TematikUstadz Rizal Yuliar Putrananda, Lc

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 27- ORANG-ORANG YANG BERBICARA DENGAN UCAPAN YANG (MENGANDUNG) DZIKIR KEPADA ALLAH DAN TIDAK MEMBICARAKAN YANG LAINNYA

This entry is part 22 of 29 in the series 40Karakter
5 menit membaca

*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 27- ORANG-ORANG YANG BERBICARA DENGAN UCAPAN YANG (MENGANDUNG) DZIKIR KEPADA ALLAH DAN TIDAK MEMBICARAKAN YANG LAINNYA*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
20 Rabi’ul Akhir /11 Oktober 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan motivasi untuk duduk di majelis ilmu yang ada beberapa keutamaan : yaitu diberi ketenangan, dirahmati Allah, dikelilingi malaikat dan dibanggakan oleh Allah dihadapan makhluk Allah.

Tolok ukurnya adalah seberapa besar Allah mencintai kita bukan besarnya pengakuan cinta kita kepada Allah.

عن سَمُرَة بن جندبٍ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
«أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

Samurah bin Jundub -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Perkataan yang paling dicintai Allah ada empat: Subhanallah  (Mahasuci Allah), alhamdulillah  (segala puji bagi Allah), la ilsha illallah (tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah), dan allahu akbar (Allah Mahabesar). Tidak masalah dari mana pun engkau memulai.” HR Muslim

Ini tidak bertentangan dengan hadits lain,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan nasihat Rasulullah ﷺ lain nya,

لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah (dzikrullah).”

— HR. Tirmidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَا حٍ ۢ بَيْنَ النَّا سِ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 114)

Dan ingat Allah saat lapang, akan menjadikan Allah ingat saat sempit. Saat sempit adalah saat dimana kita panggil Allah dengan penuh khusyu.

“تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ”

“Kenalilah (ingatlah) Allah di masa lapang, niscaya Allah akan mengenalmu di masa sempit.”
— HR. Tirmidzi

Yang mana akan menuntun manusia untuk menuju surga.

Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «التَّقْوَى، وَحُسْنُ الْخُلُقِ» ، وَسُئِلَ مَا أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّارَ؟ قَالَ: ” الْأَجْوَفَانِ: الْفَمُ، وَالْفَرْجُ “

“Nabi pernah ditanya tentang perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga. Beliau menjawab “Ketakwaan dan perangai yang baik.” Beliau juga ditanya mengenai perbuatan yang paling banyak menyebabkan seseorang masuk ke dalam neraka. beliau menjawab “Dua lubang; Mulut (yakni lisan) dan kemaluan.” (HR. Ibnu Majah)

Hati-hati dengan hal yang dianggap kecil, bisa sebabkan adzab. Misalnya sebab adzab kubur yaitu tidak hati-hati dengan najis saat buang air, tidak menutup diri saat buang air dan adu domba.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

“Sesungguhnya dua orang ini sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena dosa besar menurut pandangan manusia: yang satu tidak bersuci dari air kencingnya, dan yang satu lagi suka mengadu domba.”
HR Bukhari dan Muslim.

Diriwayatkan dari sahabat Bilal bin Al-Harits Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَكْتُبُ اللَّهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ، فَيَكْتُبُ اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Bisa jadi salah seorang dari kalian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Allah ridha, dia tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu, lalu karenanya Allah mencatat keridhaan untuknya hingga hari dia bertemu dengan-Nya. Dan bisa jadi salah seorang di antara kalian mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Allah murka, dia tidak mengira kalimat itu sampai seperti itu, lalu Allah mencatat kemurkaan-Nya untuk orang itu hingga saat ia bertemu dengan-Nya.” (HR. Tirmidzi, shahih)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Salah seorang suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali orang yang ahli ibadah mendapatkannya tengah berbuat dosa, maka dia berkata, ‘Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi aku?’ Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau Dia tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga.’

Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu, kemudian mereka berdua menghadap Allah Rabbul ‘Alamin. Allah subhanahu wata’ala berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’ Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu.’ Sementara untuk ahli ibadah Dia berfirman (kepada para malaikat), ‘Masukkan orang ini ke neraka’.”
HR Ahmad, shahih

Takwa digandeng dengan lisan yang baik.

Hadits lain, kalau beriman pada Allah dan hari akhir, maka berkata baik atau diam.

Imam Malik, pernah didatangi seorang utusan yang baca banyak pertanyaan dan beliau hanya jawab sedikit.

Suatu hari, datang seorang lelaki dari jauh (ada riwayat menyebut dari Maghrib atau Andalusia) membawa sekitar 40 pertanyaan untuk ditanyakan kepada Imam Malik.

Setelah semua pertanyaan disampaikan, Imam Malik hanya menjawab beberapa pertanyaan saja, dan untuk sisanya beliau berkata:

> “لَا أَدْرِي”
“Aku tidak tahu.”

Orang itu heran dan berkata:

> “Aku datang dari jauh, membawa pertanyaan umatku untuk engkau jawab.”

Maka Imam Malik menjawab dengan penuh tawadhu:

قُلْ لَهُمْ إِنَّ مَالِكًا يَقُولُ لَا أَدْرِي
“Katakan kepada mereka bahwa Malik berkata: Aku tidak tahu.”

Masya Allah..

Menangis saat sendirian dihadapan Allah itu sangat sulit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka:

(1) mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan
(2) mata yang berjaga di jalan Allah.”
— HR. Tirmidzi

Hati-hati dengan lisan yang kadang memberi vonis orang lain kafir.

Latih lah lisan untuk Dzikri kepada Allah.

Beruntungnya orang yang catatan amalannya banyak dijumpai istighfar.
Istighfar (tutupi dosa dan hapus dosa).

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَسْتَخْلِصُ رَجُلًا مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلًّا، كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا؟ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ؟ قَالَ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: أَلَكَ عُذْرٌ، أَوْ حَسَنَةٌ؟ فَيُبْهَتُ الرَّجُلُ، فَيَقُولُ: لَا، يَا رَبِّ، فَيَقُولُ: بَلَى، إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً وَاحِدَةً، لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ، فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ، فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَيَقُولُ: أَحْضِرُوهُ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلَّاتِ؟ ! فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تُظْلَمُ، قَالَ: فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ، قَالَ: فَطَاشَتْ السِّجِلَّاتُ، وَثَقُلَتْ الْبِطَاقَةُ، وَلَا يَثْقُلُ شَيْءٌ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilanpuluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman : ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini ?. Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah mendhalimimu ?’. Orang itu berkata : ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman : ‘Apakah engkau mempunyai ‘udzur/alasan atau mempunyai kebaikan ?’. Orang itu pun tercengang dan berkata : ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman : ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kedhaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis : Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman : ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini ?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan didhalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad)

Basahi lisan dengan dzikir..

Semoga bermanfaat.

#salaf #cinta #Allah #nangis #surga #roja

##$$-aa-$$##

40Karakter

KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 26- ORANG-ORANG YANG MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 28- ORANG-ORANG YANG BERIMAN
Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?