Cara Mencintai Rasulullah ﷺ
Diterbitkan pertama kali pada: 10-Des-2020 @ 20:09
7 menit membacaCara Mencintai Rasulullah ﷺ
Ustadz Dr Firanda Andirja
17 Rabiul Awwal 1442H
🔘Muqodimah
Bagaimana cara kita mencintai Rasulullahﷺ ? Kita perlu mengetahui cara yang benar dalam mencintai Rasulullah ﷺ karena saat ini banyak yang mencintai Rasulullah ﷺ dengan cara yang tidak tepat.
⏺Ada 2 kelompok yang tidak tepat dalam mencintai Rasulullah ﷺ, yaitu:
1️⃣Kelompok dengan sikap yang kurang / menyepelekan sunah sunah Nabi ﷺ. Sikap yang menganggap ajaran Rasulullah ﷺ sudah tidak relevan
2️⃣Sikap yang berlebih-lebihan dalam mencintai Nabi dan mencintai Rasullah ﷺ dengan cara yang keliru.
Rasulullah ﷺ telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.
“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).”
Sebagian menganggap seakan-akan Nabi ﷺ adalah Tuhan yang disebutkan dalam syair mereka yang artinya “Sesungguhnya di antara kedermawanannmu wahai Rasulullah adalah dunia dan akhirat”.
Hal ini tidak benar karena dunia dan isinya milik Allah, apalagi surga.
Selain itu, kelompok ini menganggap di antara ilmu Nabi adalah ilmu yang ditulis oleh pena dan ilmu lauhul mahfudz. Hal ini juga tidak benar karena yang mengetahui hal-hal ghaib hanya Allah.
⏺Kita wajib mencintai Rasul ﷺ melebihi manusia manapun termasuk orangtua dan juga diri kita, tapi dalam mengekspresikannya harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul ﷺ dan para sahabat.
⏺Yang paling mencintai Nabi ﷺ adalah para sahabat karena sudah terbukti dengan sikap dan perbuatan, tapi dalam mengekspresikannya
Contoh ketika melihat Nabi ﷺ berjalan, sahabat yang dalam posisi duduk tidak berdiri karena mereka tahu Nabi ﷺ menyukainya.
🔘Muhabatun Nabi ﷺ (Cinta pada Nabi) adalah Ibadah Yang Agung
⏺Digandengkan dengan cinta pada Allah
Allah berfirman dalam Surat At-Taubah: 24
قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ
Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
Rata-rata manusia mencintai 8 perkara sesuai ayat di tersebut, tapi Allah memerintahkan untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ
“Tiga perkara, yang apabila seorang memilikinya, maka akan mendapatkan manisnya; orang yang menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selainnya, orang yang mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan orang yang benci pada kekafiran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana benci dilemparkan ke Neraka”
Dari 3 perkara tersebut, digandengkan cinta pada Allah dan Rasul-Nya sebagai yang utama.
⏺Nabi ﷺ Mewajibkan Mencintainya Lebih Dari Pada Yang Lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَوَ الَذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن وَلَدِهِ وَ وَالِدِهِ رواه البخاري
“Demi Dzat yang jiwaku di tanganNya. Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”
Di antaranya seperti dalam hadits Umar bin Al Khaththab :
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَر ُ رواه البخاري
“Wahai, Rasululah! Sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku,” lalu Nabi ﷺ bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwaku di tanganNya, sampai aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri”. Lalu Umarpun berkata: “Sekarang, demi Allah, sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri,” lalu Nabi ﷺ bersabda: “Sekarang, wahai Umar!”
Menujukkan bahwa cinta pada Rasulullah adalah wajib.
⏺Pahala Yang Besar Bagi Orang Yang Cinta Kepada Nabi
Hadits yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik:
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ وَيْلَكَ وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ قَالَ نَعَمْ فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا متفق عليه
“Seorang penduduk badui menjumpai Rasulullah dan bertanya: “Wahai, Rasulullah! Kapan hari Kiamat terjadi?” Beliau ﷺ menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Ia menjawab,”Aku tidak memiliki persiapan, kecuali aku mencintai Allah dan RasulNya,” maka Rasulullah bersabda,”Sungguh, engkau bersama orang yang engkau cintai.” Lalu kami berkata: “Demikian juga kami?” Beliau ﷺ menjawab,”Ya.” Maka kamipun pada hari itu sangat berbahagia”.
Orang orang yang mencintai nabi In Syaa Allah kelak akan bersama nabi jika cintanya benar.
🔘Bagaimana Cinta Yang Benar
Apa buktinya? Karena pengakuan cinta tanpa bukti hanya omong kosong
Cara Mencintai Nabi ﷺ dilakukan dengan 2 hal:
yaitu cinta di hati dan dengan aman perbuatan
Cinta di Hati
Cara menumbuhkan cinta di hati dilakukan dengan cara:
1️⃣Mengenali perangai nabi
⏺”Tak kenal maka tak sayang”
Seseorang kalau ingin mencintai nabi dengan sesungguhnya maka harus mempelajari sirah, hadist, perjalanan nabi, akhlak nabi.
⏺Mengenal akhlak nabi, karena akhlak beliau sempurna.
Allah berfirman Surat AlAnbiya:107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam
⏺Umur dan kehidupan Nabi Muhammad adalah keberkahan dan teladan hingga Allah berfirman mengenai kaum nabi Luth dalam Surat Al-Hijr: 72
لَعَمۡرُكَ إِنَّهُمۡ لَفِي سَكۡرَتِهِمۡ يَعۡمَهُونَ
“Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”.
2️⃣Mengenali jasa nabi
⏺Caranya adalah dengan mempelajari sirah Nabi. Karena manusiawi kita akan makin sayang pada seseorang yang mempunyai jasa pada kita.
⏺Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.
Semakin besar jasa seseorang, maka semakin kita mencintainya.
Untuk mengetahuinya harus dengan mempelajari sirah agar mengetahui jasa nabi. Dengan jasa nabi, kita mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
⏺Jasa Nabi jauh lebih besar dari jasa orangtua kita melahirkan dan menghidupi kita.
Karena dengan diutusnya Rasulullah ﷺ , manusia bisa merasakan indahnya Islam
Allah berfirman Surat At-Taubah: 128
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.
⏺Dalam sirah, bahkan jika orang-orang kafir Quraisy tidak masuk Islam maka beliau bersedih. Begitu juga dengan orang Yahudi
Dalam perang uhud, Seorang wanita dikabarkan ayahnya meninggal, suaminya meninggal dan saudaranya meninggal. Wanita ini selalu menanyakan “di mana Rasulullah?” Ketika wanita ini melihat Rasulullah dalam kondisi sehat, ia mengatakan jika Rasul selamat seluruh musibah ringan bagiku”.
Menunjukkan bagaimana wanita ini sangat mencintai Rasulullah ﷺ
Dengan Amal Perbuatan (الاتباع)
Konsekuensi yang logis dari mencintai adalah dengan cara:
1️⃣Taat pada orang yang dicintai.
Kalau cinta kita benar tulus, maka kita akan taat pada orang yang dicintai. Kalau kita cinta pada Nabi, maka kita pun akan taat pada ajaran-ajaran yang disampaikan Rasulullah ﷺ
2️⃣Meniru orang yang dicintai
⏺Allah berfirman Al-Ahzab: 21
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Firman Allah ini menjadi dalil Rasulullah diutus untuk diikuti dan semua yang dilakukan Nabi adah sunnah dan kita berusaha mengikutinya. Semakin banyak sunnah yang kita ikuti, menunjukkan semakin besar cinta kita pada Nabi
⏺Allah berfirman Ali-Imran: 31
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
🔘Praktek Nyata Ittiba’
1️⃣Berusaha mengamalkan sunnah-sunnah Rasul ﷺ
Semakin banyak mengamalkan sunnah menunjukkan semakin cinta pada Nabi
Sufyan Ats Tsauri berkata:
“Kalau engkau mampu tidak menggaruk kepalamu kecuali dengan dalil, maka lakukanlah.
Seseorang harus berusaha melakukan apapun sesuai dengan dalil, mulai keluar dari rumah, bagaimana masuk/keluar masjid, bagaimana memperlakukan orangtua, bagaimana memperlakukan tetangga, dll.
Contoh: memakai/melepas sendal sesuai sunnah, memakai dimulai dengan kaki kanan dan melepas dimulai dengan kaki kiri.
2️⃣Banyak Bersalawat Pada Nabi Terutama Hari Jumat
Allah berfirman Al-Ahzab: 56
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.
Shalawat sebagai sikap kita mengingat jasa Nabi ﷺ
3️⃣Meninggalkan Seluruh Larangannya
Jika Rasul sudah melarang, maka tinggalkanlah walaupun bertentangan dengan hawa nafsu.
Contoh: Rasul melarang wanita merias diri dan menampakkan ya, Rasul melarang bermain musik dan.
Pasti ada kebaikan dan kebahagiaan jika kita mengikuti larangan Rasul ﷺ
4️⃣Membenarkan Seluruh Perkataannya
Allah berfirman Surat An-Najm: 3-4
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ
إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ
“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”
Semua perkataan Rasulullah ﷺ jika hadistnya shahih, maka kita wajib membenarkan dan jangan ditolak ataupun dibantah.
5️⃣Mencintai Orang-Orang Yang Dicintai Nabi ﷺ
⏺Para Sahabat
Rasulullah ﷺ bersabda:
آيَةُ الإِيْمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ وَآيَــةُ النِّفَاقِ بُعْضُ الأَنْصَارِ
“Tanda keimanan adalah cinta kepada kaum Anshar. Dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar”
⏺Ahlul Bait
Di antara yang termasuk ahlul bait adalah istri-istri Nabi ﷺ , cucu Nabi ﷺ yang jika mereka orang yang soleh dan sesuai sunnah maka kita lebih cinta dari yang lainnya
⏺Orang-orang soleh
Para ulama karena mereka penerus ajaran Nabiﷺ
6️⃣Membenci Perbuatan Tidak Beradab Pada Nabi ﷺ
Contoh: perbuatan merendahkan atau menyepelekan sunnah-sunnahnya, merendahkan istri-istri Nabi ﷺ
7️⃣Meninggalkan bid’ah (yang tidak diajarkan Nabi ﷺ )
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Setiap bid’ah adalah sesat”
Beliau ﷺ bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”
Jika ada suatu perkara dalam beribadahan, maka sudah pasti Nabi dan para sahabat sudah melakukannya.
Seluruh ibadah harus dikembalikan apakah ada dalilnya atau tidak, jika tidak ada maka kita tidak perlu melakukannya.
Catatan ini ditulis oleh Akhir Giri
$$##-aa-##$$


