KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 26- ORANG-ORANG YANG MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #01 (Muqaddimah)
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #6 ORANG-ORANG YANG SABAR
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG) DICINTAI ALLAH #02 : ORANG YANG BERTAUBAT
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG) DICINTAI ALLAH #03 : ORANG-ORANG YANG MENYUCIKAN DIRI.
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH-04
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 26- ORANG-ORANG YANG MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #5 ORANG-ORANG YANG MENGIKUTI TUNTUNAN NABI ﷺ
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #8 ORANG-ORANG YANG BERBUAT ADIL
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #9 JIHAD FII SABILILLAH
- KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH #10 HAMBA YANG SUKA MEMBACA SURAT AL IKHLAS
*KARAKTERISTIK HAMBA YANG DICINTAI ALLAH – 26- ORANG-ORANG YANG MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH*
Ustadz Rizal Yuliar Putrananda
20 Rabi’ul Awal /13 September 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Ustadz memulai dengan anjuran untuk segera beramal, karena banyaknya fitnah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” [HR. Muslim]
Kenapa bisa begitu? Karena seperti kata Rasulullah ﷺ – menjual akhirat dengan harga yang murah.
Kita lanjutkan –
Ibnul Qayyim – poin penting nya adalah bukan seseorang yang klaim dia mencintai Allah tetapi bagaimana Allah mencintainya.
Dan Rasulullah ﷺ mengajari doa,
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِى يُبَلِّغُنِى حُبَّكَ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَىَّ مِنْ نَفْسِى، وَأَهْلِى، وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.
Ambil pelajaran dari dialog Arab badui dengan Nabi ﷺ,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرِحْنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ.
Anas -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan,
Seorang arab badui bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari Kiamat. Dia berkata, “Kapan hari Kiamat akan terjadi?” Beliau ﷺ bersabda, “Apa yang telah engkau siapkan untuk hari Kiamat?” Orang itu menjawab, “Tidak ada. Hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya ﷺ.” Beliau bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” Anas berkata, “Belum pernah kami bahagia dengan sesuatu seperti bahagianya kami dengan sabda Nabi ﷺ, ‘Engkau bersama orang yang engkau cintai.'” Anas melanjutkan, “Sungguh aku mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar. Aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku pada mereka sekalipun aku belum beramal semisal amal mereka.”
HR Bukhari dan Muslim
✅ No 26.— Orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah.
Dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ bersabda,
لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ
قَطْرَةُ دُمُوعٍ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهْرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.
وَأَمَّا الأَثَرَانِ: فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ.
“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dua tetesan dan dua bekas.
Dua tetesan itu adalah tetesan air mata karena takut kepada Allah, dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah.
Sedangkan dua jejak kaki itu adalah jejak kaki di jalan Allah, dan jejak kaki dari menunaikan kewajiban di antara kewajiban-kewajiban Allah.” HR Tirmidzi, hasan.
Untuk introspeksi – kapan kita menangis karena takut kepada Allah dengan tulus?
Tangis bersama kerumunan manusia itu lebih mudah dari pada menangis bersendirian karena tidak takut kepada Allah.
Itulah sebabnya Islam mengajarkan kita untuk menikmati kesendirian bersama Allah.
Juga hadits tentang tujuh golongan yang dapat naungan Allah pada hari akhirat, salah satu nya adalah orang yang takut kepada Allah.
Dalam hadits Tirmidzi di atas yang dimaksud tetesan darah, bukan hanya saat perang tapi tetesan darah saat di jalan Allah. Misalnya mempertahankan harta dan keluarga dari gangguan orang.
Lihatlah Ibnu Mas’ud yang berasal dari kabilah yang paling lemah… Saat Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat yang saat itu masih sedikit. Siapa yang mau bacakan Al Qur’an dengan suara lantang? Ibnu Mas’ud mengajukan diri tapi Nabi ﷺ tidak langsung mengiyakan karena kuatir tidak ada yang membela Ibnu Mas’ud. Karena tidak ada yang lain, maka Ibnu Mas’ud akhirnya baca ayat dengan lantang dan dipukuli oleh Quraisy.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ، يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Dan kepada Allah bersujud segala yang ada di langit dan segala yang bergerak di bumi, juga para malaikat, sedang mereka (malaikat itu) tidak menyombongkan diri.
Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka, dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.
QS An Nahl 49-50.
Orang-orang yang sombong biasanya tidak takut kepada Allah.
Selain takut, rasa harap (roja) kepada Allah juga bisa teteskan air mata.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلٰى رَبِّهِمُ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَا فُوْنَ عَذَا بَهٗ ۗ اِنَّ عَذَا بَ رَبِّكَ كَا نَ مَحْذُوْرًا
“Orang-orang yang mereka seru itu (para mukmin) , mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah). Mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti.””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 57)
Hanzhalah dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma sempat merasa takut terjebak dalam kemunafikan.
أنَّهُ مرَّ بأبي بَكْرٍ وَهوَ يَبكي ، فقالَ : ما لَكَ يا حَنظلةُ ؟ قالَ : نافَقَ حنظلةُ يا أبا بَكْرٍ ، نَكونُ عندَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ يذَكِّرُنا بالنَّارِ والجنَّةِ كأنَّا رأيَ عينٍ ، فإذا رجَعنا إلى الأزواجِ والضَّيعةُ نسينا كثيرًا قال فواللَّهِ إنَّا لكذلِكَ انطلِقْ بنا إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليه و سلَّمَ فانطلقْنا فلما رآهُ فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ قالَ : ما لَكَ يا حنظلةُ ؟ قالَ : نافقَ حنظلةُ يا رسولَ اللَّهِ ، نَكونُ عندَكَ تُذَكِّرُنا بالنَّارِ والجنَّةِ كأنَّا رأيَ عينٍ ، رجَعنا عافَسنا الأزواجَ والضَّيعةَ ونسينا كثيرًا ، قالَ : فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ : لَو تدومونَ على الحالِ الَّتي تقومونَ بِها من عندي لصافحَتكمُ الملائِكَةُ في مجالسِكُم ، وفي طرقِكُم ، وعلى فُرُشِكُم ، ولَكِن يا حنظلةُ ساعةً وساعةً ساعةً وساعةً .
Ketika Hanzhalah bertemu dengan Abu Bakar dalam keadaan menangis, ia berkata, “Apa yang terjadi padamu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Abu Bakar. Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga seakan-akan kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun, ketika kami kembali kepada keluarga dan mengurusi hal-hal duniawi, kami melupakan banyak dari hal tersebut.”
Abu Bakar berkata, “Demi Allah, kami pun merasakan hal yang sama. Mari kita pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ketika mereka menemui beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Hanzhalah?” Hanzhalah menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Rasulullah. Ketika kami bersamamu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami melihatnya dengan jelas. Namun, ketika kami kembali, kami tenggelam dengan urusan keluarga dan dunia, dan melupakan banyak hal.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian selalu berada dalam keadaan seperti ketika bersama saya, para malaikat akan menjabat tangan kalian di majelis-majelis kalian, di jalan-jalan, dan di tempat tidur kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” (HR. At-Tirmidzi)
Takut dan roja harus dilatih, Tidak harus saat malam hari.
Ambillah pelajaran dari kisah pijakan dari batang kurma yang selalu dipakai Nabi ﷺ yang menangis karena para sahabat menggunakan pijakan baru untuk Nabi ﷺ.
Batang kurma yang gak punya hati saja rindu kepada Rasulullah ﷺ, bagaimana dengan Kita yang punya hati bisa tidak rindu kepada Rasulullah ﷺ.
Fudhail bin iyadh rahimahullah berkata:
“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”
Ingatlah kisah 3 pemuda yang merasa kurang amalan sholeh, ingin mengejar tambahan amal sholeh dengan tidak menikah, puasa terus dan tidak tidur.
Yang Nabi ﷺ tegur Karena cara tersebut tidak benar.
Contoh iman sejati, adalah pada hadits berikut.
عَنْ أَبِي فِرَاسٍ رَبِيْعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ أَبِيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَآتِيْهِ بِوَضُوْئِهِ، وَحَاجَتِهِ فَقَالَ: « سَلْنِي » فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، فَقَالَ: « أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ؟ » قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرةِ السُّجُودِ. »
Dari Abu Firas Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslami, pembantu Rasulullah (ﷺ) dan termasuk dari ahlu Suffah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku pernah bermalam bersama dengan Rasulullah (ﷺ), kemudian aku menyediakan air untuk baginda berwudhu dan keperluan beliau yang lain. Kemudian nabi bersabda: “Mintalah sesuatu kepadaku!”
Aku menjawab: “Aku berharap agar bisa bersamamu di surga.” Baginda bertanya: “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab: “Itu saja wahai Rasulullah.” Baginda bersabda: “Bantulah aku untuk mengabulkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.”
HR Muslim.
Nabi ﷺ tidak biarkan Rabi’ah berpangku tangan, tapi diminta tetap berusaha dengan banyak sujud.
Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata:
قُلتُ : يا رسولَ اللهِ ما النَّجاةُ؟
قال: «أَمسِكْ علَيكَ لِسانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيتُكَ، وابكِ على خطيئتك»
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?”
Beliau ﷺ menjawab:
“Tahanlah lisanmu, cukupkanlah dirimu dengan rumahmu, dan menangislah atas kesalahanmu.”HR Tirmidzi.
Semoga Allah jadikan kita menjadi hamba-hamba yang rindu akan Allah, rindu Rasulullah ﷺ dan jadikan hati kita yang sensitif akan nikmatnya di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga bermanfaat.
#salaf #cinta #Allah #nangis #surga #roja
##$$-aa-$$##


