5 menit membaca

*SAATNYA MENGHISAB DIRI*
Ustadz Ammi Nur Baits ST. BA
23 Shafar 1448H/ 7 Agustus 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah menyatakan bahwa beberapa orang diberi kemampuan mengajak orang-orang dengan penyampaian yang menyentuh, seperti Ibnul Jauzi.
Ibnul Jauzi yang pernah melakukan uzlah, menyendiri tapi beliau merasa itu adalah godaan syetan karena dengan meninggalkan majelis ilmu, dimana majelis ilmu bisa menyadarkan banyak orang untuk kembali ke jalan yang benar.

Ibnu Utsaimin melanjutkan – ada orang yang punya kemampuan ketika mengajarkan teoritis masalah fiqih, ushul fiqih dst.. Beliau sebut dirinya (Syaikh Utsaimin).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Allah merahasiakan banyak hal dari makhluk nya. Kita sholat tapi tak tahu apakah sholat kita diterima atau tidak.

Kita tidak tahu hal yang ghaib adalah anugerah.
Bisa jadi bila dinampakkan akan membuat malu pelaku maksiat.

Dan nanti Allah akan buka rahasia itu..

Surat At-Tariq (86) Ayat 9

يَوْمَ تُبْلَى ٱلسَّرَآئِرُ

Pada hari dinampakkan segala rahasia,

Allah tidak perintahkan kita mencatat amalan kita karena pasti tidak mampu.
Dan Allah perintahkan malaikat untuk mencatat.

Allah hanya ingat kan untuk memperkirakan amalan kita. (hisab).

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا تَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Dan takutlah pada hari (ketika) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 281)

Kita diingat kan untuk mempersiapkan diri pada sidang di akhirat.

Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu pernah memberi nasihat,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Karena sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian dalam menghadapi hisab kelak, jika kalian telah menghisab diri kalian hari ini.”

❓ Mulai dari mana kita hisab?

1. Mulai mengenang nikmat Allah. Yang mana akan muncul dua hal yaitu rasa malu dan rasa syukur.

وَالضُّحَى (1) وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى (2)

Demi waktu matahari yang sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi

{مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ}

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu. (Adh-Dhuha: 3)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Dengan banyak mengingat nikmat Allah, maka akan muncul rasa malu.. Dan syukur.

Umar bin Khaththab radhiyallahu pernah berkata pada diri sendiri – Muhasabah diri..

“Wahai Umar, dahulu engkau adalah orang yang hina, lalu Allah memuliakanmu. Dahulu engkau adalah orang yang tersesat, lalu Allah memberimu petunjuk. Dahulu engkau adalah orang yang rendah, lalu Allah mengangkat derajatmu. Maka janganlah engkau lupa kepada siapa yang telah memuliakanmu.”

Kemudian beliau mengingatkan dirinya dengan semangat hisab diri:
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab. Timbanglah amalmu sebelum amalmu ditimbang. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan bagi orang yang telah menghisab dirinya di dunia.”

Kehidupan akhirat kita dipersiapkan dari sekarang. Kita seperti membangun tempat kita di surga.

2. Membayangkan keadaan kita di akhirat. Bayangkan keadaan di surga dan neraka.

Ibrahim bin At-Taimi rahimahullah tentang muhasabah dan membayangkan keadaan akhirat.

قال إبراهيم التيمي رحمه الله: “مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي الْجَنَّةِ آكُلُ مِنْ ثِمَارِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ أَنْهَارِهَا، وَأَعَانِقُ أَبْكَارَهَا، ثُمَّ مَثَّلْتُ نَفْسِي فِي النَّارِ آكُلُ مِنْ زَقُّومِهَا، وَأَشْرَبُ مِنْ حَمِيمِهَا، وَأُعَالِجُ سَلَاسِلَهَا وَأَغْلَالَهَا، فَقُلْتُ لِنَفْسِي: أَيْ نَفْسُ، أَيَّ شَيْءٍ تُرِيدِينَ؟ قَالَتْ: أُرِيدُ أَنْ أُرَدَّ إِلَى الدُّنْيَا فَأَعْمَلَ صَالِحًا، قُلْتُ: فَأَنْتِ فِي الْأُمْنِيَّةِ فَاعْمَلِي.”

“Aku membayangkan diriku berada di dalam surga: aku memakan buah-buahannya, meminum dari sungai-sungainya, dan memeluk para bidadarinya. Kemudian aku membayangkan diriku berada di dalam neraka: aku memakan buah zaqqumnya, meminum air yang mendidih, dan merasakan belenggu serta rantainya.

Lalu aku berkata kepada diriku: Wahai jiwa, apa yang engkau inginkan?
Jiwaku menjawab: Aku ingin dikembalikan ke dunia agar aku dapat beramal saleh.
Aku berkata: Engkau sekarang berada dalam kesempatan itu, maka beramallah.”

Dan kembali ke dunia setelah meninggal adalah tidak mungkin. Yang ada adalah penyesalan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَـيَا تِى

“Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.””
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 24)

Contoh lain, Al Ahnaf bin Qais – kalau ingat ada maksiat yang dia lakukan – ia dekat kan jarinya di atas nyala lilin.. Dia lakukan beberapa kali sesuai jumlah maksiat yang dia lakukan.

Umar bin Abdul Aziz juga sering melakukan Muhasabah diri.

“إِنِّي لَأَكْرَهُ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ عَالِمًا فِي نَفْسِهِ، مُبْدِيًا لِعِلْمِهِ فِي كَلَامِهِ”

“Aku tidak menyukai seseorang yang merasa dirinya berilmu, lalu menampakkan ilmunya melalui perkataannya.”

Dan di antara perkataan beliau yang masyhur tentang muhasabah dan kerendahan hati:

“رَحِمَ اللهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ”
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengetahui kadar dirinya.”

3. Membandingkan berapa banyak nikmat yang kita terima dan maksiat yang kita lakukan.

Ketika tidur kita di wafat kan sementara,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفّٰٮكُمْ بِا لَّيْلِ وَ يَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِا لنَّهَا رِ ثُمَّ يَـبْعَثُكُمْ فِيْهِ لِيُقْضٰۤى اَجَلٌ مُّسَمًّى ۚ ثُمَّ اِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian, Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditetapkan. Kemudian kepada-Nya tempat kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 60)

Maka Rasulullah ﷺ berdoa ketika bangun tidur,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepadaNya.

Seandainya setiap maksiat digantikan dengan satu kerikil, bisa jadi rumah kita penuh dengan kerikil.
Manusia itu mudah melupakan maksiat yang dilakukan tapi selalu dicatat oleh malaikat. Allah berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Dan orang-orang ketakutan dengan catatan amalan nya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَ يَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَـتَـنَا مَا لِ هٰذَا الْـكِتٰبِ لَا يُغَا دِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّاۤ اَحْصٰٮهَا ۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَا ضِرًا ۗ وَ لَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا

“Dan diletakkanlah Kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 49)

Takutlah dengan hal-hal yang dahsyat di akhirat kelak dan persiapkan diri.

Hisab lah diri ini mulai sisa umur kita yaitu saat ini, sekarang. ❗

Semoga bermanfaat.

#anb #akhirat #hisab #surga #neraka
#sunnah #salaf

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?