Diterbitkan pertama kali pada: 03-Sep-2020 @ 06:59

5 menit membaca

*WANITA DAN PERTEMANANNYA*
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
13 Muharam 1442H

Pertemanan dengan orang sholeh adalah salah satu jalan menuju surga.

Pertemanan karena Allah

1. *Keutamaan pertemanan karena Allah*

Allah berfirman,

ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ

Para teman dan sahabat pada hari kiamat akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa. QS Az-Zukhruf (43) Ayat 67

Oleh karena itu diantara tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah di akhirat kelak adalah dua orang yang mencintai karena Allah. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits,

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

dua orang yang saling mencintai di jalan Allah , keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,

Tujuh golongan yang berat dan ini yang paling ringan.. Dan yang enam lainnya sangat susah..

“Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ

(1) imam yang adil,

وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ

(2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh,

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

(3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid,

وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

(4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya,

وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ

(5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Aku benar-benar takut kepada Allah.’ (Bisa juga dimaknai wanita yang menahan diri dari godaan lelaki yang kaya, ganteng dan punya kedudukan).

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

(6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

(7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Sahabat bisa memberi syafaat kepada sahabatnya, orang yang dicintainya.

Dalam Al Qur’an orang-orang kafir berkata,

فَمَا لَنَا مِن شَـٰفِعِينَ فَمَا لَنَا مِن شَـٰفِعِينَ

Tidak ada pemberi syafa’at bagi kami dan tidak ada teman dekat, Qs Asy-Syu’ara (26) Ayat 100

Mereka punya teman dekat tapi tidak bermanfaat..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”

Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dibebaskan …” (HR. Muslim no. 183).

Syaratnya adalah pertemanan karena Allah.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567).

2. *Adab-adab pertemanan*

A. *Pertemanan tersebut harus karena Allah.*

2.1 pertemanan karena urusan dunia, ini boleh

2.2 pertemanan karena Allah, bukan karena dunia. Ini harus dikerjakan dengan ikhlas karena ini ibadah. (Al Mahabatu fiillah).

Ciri = pertemanan langgeng meskipun tidak ada urusan dunia.. Misal dulu kaya sekarang miskin masih temenan baik.

Misal berteman urusan kajian, baksos, dll.
Bila ingat dia jadi ingat akhirat…

Pertemanan karena Allah akan mendatangkan pahala.

B. *Pilah pilih teman..*

Rasulullah shalallaahu ’alaihiwasallam bersabda,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا

 “Janganlah engkau bergaul kecuali dengan seorang mukmin.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Hasan).

Dan dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud).

Hindari teman yang sering ajak ghibah, namimah.. Yang ajari membantah suami dll.
Tidak harus bermusuhan tapi tinggalkan dengan cara baik.

Ciri teman baik : ada kemajuan agama / iman. Yang ajak kita makin sering dzikir dll.

C. *kalau sudah berteman maka ada hak2 yang harus diperhatikan*

Misalnya : sakit dijenguk, diundang datang, susah dibantu, kalau kebahagian kita beri hadiah. Saling ucap salam, ketemu senyum dll.

Kalau dia salah kita beri nasihat..

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, tahaadu tahaabbu,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Kita harus peka terhadap perubahan teman, yang mungkin sedang kesusahan…

3. *Hal-hal yang merusak pertemanan.*

A. Pertemanan yang menjadikan wanita melupakan kewajibannya.

B. Menceritakan semua rahasia kepada temannya.
Hati2 Ibu yang suka curhat, latihan diri untuk menahan diri..

Bukan konsekuensi persahabatan adalah tahu rahasia teman.

C. Monopoli sahabat..
D. Terlalu sering pertemuan..

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا

Berkunjunglah jarang (tidak terlalu sering), niscaya semakin bertambah kecintaan.

Terlalu banyak ketemuan bisa menjadikan mudhorot.. (tidak harus ketawa ketiwi di WA).

E. Terlalu banyak sahabat.
1. Tidak bisa menunaikan seluruh hak mereka
2. Tidak bisa menjaga privasi (terlalu banyak tang tung WA misalnya).

F. Tidak memberi udzur kepada sahabat yang salah. Tidak ada kawan yang sempurna.. Bisa sebabkan saling bongkar aib.. (sering terjadi).

G. Tidak menasihati, ini kesalahan besar..
Siap memberi nasihat dan siap menerima.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (HR Bukhari)

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?