Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATazkiyatun Nafs

KELAS UFA#Materi 5-6-7-8-9 : Amalan Hati – IKLHAS

This entry is part 5 of 37 in the series kelasUF

Diterbitkan pertama kali pada: 17-Des-2020 @ 11:49

12 menit membaca

#AMALAN HATI#1 IKHLAS
Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M.A.

Pekan-2

IKHLAS,

secara etimologi, diambil dari bahasa Arab dari kata Kholuso yang artinya murni, dan Allah menggunakan kata Kholuso dalam beberapa ayat, misalnya

{أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ}

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni . (Az-Zumar: 3)

وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَٰمِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّٰرِبِينَ

Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya.

QS. An-Nahl : 66

Allah mensifati susu yang murni..

مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ
antara kotoran dan darah

Kita tahu susu yang murni tidak tercampur setetes darah ataupun setitik kotoran.

Susu yang tercampur setetes darah atau setitik kotoran maka sudah tidak murni lagi.

Allah juga sebutkan contoh.
Dalam
QS. Yusuf : 80

فَلَمَّا ٱسْتَيْـَٔسُوا۟ مِنْهُ خَلَصُوا۟ نَجِيًّا

yaitu tatkala saudara Yusuf Alaihissalam putus asa untuk menukar adik Yusuf Alaihissalam yaitu Benyamin.

Allah mengatakan

خَلَصُوا۟ نَجِيًّا

Mereka pun menyendiri, berunding diantara mereka.

خَلَصُوا۟

Murni mereka sendiri, tidak ada orang lain.

Adapun Ikhlas, dari

Akhlasa – yukhlisu – akhlason, artinya memurnikan, yaitu secara sederhana maknanya seseorang memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Tidak boleh niatnya tercampur untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana murninya susu yang tidak tercampur setetes darahpun dan tidak tercampur setitik kotoran pun, demikian juga ketika seorang beribadah, niatnya Ikhlas karena Allah semata. Tidak harapkan pujian dari manusia, sanjungan dari manusia, karena ketika beribadah niatnya ingin dsanjung, dipuji maka tidak ikhlas ibadahnya dan tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sebagaimana dalam hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman..

ﺃَﻧَﺎ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﺍﻟﺸُّﺮَﻛَﺎﺀِ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙِ

Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh syarikat.
Tidak ingin diduakan, tidak ingin disamakan.

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﺃَﺷْﺮَﻙَ ﻓِﻴﻪِ ﻣَﻌِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻱ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻪُ ﻭَﺷِﺮْﻛَﻪُ

Barangsiapa yang melakukan amalan ternyata dia mensekutukan Allah dengan selain Allah, maka Aku akan meninggalkan dia dan kesyrikannya. HR Muslim no 2985

Jadi Allah hanya menerima ibadah yang 100 % hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika ibadah 90% untuk Allah dan yang 10% untuk selain Allah maka Allah akan tinggalkan dia dan dia sekutu kan dengan Allah.

Sebagian salaf mengatakan Al Ikhlas adalah ikhlas engkau tidak mengharap dari amalan mu saksi selain Allah dan engkau tidak berharap pemberi balasan dari selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Inilah syiar kaum Mukminin yang Allah sebut dalam Al Qur’an,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kalian.
QS. Al-Insan : 9

Sebagian salaf juga mengatakan, yang disebut dengan ikhlas adalah : melupakan pandangan atau penilaian manusia dengan selalu memandang kepada Sang Pencipta (Allah).

Inilah definisi Ikhlas, seseorang ketika beramal memurnikan niat hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan ini berlaku untuk seluruh ibadah, bukan hanya pada sholat, puasa sedekah, tetapi untuk seluruh ibadah.
Misalnya, menuntut ilmu harus ikhlas, bukan untuk diakui kawan2, bukan untuk dipuji Ustadz atau guru, bukan pula saat ujian nilai kita tinggi diakui oleh panitia.

Contohnya berbakti kepada orang tua, harus ikhlas, tidak perlu diceritain kepada orang lain bahwa saya berbakti kepada orang tua, saya yang mengobati orang tua, saya yang menghajikan orang tua, saya yang umrohkan orang tua, dll.

Amalan yang luar biasa tidak perlu harapkan pujian dari manusia.

Contohnya adalah dakwah, dakwah perlu keikhlasan, dalam Surat Yusuf ayat 108.

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah diatas ilmu, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.”

Jadi dalam dakwah harus ikhlas, menyeru kepada Allah, bukan menyeru kepada dirinya, kalau ada ustadz lain yang ramai dia jengkel (hasad), kalau ada grup lain banyak dia cemburu, nggak, dia beribadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk Yayasannya, bukan untuk pondoknya, bukan untuk majelis taklimnya, bukan untuk grupnya, Tidak boleh, dia berdakwah untuk Allah

أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ

Demikian, ikhlas harus kita usahakan dalam segala bentuk ibadah yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

#2 FAIDAH-FAIDAH IKHLAS

1. Orang yang ikhlas akan terjaga dari fitnah wanita.

Sebagaimana apa yang pernah dialami Nabi Yusuf alaihissalam yang digoda wanita yang konon namanya Zulaikho yang terkumpul padanya :
+ kecantikan
+ di dalam kamar yang tertutup, tidak ada yang melihat.

Namun Nabi Yusuf bisa selamat, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِۦ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَآ أَن رَّءَا بُرْهَـٰنَ رَبِّهِۦ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلْفَحْشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنْ عِبَادِنَا ٱلْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah sangat berhasrat (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.
Surat Yusuf (12) Ayat 24

Dalam sebagian qiroah dibaca

ٱلْمُخْلِصِينَ
Mukhlisin (hamba yang ikhlas).

Dua qiroah ini tidak bertentangan,
Pertama : mukhlasin, dia termasuk hamba yang terpilih
Kedua : mukhlisin, karena dia ikhlas, akan terpilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Orang yang senantiasa Ikhlas dalam ibadahnya, di kala fitnah genting, maka Allah akan selamatkan dia seperti Allah selamatkan Nabi Yusuf dari godaan wanita yang sangat cantik jelita.

2. orang yang ikhlas akan dinaungi Allah di hari kiamat di padang Mahsyar ketika matahari jaraknya hanya 1 mil.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyebutkan ada 7 golongan yang akan Allah naungi dimana tidak ada naungan selain naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana manusia keringat mereka bercucuran.

Diantara 7 golongan tersebut, Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata:

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

seseorang yang bershadaqah dengan tangan kanannya kemudian dia sembunyikan sedekahnya sampai-sampai, tangan kirinya tidak tahu apa yang disesekahkan tangan kanannya.

Ini menunjukkan kuatnya keikhlasannya.
Sampai-sampai anggota tubuh lainnya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, padahal kita tahu tangan kanan dan kiri selalu berdua-duaan,kerja sama dan apa yang dilakukan tangan kanan maka tangan kiri tidak tahu.

Kemudian diantara 7 golongan tersebut, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendiri lalu ia menangis.

خَالِيًا
Dalam keadaan sendirian.

Dan dia
+ mengingat Allah,
+ memikirkan keagungan Allah
+ takut kepada Allah

Ini menunjukkan bahwa dia ikhlas (sendiri).

Karena ada riya dalam tangisan saat dilihat orang lain.

3. Faidah Ikhlas lainnya, amalan-amalan yang bersifat duniawi, bisa mendapatkan pahala.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

“Tidaklah engkau menginfakkan satu nafkah dengan syarat mengharapkan (melihat) wajah Allah (yaitu Ikhlas) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah, sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari)

Dengan niat yang ikhlas, banyak rutinitas harian yang bisa mendapatkan pahala dari Allah.

Misalnya:

+ bekerja mencari nafkah (banyak bekerja dari pagi sampai petang).
+ membahagiakan istri
+ menyuapin istri (sedang mesra), itupun kalau niat karena Allah maka dapat pahala.

Materi7
FAIDAH IKHLAS

4. Membantu mewujudkan cita-cita

Barangsiapa siapa yang punya cita-cita yang mulia dan dengan niat yang tulus maka Allah akan mudahkan dia meraih cita-citanya.

Diantaranya ada sebuah hadits, bahwa ada seorang laki-laki Arab Badui datang kepada Nabi  ﷺ kemudian beriman kepada apa yang dibawa oleh nabi ﷺbdan mengikuti beliau ﷺ, Badui tersebut berkata kepada nabi ﷺ, “Aku akan berhijrah bersamamu,” Nabi  ﷺ dan para sahabat memberikan nasihat agama kepadanya. Pada sebuah perang , Nabi  ﷺ membagikan ghanimah kepada kaum muslimin.

Nabi ﷺ memberikan bagian kepada para sahabat yang membuat mereka bergembira, akan tetapi ketika pembagian sampai kepada si Badui yang datang terlambat karena dia bertugas di bagian belakang, tiba-tiba dia menolaknya sembari berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagian ghanimah untukmu yang berasal dari Nabi ﷺ .”

Mendapatkan jawaban para sahabat, si Badui terpaksa mengambil bagian ghanimah itu tetapi kemudian dia menghadap Nabi ﷺ. Sesampai di hadapan Nabi ﷺ, si Badui bertanya, “Harta apakah ini?” “Ini adalah bagian ghanimah yang aku bagi untukmu.” jawab Nabi ﷺ.

Kembali orang Badui itu berkata, “Bukan karena perkara ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu saat nanti aku terkena lemparan panah di sini –sambil menunjuk ke lehernya– sehingga aku terbunuh dan masuk jannah karenanya.”

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau Ikhlas kepada Allah, maka Allah akan mewujudkan cita-citamu.”

Setelah itu, kaum muslimin beristirahat sebentar, mereka kemudian  melanjutkan lagi penyerbuan terhadap musuh. Di tengah berkecamuknya peperangan, si Badui dibawa menghadap Nabi ﷺ dengan keadaan terkena panah di tempat yang sesuai dengan yang dia tunjukkan sebelumnya.

Melihat itu, Nabi ﷺ bertanya, “Apakah dia orang yang kemarin?” Para sahabat menjawab, “Benar,”

Nabi ﷺ bersabda, “Dia telah tulus/ikhlas/benar kepada Allah , maka Allah membenarkan keinginannya.” Selanjutnya Nabi ﷺ mengkafaninya dengan baju besi milik Nabi ﷺ dan Nabi ﷺ menyolatkannya.
HR Imam Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Albani.

Ini pelajaran bagi kita, kalau kita punya cita-cita yang baik maka tuluskan/Ikhlaskan niat kepada Allah.

#MATERI 8

Faidah Ikhlas berikutnya

5. Ikhlas merupakan sebab dikabulkannya doa dan dihilangkan kesulitan

Dalam hadits yang masyhur, Rasulullah ﷺ bercerita,

“Ketika ada tiga orang sedang berjalan, mereka ditimpa oleh hujan. Lalu mereka pun berlindung ke dalam sebuah gua di sebuah gunung. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung itu lalu menutupi mulut gua mereka.

Sebagian mereka berkata kepada yang lain, ‘hendaknya kalian berdoa dengan berwasilah dengan amalan terbaik yang pernah kalian lakukan. Mudah-mudahan Allah menyingkirkan batu itu dari kalian.’

Lalu berkatalah salah seorang dari mereka, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai dua ibu bapak yang sudah tua renta, seorang istri, dan anak-anak yang masih kecil. Aku menggembalakan ternak untuk mereka. Kalau aku membawa ternak itu pulang ke kandangnya, aku perahkan susu dan aku mulai dengan kedua ibu bapakku, lantas aku beri minum mereka sebelum anak-anakku.

Suatu hari, ternak itu membawaku jauh mencari tempat gembalaan. Akhirnya aku tidak pulang kecuali setelah sore. Aku dapati ibu bapakku telah tertidur. Aku pun memerah susu sebagaimana biasa, lalu aku datang membawa susu tersebut dan berdiri di dekat kepala mereka, dalam keadaan tidak suka/tidak enak membangunkan mereka dari tidur. Aku pun tidak suka memberi minum anak-anakku sebelum mereka (kedua orang tua) meminumnya.

Anak-anakku sendiri menangis di bawah kakiku meminta minum karena lapar. Seperti itulah keadaanku dan mereka, hingga terbit fajar.

Lalu aku berdoa ‘Kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukakanlah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langit.’

Lalu Allah bukakan satu celah hingga mereka pun melihat langit.

Yang kedua berkata, ‘Sesungguhnya aku punya sepupu wanita yang aku cintai, sebagaimana layaknya cinta seorang laki-laki kepada seorang wanita. Aku minta dirinya (melayaniku), tetapi dia menolak kecuali aku datang kepadanya (menawarkan) seratus dinar. Aku pun berusaha . Akhirnya aku kumpulkan seratus dinar (425 gr emas) , lalu menyerahkannya kepada gadis itu.

Setelah aku berada di antara kedua kakinya (siap untuk menzinainya) , dia berkata, ‘Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah. Jangan engkau memggauliku kecuali dengan haknya (yaitu nikah dulu).’

Aku pun berdiri meninggalkannya.

Kedua aku berdoa, vKalau Engkau tahu, aku melakukannya (yaitu meninggalkan zina dengan wanita itu padahal sudah sangat dekat) adalah karena mengharap wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami satu celah dari batu ini.’

Allah subhanahu wa ta’ala pun membuka satu celah untuk mereka.

Laki-laki ketiga berkata, ‘Ya Allah, sungguh, aku pernah mengambil sewa seorang pekerja, dengan upah satu faraq ( sekitar 3 sha’=sekitar 9 kg) jagung. Setelah dia menyelesaikan pekerjaannya, dia berkata, ‘Berikan hakku.’ Lalu aku serahkan kepadanya jagung tersebut, tetapi dia tidak menyukainya. Akhirnya aku tetap menanamnya hingga aku kumpulkan dari hasil jagung itu, sampai bisa membeli sapi dan penggembalanya. Sampai akhirnya dia mempunyai hasil yang banyak dari upah tersebut (sapi, unta, kambing yang banya).

Kemudian setelah sekian tahun, dia datang kepadaku dan berkata, ‘Ya Abdullah, mana upah ku.’

Aku pun berkata, ‘Pergilah, ambil sapi dan penggembalanya.’ (dalam riwayat lain disebutkan unta, sapi, kambing yang banyak)

Dia (heran) berkata, ‘Jangan mengejek ku.’

Aku pun berkata, ‘Ambillah sapi dan penggembalanya itu.’ Akhirnya dia pun membawa sapi dan penggembalanya lalu pergi.

Maka aku berdoa, ‘Kalau Engkau tahu bahwa aku melakukannya karena mengharap wajah-Mu, bukakanlah untuk kami apa yang tersisa.’

Orang ketiga juga sangat menakjubkan. Karena dia dengan jujur dan ikhlas mengolah upah pekerja yang 9 kg jagung menjadi banyak unta, sapi, kambing dan diambil tanpa disisakan baginya.

Allah pun membukakan untuk mereka sisa celah yang menutupi…

Mereka bertiga adalah orang-orang yang ikhlas dan dikabulkan doanya.

Materi 9

Faidah ke-6,Ikhlas memperbanyak pahala seseorang. Semakin tinggi Ikhlas seseorang maka pahala semakin besar.

Diantara cara dia semakin Ikhlas adalah dengan cara semakin menyembunyikan amalannya.
Karena semakin tersembunyi amalan maka dia semakin jauh dari sebab-sebab riya dan sebab-sebab ujub dan dia semakin fokus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Diantara dalil adalah, firman Allah dalam surat Al Baqarah..

إِن تُبْدُوا۟ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِىَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا ٱلْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّـَٔاتِكُمْ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kalian menampakkan sedekah kalian, maka itu baik. Tetapi kalau kalian sembunyikan kalian berikan kepada fakir miskin, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapuskan dosa-dosa kalian. Dan Allah akan tahu apa yang kalian lakukan.

QS. Al-Baqarah : 271

Karena Allah akan tahu sedekah yang kita sembunyikan.

Demikian juga Rasulullah ﷺ bersabda,

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

“sedekah yang dilakukan diam-diam akan meredakan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala”.

Dan telah disebutkan pada Faidah sebelumnya diantara orang yang mendapat naungan Allah di akhirat kelak adalah orang yang sembunyikan sedekahnya.

Dalil atau nash tentang hal ini adalah, hadits yang dishahihkan oleh Syaikh Albani, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ”

صَلَاةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعًا حَيْثُ لَا يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ

Shalat sunnah seseorang dengan tanpa dilihat oleh manusia, (pahalanya) dua puluh lima kali lipat kalau dilihat orang lain.

Dalam lain Rasulullah ﷺ bersabda, “Sholat sunnah seseorang yang dikerjakan di rumah pahalanya lebih besar dari pada kalau dia sholat sunnah di hadapan banyak orang”.

Perbandingannya, Seperti sholat berjamaah dibanding sholat sendirian.

Faidah agung dari ikhlas berikutnya (7),yaitu *Orang semakin Ikhlas, dia adalah orang yang paling bahagia dalam memperoleh syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat kelak.

Hal ini berdasar hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia mendapatkan syafaat engkau pada hari kiamat kelak?”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

Maka Nabi ﷺ menjawab , “Orang yang paling bahagia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat, adalah Orang yang mengatakan, ‘Laa ilaaha illallah’  dan dia ikhlas / tulus dalam hatinya .” (HR. Bukhari)

Jelas bahwa Nabi ﷺ mengatakan dalam hadits ini bahwa orang yang paling bahagia dengan syafaat Nabi ﷺ adalah orang yang paling tinggi tauhidnya, paling ikhlas dalam hatinya.

Perhatikan, hadits ini Abu Hurairah bertanya, dengan

مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ
Siapa yang paling bahagia, yaitu ada kata ism tafdhil.

Dan Nabi ﷺ juga menjawab sma,

أَسْعَدُ النَّاسِ

Ini menunjukkan bahwasanya orang-orang yang memperoleh syafaat Nabi bertingkat-tingkat.
Semakin ikhlas semakin besar mendapat bagian syafaat Nabi ﷺ.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab/terkabulkan , maka setiap nabi telah menggunakan doa tersebut. Dan aku menyisakan doaku tersebut sebagai syafaat bagi ummatku, kelak di hari kiamat. Maka, syafaat ku tersebut Insya Allah akan mengenai umatku yang meninggal tidak berbuat syirik sama sekali.” (HR. Muslim)

Jadi kalau mau meraih syafaat harus ikhlas dan semakin Ikhlas akan semakin bahagia meraih syafaat Nabi ﷺ.

Maka mari kita berjuang untuk beramal dengan ikhlas, semakin kita beramal untuk tidak mendapat pujian/penilaian orang lain, semakin fokus pada penilaian Allah Subhanahu wa Ta’ala maka akan semakin besar meraih syafaat Nabi ﷺ.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan syafaat Nabi ﷺ kepada kita semua pada hari dimana harta dan anak-anak tidak bermanfaat.

kelasUF

KELAS UFA#Materi 1-2-3-4: MEMPELAJARI AMALAN HATI KELAS UFA#Materi 10-11-12-13-14 : FAIDAH IKHLAS
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?