Diterbitkan pertama kali pada: 04-Jun-2023 @ 21:01

3 menit membaca

*ANTARA LOGIKA DAN SYARIAT*
Ustadz Maududi Abdullah, Lc
15 Dzulqaidah 1444H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

➡️ Poin-poin isi kajian.

1. Haq dan batil, halal dan haram, kebaikan dan keburukan semua sudah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, walaupun hanya 23 tahun, tetapi berlaku sampai akhir zaman.

2. Logika harus dibatasi dengan syariat yang telah diturunkan Allah.
Semua masalah termasuk kejadian yang dahulu belum ada sudah ada panduan dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Kedua nya adalah Wahyu dari Allah dan keduanya Hujjah bagi manusia.

3. Manusia adalah makhluk yang Allah beri keistimewaan yaitu akal. Dan akal bukanlah garis kebenaran. Kebenaran ada ada wahyu yang Allah turunkan, akal dan logika harus ikuti wahyu. Haq tidak akan keluar dari wahyu yang Allah turunkan.

4. Sebagian manusia melakukan kesalahan dengan menjadikan akal sebagai penentu kebenaran wahyu. ❌.
Dan secara logika hal ini menyalahi logika itu sendiri, karena Allah Yang Maha Pencipta tidak mungkin dikalahkan oleh ciptaan Nya.

5. Orang yang jadikan logika sebagai tolak ukur kebenaran biasanya orang-orang yang tidak beriman atau orang yang kurang ilmu dan terpengaruh oleh orang-orang yang salah.

6. Logika manusia berbeda-beda dengan perbedaan yang banyak sehingga tidak mungkin menjadikan logika sebagai ukuran kebenaran.

7. Logika itu sangat mudah dimasuki iblis dan bala tentaranya.

8. Syariat diturunkan untuk membimbing logika supaya berjalan dalam koridor kebenaran.

9. Secara logika, orang yang berakal lebih mulia daripada orang yang tidak berakal.
Namun sebagian orang menganggap orang yang akal nya terganggu lebih mulia, malah Dianggap Wali Allah. Alasan mereka wali Allah (anggapan mereka) karena banyak dzikir. Bantahan – dzikir yang benar tidak mungkin membuat akal terganggu.

10. Syariat itu untuk seluruh manusia, karena itu Allah turunkan syariat dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami oleh semua tingkatan manusia dan cocok untuk semua kalangan manusia.

11. Tidak boleh ragu dengan syariat yang Allah turunkan. Karena ragu adalah kufur.

12. Ustadz memberi contoh orang-orang yang menolak adanya hari kebangkitan dengan logika nya. (ajakan berfikir dalam koridor wahyu)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَـرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ سَوَآءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَا تُهُمْ ۗ سَآءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 21)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْۤ اَنْشَاَ هَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمُ 
“Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 79)

13. Terkait tauhid, Allah membantah orang-orang yang dengan logika nya berkeyakinan tuhan lebih dari satu (tuhan satu akan perang dengan tuhan yang lain).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا اتَّخَذَ اللّٰهُ مِنْ وَّلَدٍ وَّمَا كَا نَ مَعَهٗ مِنْ اِلٰهٍ اِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ اِلٰهٍ بِۢمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ.

“Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya, (sekiranya tuhan banyak,) maka masing-masing tuhan itu akan membawa apa (makhluk) yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 91)

14. Allah turunkan Al Qur’an justru menghidupkan logika secara benar.
Tetapi Allah tidak jadikan logika sebagai penentu kebenaran tapi penentu kebenaran adalah Allah dan Rasul-Nya.

15. Para ulama berkata LOGIKA bagaikan kemampuan melihat, dan syariat adalah cahaya. Tidak ada logika yang benar bertabrakan dengan syariat. Bila terjadi benturan maka ada dua kemungkinan.
1. Cara logika yang salah
2. Pemahaman syariat yang tidak shahih.

Maka apabila ada pertentangan antara logika dan syariat, maka tuding lah pada logika kita yang salah.

Semoga bermanfaat,

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?