dagangannya kepada seseorang, sampai dia teliti memperhatikan darimana dia makan/minum, uang untuk beli makan / minum.

Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa ayah beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu memiliki seorang budak yang setiap hari membayar setoran kepada Abu Bakar radliallahu ‘anhu (berupa harta atau makanan) dan beliau makan sehari-hari dari setoran tersebut.

Suatu hari, budak tersebut membawa sesuatu (makanan), maka Abu Bakar radliallahu ‘anhu memakannya. Lalu budak itu berkata kepada beliau: “Apakah anda mengetahui apa yang anda makan ini?”. Abu Bakar radliallahu ‘anhu balik bertanya: “Makanan ini (dari mana)?”. Budak itu menceritakan: “Dulu di jaman Jahiliyah, aku pernah melakukan praktek perdukunan untuk seseorang (yang datang kepadaku), padahal aku tidak bisa melakukannya, dan sungguh aku hanya menipu orang tersebut. Kemudian aku bertemu orang tersebut, lalu dia memberikan (hadiah) kepadaku makanan yang anda makan ini”. Setelah mendengar pengakuan budaknya itu Abu Bakar segera memasukkan jari tangan beliau ke dalam mulut, lalu beliau memuntahkan semua makanan dalam perut beliau”. (HR. Bukhari)

🖍️Al Is – Muhasabah itu seperti hitung dosa seperti pedagang yang pelit.

2️⃣ Menghitung dalam segala sesuatu baik, ucapan bahkan niat.

Said Ibnu Jubir – Muhasabah bukan hanya pada dosa tetapi juga pada amal sholeh.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ 

“dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)- mencela diri .”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)

Misal nya – witir nya kok cuma satu rakaat, baca Quran kok cuma 1 lembar..
Apalagi amal buruk.

🔹Hasan Al Bashri berkata – seorang beriman sikap paling dominan adalah selalu mencela dirinya.

Adapun orang yang banyak dosa – jalan terus.
🔹Ibnu Mas’ud : orang beriman melihat satu dosa bagaikan dia berada dibawah gunung yang akan runtuh – adapun orang fajir melihat dosa-dosa nya sepele…

3️⃣ Setelah hitung amalan – ganti amalan buruk dengan amal shalih.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ ۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ 

“Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud 11: Ayat 114)

🖍️ Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad, Tirmidzi)

Para salafus sholeh melakukan hal ini.

🔹Umar bin Khaththab menghukum dirinya ketika ketinggalan sholat Ashar berjamaah dengan sedekah tanah yang harganya 200 ribu dirham. (IDR 14 Milyar).

🔹Ibnu Umar – ketinggalan satu sholat jamaah maka akan hidup kan sholat malam semalam suntuk.

🔹Umar bin Abdul Aziz pernah sholat maghrib di akhir waktu padahal masih waktunya – beliau memerdekan dua budak.

🔹Ibnu Abi Rabiah ketinggalan sholat fajar maka memerdekan budak.

🔹Syaikh Abdurrazzaq mengatakan kualitas sehari seseorang ditentukan oleh awalnya, ini sesuai dengan hadits berikut.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Rabb kalian berfirman: ‘Wahai Anak Adam, apakah kamu tidak mampu untuk menunaikan salat empat rakaat di pagi hari? Dengannya Aku akan mencukupi kalian pada akhir hari kalian.'” HR Ahmad

4 rakaat ini adalah sholat Fajar dan sholat subuh.

🔹Ibnu Aun pernah menjawab saat dipanggil ibunya tapi suaranya lebih tinggi dari suara ibunya – maka beliau Muhasabah dan memerdekakan budak.

➡️ FAIDAH Muhasabah

1️⃣ Ringankan hisab di hari kiamat.

Makin banyak istighfar.

Hisab – yang mudah saja itu sulit.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya,

مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

“Barangsiapa yang dihisab, maka ia tersiksa”. Aisyah bertanya, “Bukankah Allah telah berfirman ‘maka ia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah’ (QS. Al-Insyiqaq: 8)” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu baru al-‘aradh (penampakan amal). Namun barangsiapa yang diteliti hisabnya, maka ia akan binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umar bin Khattab Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal” 

2️⃣ Orang yang sering Muhasabah tidak memiliki ujub dalam dirinya

Ujub – merasa diri punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain

Ujub lebih parah daripada riya karena riya mensyirikkan Allah dengan pujian manusia , sedang kan ujub itu mensyirikkan Allah dengan dirinya sendiri

Obat ujub adalah dengan Muhasabah

Abu Darda radhiyallahu anhu berkata : seseorang tidak dikatakan paham agama sampai dia benci pada orang yang lakukan kesalahan/kemaksiatan namun ketika dia pulang ke rumah dia lebih membenci dirinya sendiri kenapa dia lakukan kesalahan kepada Allah.

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu memiliki bau (tidak sedap) maka niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” 

Abu Tamimah berkata hari ini aku punya dua nikmat besar, yang mana lebih utama saya tidak tahu. Yaitu dosa-dosa yang Allah tutupi sampai seorang pun tidak mencela ku, dan rasa cinta yang Allah sampaikan padahal aku tidak sampai pada level itu..
Pesan nya – jadilah orang yang berkah.

3️⃣ Tidak merasa ujub

Merasa amalnya kurang..

Contoh nya doa seorang ulama saat di Arafah…. Yaa Allah jangan tolak doa-doa mereka karena aku yang berdosa ini.

Hammat bin Salamah – temui Sufyan Tsauri – Ahli zuhud – ahli haidtsyang berkata : Apakah pantas orang sepeti ku untuk bebas dari neraka?

Saat malam – letakkan HP jauh dari kita dan Muhasabah sampai keluar air mata..

Semoga termasuk salah satu dari 7 golongan yang dapat naungan dari Allah pada hari kiamat kelak.

Seorang ahli ibadah (Abdul Aziz) berkata – saya melihat amal ibadah ku lebih banyak terganggu syetan daripada yang ikhlas karena Allah.

➡️ MACAM-MACAM MUHASABAH

1️⃣ Niat Muhasabah

Seorang hendaknya diam pada niat nya bila niatnya sudah karena Allah maka lanjutkan.

Ibnul Qayyim berkata sering2 lah berkata untuk apa kalian lakukan amalan itu.

Allah berfirman,

 عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)

beramal lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)

Ahli amal tapi cuma dapat capeknya saja

2️⃣ Muhasabah saat beramal

Memperhatikan apakah amalan yang dilakukan tersebut adalah sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ.

Ibnul Qayyim : Muhasabah saat beramal – sering bertanya apakah sudah sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ atau tidak.

🔹Syaikh Abdurrazzaq dalam kitabnya yang berjudul 10 penyelamat di dunia dan akhirat adalah poin kedua mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, tidak hanya apa yang dilarang dan apa yang diperintahkan namun sampai gerak-gerik nya walaupun saat itu belum paham. Itulah para sahabat Radhiallahu’anhum.

Misal nya saat sholat, Nabi ﷺ lepas sandal dan sahabat juga ikuti gerakan Rasulullah ﷺ untuk lepas sandal.

3️⃣ Muhasabah setelah beramal

Setelah beramal banyak istighfar.
Yaitu untuk menutupi kekurangan saat beramal.

4️⃣ Muhasabah saat mengerjakan hal yang mubah.

Contoh makan, minum, tidur dst.

🖍️Setiap yang mubah jika dibarengi niat ibadah maka bernilai ibadah.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?