Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATematikTazkiyatun Nafs

KELAS UFA : MATERI 64-65 (TAWADHU -Jaga Izzah) & TADABUR 5-6-7 (Sabar Hanya Berlaku di Dunia)

This entry is part 13 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 03-Apr-2021 @ 10:37

6 menit membaca

KELAS UFA : MATERI 64-65 (TAWADHU -Jaga Izzah) & TADABUR 5-6-7(Sabar Hanya Berlakudi Dunia)

Kelas UFA. 22.03.2021

➡️Tadabbur Quran 5 – Sabar Hanya Berlaku Di Dunia, Tapi Tidak di Neraka

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang kafir di hari kiamat kelak,

ٱصْلَوْهَا فَٱصْبِرُوٓا۟ أَوْ لَا تَصْبِرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْكُمْ ۖ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Masukklah kamu ke dalamnya ; maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.
Surat At-Tur (52) Ayat 16

Yang jadi perhatian kita adalah

ٱصْلَوْهَا فَٱصْبِرُوٓا۟ أَوْ لَا تَصْبِرُوا۟ سَوَآءٌ عَلَيْكُمْ

Kalian masuk neraka, sabar atau tidak sabar sama saja.

Ini berbeda dengan seseorang yang terkena musibah di dunia, dia bisa kuat bila bersabar.
Apalagi bila melihat orang-orang yang disekelilingnya sama.
Juga, bahwa musibah itu ada penghujung nya.. Suatu Saat akan selesai..
Sehingga bisa lebih sabar.

Hal ini beda dengan di neraka.
Keberadaan orang-orang yang dia tidak membuat nya semakin sabar
Juga sabar di neraka tidak ada Faidah nya.
AZAB tersebut tidak ada ujungnya.

Dalam ayat lain,

{سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِنْ مَحِيصٍ}

Sama saja bagi kita (penghuni neraka) , apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri. (Ibrahim: 21)

➡️ Tadabur 6 : Salah Satu Kiat Terhindar Dari Maksiat Adalah dengan Mengingat Nikmat dari Allah

Diantara metode agar kita mudah meninggalkan maksiat adalah mengingat-ingat nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita.

Seperti ayat ketika Yusuf Alaihissalam dirayu oleh Zulaikho..

Allah mengatakan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِيْ هُوَ فِيْ بَيْتِهَا عَنْ نَّـفْسِهٖ وَغَلَّقَتِ الْاَ بْوَا بَ وَقَا لَتْ هَيْتَ لَـكَ ۗ قَا لَ مَعَا ذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْۤ اَحْسَنَ مَثْوَايَ ۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الظّٰلِمُوْنَ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, “Marilah mendekat kepadaku.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 23)

Ketika Zulaikho merayu Yusuf Alaihissalam dan dia telah mengunci seluruh pintu-pintu, dia yang merayu Nabi Yusuf, godaan sangat berat, wanita tersebut sangat cantik jelita, tidak ada yang melihat dan dia yang mulai merayu, dan Yusuf masih muda dan sang wanita sudah sangat berhasrat kepada Yusuf dan Yusuf juga sudah tergerak hasratnya.

Ketika dirayu dalam keadaan yang sulit bagi seorang laki-laki untuk menghindar, Nabi Yusuf berkata

مَعَا ذَ اللّٰهِ اِنَّهٗ رَبِّيْۤ اَحْسَنَ مَثْوَايَ

Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya Rabbku (ada dua tafsir)

1. Rabbku, yaitu suamimu/majikanku baik kepadaku bagaimana aku membalas kebaikannya dengan berkhianat terhadap istrinya.

2.

اِنَّهٗ رَبِّيْۤ
Yaitu Allah, Sesunguhnya Rabb ku Allah telah berbuat baik kepada ku.

Bagaimana Allah berbuat baik kepadaku, memberikan aku banyak kenikmatan dan bagaimana aku berkhianat kepada Nya dengan bermaksiat?

Oleh karenanya jika seseorang tergerak berbuat kemaksiatan, maka dia ingat-ingat betapa banyak nikmat yang Allah berikan kepadanya apakah pantas baginya untuk membalas kenikmatan-kenikmatan tersebut dengan bermaksiat kepada-Nya.

Harusnya dia malu
Harusnya dia takut,
sewaktu-waktu Allah bisa mencabut nikmat tersebut,
Sewaktu-waktu Allah bisa merubah kondisinya dari kenyamanan menjadi tidak nyaman…

Oleh karenanya bila terbetik untuk berbuat maksiat, maka ingat-ingat nikmat Allah yang banyak.

Nikmat Iman, kesehatan, keluarga, nikmat bisa melihat, bisa mendengar sehingga kita mundur dari maksiat tersebut..

➡️Materi 64. Hamba yang tawadhu akan diangkat derajatnya oleh Allah.

Kita masih membahas hadits-hadits tentang tawadhu, kali ini hadits riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Umar, dari Umar bin Khaththab yang memarfu’kan hadits ini kepada Rasulullah ﷺ, ini hadits qudsi, hadits yang Rasulullah ﷺ meriwayatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bedanya dengan Al Qur’an, maka Al Qur’an tidak boleh diriwayatkan dengan makna adapun hadits qudsi boleh diriwayatkan dengan makna.

Alqur’an lafadznya, setiap huruf ada pahalanya secara khusus sebagaimana kata Nabi ﷺ
Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisal. Aku tidak katakan alif laam miim itu satu huruf. Namun alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.”

Jadi kalau kita baca Alif lam miim, kita dapat 30 kebaikan.

Berbeda dengan hadits qudsi, kita tidak beribadah dengan membaca Lafazh-Lafazh nya.

Nabi ﷺ bersabda, Allah berfirman, “Barangsiapa yang tawadhu karena Aku, (demikian), Yazid bin haarun, gurunya Imam Ahmad ketika meriwayatkan hadits ini maka dia mengarahkan telapak tangannya ke arah bumi (maksudnya merendah) dan dia turunkan telapak tangannya sampai mendekati bumi.

Apa kata Allah? Maka Allah berkata, ‘Aku akan angkat dia demikian. Kemudian Yazid bin harun mengarahkan telapak tangannya ke arah langit kemudian dia tinggikan lagi ke arah langit.

Hadits dengan sanad shahih.

Maksud hadits ini, tawadhu karena Allah, semakin tawadhu maka semakin diangkat oleh Allah.

Tawadhu harus dilatih
+ bicara tidak meninggikan diri kita
+ mulai bergaul dengan orang-orang susah
+ tidak ada salahnya kita ucapkan salam kepada orang lain
+ tidak ada salahnya kita menyapa duluan kepada kawan lama
+ kita layani tamu kita
+ kita telpon kerabat kita, meskipun kita lebih kaya dst..

➡️TADABUR 7: HIKMAH Kisah Nabi Yakub ketika tertimpa musibah

Nabi Yakub alaihissalam adalah orang yang paling termulia di zamannya, yang paling dicintai oleh Allah ﷻ,paling dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia seorang Nabi yang punya nama Israil,maka anaknya disebut dengan Banu Israil.

Meskipun dia orang yang paling dicintai oleh Allah, tapi justru dia yang paling diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dia dipisahkan dari putra yang sangat dia cintai, yaitu Yusuf Alaihissalam, yang dimana, jangankan berpisah, ketika kakak-kakak nya mengajak Yusuf untuk pergi dari rumah meskipun hanya 1 siang untuk bermain-main, dia sudah merasa sedih.

Dia berkata,

إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ

Aku sungguh sedih jika kalian bawa pergi adik kalian, Yusuf,

Baru berpisah sebentar sudah sangat sedih karena begitu sayangnya kepada Yusuf. Apalagi ternyata Yusuf harus pergi terpisah darinya puluhan tahun.

Hasan Al Bashri mengatakan puluhan tahun Yusuf terpisah dari Yakub alaihissalam setelah 40 atau 80 tahun baru kemudian mereka bertemu kembali. Dan setiap hari Yakub alaihissalam bersedih, sampai mata nya menjadi putih dan buta, gara-gara terus menangis memikirkan putranya Yusuf, yang dia tidak tahu nasib putranya, Yusuf alaihissalam tersebut.

Sehingga dia berkata,

 إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Sesunguhnya aku hanya mengeluhkan kesedihan ku dan penderitaan ku kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini pelajaran bagi kita, bahwasanya bukan berarti seorang diuji, berarti Allah benci sama dia, Allah campakkan dia.. Lihatlah Yakub alaihissalam, seorang yang paling dicintai Allah di zamannya, dia diuji dengan ujian yang sangat berat, dipisahkan dari orang yang sangat dia cintai.

Oleh karena nya apapun yang kita alami, kita senantiasa ber husnudzon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa jadi ujian tersebut tanda cinta Allah kepada hamba-Nya.

Dalam sebuah hadits,
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

Jika Allah mencintai sebuah kaum, Allah akan menguji mereka

Dalam hadits lain,
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah timpakan musibah baginya.

Kita tidak berharap dikasih musibah, tetapi kalau dikasih musibah kita husnudzon kepada Rabbul alamin bahwasanya musibah tersebut untuk menghapus dosa-dosa kita, untuk angkat derajat kita, ada hikmah-hikmah yang Allah kehendaki dibalik musibah tersebut..

➡️ Materi 65: HAMBA TAWADHU TETAP MENJAGA IZZAH

Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh beruntung orang yang tawadhu tanpa harus merendahkan dirinya” HR Tabrani

Hanya saja para ulama khilaf tentang kesahihan hadits ini.
Sebagian ulama menghasankan seperti Ibnu abdil Bar, kemudian dinukil Ibnu hajar dalam fathul Baari.
Sementara Syaikh Albani mendhaifkan hadits ini karena dalam sanadnya ada permasalahan.

Meskipun dhaif tapi maknanya benar, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan, jangan melakukan perbuatan-perbuatan yang akhirnya menghinakan dirinya.
Kita harus tawadhu tapi harus jaga Izzah (sebagai mukmin, sebagai penuntut ilmu)

Tawadhu ada batasan nya.

Contoh, seseorang ingin tawadhu tapi dia menceritakan kekurangan-kekurangan yang banyak. Akhirnya orang menghina dia.

Tawadhu bukan ini maksudnya, akan tetapi lemah lembut kepada orang lain, menghargai orang lain, sayang kepada yang lain.. Tidak merasa tinggi.

Tawadhu bukan yang merendahkan diri seperti pakai pakaian yang kumal diluar kewajaran yang akhirnya direndahkan orang.

Jadi tawadhu harus jaga Izzah (kemuliaan diri.)

Tawadhu mirip dengan dhoah. Dhoah itu seseorang merendahkan dirinya sampai terhina.
Sama halnya dengan Al Izzah (kemuliaan) dengan Al Kibr (kesombongan)
Sama-sama jaga kemuliaan, ada yang jaga kemuliaan dengan sombong, ada yang jaga kemuliaan dengan Izzah, tidak sombong.

Seorang tawadhu jangan dhoah (menghinakan dirinya)

kelasUF

KELAS UFA# Materi 61-62-63 (Keutamaan Tawadhu) & TADABUR 3-4 (Takwa) KELAS UFA : MATERI 66-67-68 (Tawadhu terhadap dunia) & TAFABUR 8-9 (Surga neraka bertingkat)
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?