KAIDAH SUCIKAN JIWA # RAMADHAN
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 14:41
3 menit membacaKAIDAH PENSUCIAN JIWA – Ramadhan
Ustadz Kholid Syamhudi, Lc
23 Sya’ban 1440H
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.’” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).
Ibnul Qayym, amalan setahun akan diangkat pada bulan Syaban.
Dan amalan juga diangkat pada hari senin dan kamis.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,
“تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.”
“Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya
Amalan harian akan diangkat pada akhir siang (antara Ashar dan Maghrib), dan amalan malam diangkat pada akhir malam, yaitu waktu Subuh.
Oleh karena itu ada dzikir pagi (ba’da Subuh) dan dzikir sore (ba’da Ashar) supaya saat amalan diangkat kita sedang berdzikir.
Penentuan awal bulan..
1. Melihat hilal walaupun menyelisihi hisab, ada di Saudi
2. Hisab murni. (ormas)
3. Melihat hilal apabila seusai dengan hitungan hisab. (di Indonesia)
Bukan Ramadhan punya kekhususan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.
Pada bulan Ramadhan, syetan dari jenis jin dibelenggu, sedangkan syetan dari jenis manusia tidak..
Dibuka nya pintu surga dan ditutup nya pintu neraka serta dibelenggu nya jin jahat akan memudahkan manusia beramal kebaikan.
Barang siapa sholat malam dengan iman maka dosa akan diampuni..
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: – مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (shalat tarawih) atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Muttafaqun ‘alaih. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Keutamaan-keutamaan itu hanya dapat diperoleh bila kita punya ilmu..
Dalam perbaikan diri, kita harus perhatian lebih pada bulan Ramadhan ini, saat introspeksi dan perbaikan diri..
Bisa dimulai dengan pertanyaan, *Apakah kita akan sudah merasa puas dengan apa yang kita miliki (ilmu, amalan)?*
Bila jawabannya sudah puas, maka tunggulan kehancuran kita, tidak akan mampu memanfaatkan bulan Ramadhan.
Orang yang punya jawaban=Tidak puas, akan koreksi hati, maka kita munculkan tekad untuk merubah diri.
Bulan Ramadhan adalah bulan introspeksi..
Berkata ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
“Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal”
Bila sebelum Ramadhan tidak bersiap dengan introspeksi, maka saat itikaf kita tidak maksimal, mungkin akan sibuk dengan makan, tidur dan HP.
Bulan Ramadhan harusnya memudahkan kita untuk membaca dan tadabur Al Qur’an..
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ ، وَكَانَ يَعْتَكِفُ كُلَّ عَامٍ عَشْرًا فَاعْتَكَفَ عِشْرِينَ فِى الْعَامِ الَّذِى قُبِضَ { فِيهِ }
“Jibril itu (saling) belajar Al-Qur’an dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun sekali (khatam). Ketika di tahun beliau akan meninggal dunia dua kali khatam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pula beri’tikaf setiap tahunnya selama sepuluh hari. Namun di tahun saat beliau akan meninggal dunia, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari no. 4998).
Apakah Nabi shallallahu alaihi wasallam mampu khatam lebih banyak dari itu? Tentu mampu, Namun Nabi shallallahu alaihi wasallam memberi contoh dengan standar kemampuan umatnya..
Ramadhan memudahkan kita mencari pahala yang banyak.
Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻡَ ﻣَﻊَ ﺍْﻹِﻣَﺎﻡِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑَ ﻛُﺘِﺐَ ﻟَﻪُ ﻗِﻴَﺎﻡُ ﻟَﻴْﻠَﺔ
“Barang siapa salat malam bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) salat satu malam (penuh).”
HR Ahmad, shahih.
Jarak antara sahur dan adzan adalah bacaan 50 ayat, menunjukan bahwa para sahabat memperbanyak bacaan Alqur’an saat Ramadhan.
Ibadah yang berkesinambungan saat Ramadhan akan membantu kita memperbaiki diri.
Kaidah Pensucian jiwa..
1. Tauhid yang murni
2. Banyak berdoa
3. Membaca Al-Qur’an
4. Mengambil figur dan suri tauladan yang baik
5. Pembersihan jiwa sebelum menghiasi jiwa
6. Menutup celah yang berpotensi mengeluarkan kita dari proses penyucian jiwa
7. Mengingat kematian
8. Mencari teman yang baik
9. Berhati-hati dengan sifat Ujub dan tertipu diri sendiri
10. Mengenali jiwa.
Semoga bermanfaat..
$$##-aa-##$$


