KITAB TAUHID#35 – RIYA
Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 17:09
5 menit membacaSyarah Kitab Tauhid – Bab 36: RIYA
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
7 Shafar 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bim
Firman Allah Subhanahu wata’ala :
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد، فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
“Katakanlah : “sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku : “bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa”, maka barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al Kahfi, 110).
Riya secara bahasa merupakan bentuk mashdar (kata benda) dari kata raa’a-yuraa’i, memperlihatkan amal shaleh kepada orang lain, agar dipuji atau diakui.
Hukum yang berkaitan dengan riya:
1. Riya adalah dosa besar karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menamakannya dengan syirik.
1.1 Hadits-hadits yang mengancam riya dengan neraka. (hadits tentang 3 orang yang pertama masuk neraka: syahid, ustadz – ahli ilmu, dermawan).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ، وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ، فَأَوَّلُ مَنْ يَدْعُو بِهِ رَجُلٌ جَمَعَ الْقُرْآنَ، وَرَجُلٌ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ كَثِيرُ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلْقَارِئِ: أَلَمْ أُعَلِّمْكَ مَا أَنْزَلْتُ عَلَى رَسُولِي؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا عُلِّمْتَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ فُلَانًا قَارِئٌ، وَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
وَيُؤْتَى بِصَاحِبِ الْمَالِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: أَلَمْ أُوَسِّعْ عَلَيْكَ، حَتَّى لَمْ أَدَعْكَ تَحْتَاجُ إِلَى أَحَدٍ؟ قَالَ: بَلَى، يَا رَبِّ، قَالَ: فَمَاذَا عَمِلْتَ فِيمَا آتَيْتُكَ؟ قَالَ: كُنْتُ أَصِلُ الرَّحِمَ، وَأَتَصَدَّقُ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ.
ثُمَّ يُؤْتَى بِالَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ: فِي مَاذَا قُتِلْتَ؟ فَيَقُولُ: أُمِرْتُ بِالْجِهَادِ فِي سَبِيلِكَ، فَقَاتَلْتُ حَتَّى قُتِلْتُ، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ: كَذَبْتَ، وَتَقُولُ لَهُ الْمَلَائِكَةُ: كَذَبْتَ، وَيَقُولُ اللَّهُ: بَلْ أَرَدْتَ أَنْ يُقَالَ: فُلَانٌ جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ ذَاكَ، ثُمَّ ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رُكْبَتِي، فَقَالَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمْ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))
“Sesungguhnya Allah yang Maha tinggi dan Maha suci akan turun kepada hamba pada Hari Kiamat untuk memberikan keputusan di antara mereka. Dan setiap umat dalam kondisi berlutut. Kemudian orang yang pertama kali dipanggil adalah orang yang menghafal Al-Qur`an, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak harta.
Maka Allah berkata kepada sang qari` (orang yang biasa membaca Al-Qur`an):
‘Tidakkah Kuajarkan kepadamu apa yang saya turunkan kepada RasulKu?’
Dia menjawab:
‘Benar wahai Tuhanku’.
Allah berkata lagi:
‘Apa yang kamu perbuat terhadap apa yang sudah kamu ketahui itu?’
Dia menjawab:
‘Saya menjalankannya sepanjang malam dan sepanjang siang’.
Maka Allah berkata:
‘Kamu telah berdusta’.
Dan para Malaikat berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Kemudian Allah berkata kepadanya:
‘Justru kamu melakukan hal itu dengan maksud agar dikatakan: Si fulan adalah qari`’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.
Kemudian didatangkan orang yang mempunyai banyak harta.
Allah berkata kepadanya:
‘Tidakkah sudah Kulimpahkan harta kepadamu hingga kamu tidak membutuhkan siapa pun?’.
Orang itu menjawab:
‘Benar wahai Rabbku’.
Allah bertanya lagi:
‘Apa yang kamu kerjakan terhadap harta yang Kuberikan kepadamu itu?’.
Dia menjawab:
‘Saya menggunakannya untuk menyambung silaturrahmi dan bersadaqah’.
Allah berkata kepadanya:
Kamu telah berdusta’.
Para Malaikat juga berkata kepadanya: ‘Kamu telah berdusta’.
Kemudian Allah berkata:
‘Justru kamu melakukan itu dengan maksud agar dikatakan: Si Fulan adalah lelaki yang dermawan’. Dan hal itu sudah dikatakan kepadamu.
Kemudian didatangkan orang yang terbunuh di jalan Allah.
Maka Allah berkata:
‘Dalam rangka apa kamu terbunuh?’.
Dia menjawab:
‘Saya diperintah berjihad di jalan Engkau. Maka saya berperang hingga terbunuh’.
Allah berkata kepadanya:
‘Kamu telah berdusta’.
Para Malaikat juga berkata kepadanya:
‘Kamu telah berdusta’. Allah berkata: ‘Justru kamu melakukan itu agar dikatakan kepadamu: Si Fulan adalah pemberani’. Dan hal itu telah dikatakan kepadamu.
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menepuk kedua lututku sambil berkata: ‘Wahai Abu Hurairah! Ketiga golongan itu adalah makhluk yang pertama kali Neraka dinyalakan untuk mereka pada Hari Kiamat’.”
2. Amalan yang terkontaminasi Riya
2.1 Riya sejak awal : tertolak amalan, pahala =0,ditambah dosa.
2.2 Riya muncul di tengah-tengah, awalnya ikhlas.
A. Berusaha diusir,
A1, berhasil
A2, tidak berhasil
Keduanya dapat pahala karena sudah berusaha.
B. Menikmati riya tersebut.
Khilaf
B1. Tetap dapat pahala karena yang jadi patokan adalah niat awal (pendapat Imam Ahmad)
B2. Dilihat jika amalannya satu kesatuan maka tidak dapat pahala. Jika amalan tidak satu kesatuan maka amalan yang tercampur riya itulah yang gugur.
Amalan satu kesatuan, contohnya shalat, haji
Amalan tidak satu kesatuan, sedekah m
2.3 Riya muncul setelah selesai beramal (sum’ah).
Ibnu Taimiyyah : ingin diakui adalah syahwat tersembunyi.
Khilaf.
A. Amal diterima, sum’ahnya yang dosa
B. Amalannya gugur karena sum’ahnya menggugurkan amalan.
Ibnul Qayyim cenderung pada pendapat ke2.
Jangan kalian sebut2 amalan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذى
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima). (Al-Baqarah: 264)
Ayat lainnya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
Qs Al Hujurat 2.
Ustadz lebih condong pendapat pertama.
3. Hukum bertaubat dari Riya
Apakah pahala amalnya bisa kembali?
Ada khilaf diantara ulama.
3.1 Pahala tidak bisa kembali, karena asalnya tidak ada amal shaleh, yang dilakukan adalah riya (syirik), jika bertaubat yang hilang adalah dosa riyanya tetapi pahala tidak ada.
3.2 Pahala bisa kembali
Dalilnya adalah amalan shaleh orang yang masuk Islam, amal shaleh semasa musyrik dapat pahala.
Mudah-mudahan pendapat kedua lebih kuat.
Seorang harus berhati-hati..
4. Dikira RIYA tetapi bukan Riya
Seseorang dipuji karena ketahuan amal shalehnya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
“khabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan”.
4.1 Menampakkan amal shaleh agar dicontoh. (pembuka kran kebaikan)
4.2 seorang terpacu beramal shaleh karena melihat orang lain atau suasana baru.
5. Cara hindari riya
– berdoa kepada Allah.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
Allaahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa anaa a’lam, wa astagh-firuka limaa laa a’lam.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.
HR. Ahmad dan imam yang lain 4/403, lihat Shahihul Jami’ 3/233, dan Shahihut Targhrib wat Tarhib oleh Al-Albani 1/19.
Atau..
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ، وَالْكُفْرِ، وَالْفُسُوْقِ، وَالشِّقَاقِ، وَالنِّفَاقِ، وَالسُّمْعَةِ، وَالرِّيَاءِ
Allaahumma innii a’uudzu bika minal faqri, wal kufri, wal fusuuqi, wasy-syiqooqi, wan-nifaaqi, was-sum’ati, war-riyaa-i.
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah dan riya’.
HR. al-Hakim (1944) dan dishahihkan al-Albani.
– latih diri untuk menyembunyikan amal.
Salamah bin Dinar berkata,
اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu”
– merenungkan tentang nasib orang yang riya di dunia maupun di akhirat.
Di akhirat masuk neraka
Di dunia gelisah.
– merenungkan hakikat orang yang dia harapkan pujiannya
– renungkan bahwa amal yang bermanfaat cuma yang ikhlas
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dalam hadits marfu’, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه ” رواه مسلم.
“Aku adalah Sekutu Yang Maha cukup sangat menolak perbuatan syirik. Barang siapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu” (HR. Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Said Radhiallahu’anhu dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟”, قالوا : بلى يا رسول الله، قال : ” الشرك الخفي يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل إليه ” رواه أحمد.
“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu yang bagiku lebih aku khawatirkan terhadap kamu dari pada Al Masih Ad dajjal ?”, para sahabat menjawab : “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan sholat, ia perindah sholatnya itu karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya” (HR. Ahmad).

