Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc MATauhid

KITAB TAUHID#40 INGKAR TERHADAP NIKMAT ALLAH

Diterbitkan pertama kali pada: 11-Jul-2020 @ 16:30

3 menit membaca

Syarah Kitab Tauhid Bab 40 INGKAR TERHADAP NIKMAT ALLAH
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
26 Rabi’ul Akhir 1441
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

INGKAR TERHADAP NIKMAT ALLAH

Firman Allah Subhanahu wata’ala :

…يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها

“Mereka mengetahui nikmat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya (QS. An Nahl, 83).

Supaya berhati-hati dalam menyandarkan nikmat, supaya tauhid kita bersih.

Bila mendapat nikmat :

1. Mengakui dengan hati

1.1 Bahwa semua nikmat hanya dari Allah. Qs an nahl 53
Surat An-Nahl (16) Ayat 53

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)

1.2 Jangan pernah merasa bahwa saya memang berhak mendapat nikmat tersebut.

2. Mengakui dengan lisan
2. 1 banyak memuji Allah
2.2 menyebut nikmat Allah dengan menyandarkan kepada Allah. Misal Ini adalah karunia Allah.
2.3 jangan mengandarkan kepada sebab.

3. Pengakuan dengan amalan.
3.1 menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan dan bukan untuk kemaksiatan.

Bagaimana sikap kita kepada sebab??
1. Berterima kasih..
جزاك الله خير
Atau syukron jazilan.

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.

Bahwasanya sebab yang sedang kita hadapi tersebut sebenarnya adalah silsilah rangkaian sebab dan yang merangkainya adalah Allah.

Surat An Nahl juga dinamakan surat An Nikmat, karena banyak nikmat-nikmat.

Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang : “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.”

Aun bin Abdullah mengatakan : “Yakni kata mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini’.”

          Ibnu Qutaibah berkata, menafsiri ayat di atas : “mereka mengatakan : ini adalah sebab syafa’at sembahan-sembahan kami”.

يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها

Mereka mengetahui nikmat Allah lalu mereka mengingkarinya

Khilaf tentang nikmat Allah (Al mufrod al mudhof=keumuman)

1. Nikmat Allah =nikmat duniawi
Kebanyakan dalam surat An Nahl adalah nikmat dunia.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memilih pendapat yang pertama.

1. 1 aku mewarisi harta dari nenek moyangku
1.2 kalau bukan karena si fulan tentu telah terjadi demikian dan demikian
1.3 ini nikmat kita dapatkan dari karena syafaat sesembahan kita.

Harta itu sebenarnya milik Allah. Kita cuma dititipi.

Allah berfirman..

آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.

Kadang kita gak tahu harta kita dimana, inilah bukti harta adalah milik Allah.

Dan ini yang lebih sering terjadi di masyarakat, nikmat disandarkan pada sebab (syirik kecil).

2. Nikmat Allah =nikmat agama yaitu diutusnya Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Ayat sebelumnya (ayat 82) dan sesudahnya (84) tentang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Yang benar nikmat Allah adalah nikmat seluruhnya yaitu dunia dan akhirat.

Abul Abbas setelah mengupas hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid (tentang bintang) yang didalamnya terdapat sabda Nabi : “sesungguhnya Allah berfirman : “pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kifir …, sebagaimana yang telah disebutkan di atas ia mengatakan :

          “Hal ini banyak terdapat dalam Al qur’an maupun As sunnah, Allah Subhanahu wata’ala mencela orang yang menyekutukanNya dengan menisbatkan nikmat yang telah diberikan kepada selainNya”.

          Sebagian ulama salaf mengatakan : “yaitu seperti ucapan mereka : anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang bisa muncul dari ucapan banyak orang.

Ini perkara penting, karena kita sering terjerumus pada masalah ini.

Kalau kita ceritakan sebab bukan untuk menyandarkan kepada sebab maka itu tidak mengapa. Sekedar berita.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

(لولا بنو إسرائيل لم يَخْبُثِ الطَّعَامُ ولم يَخَْزِ اللَّحْمُ. (متفق عليه

“Seandainya kalau bukan karena ulah Bani Isra’il, niscaya makanan tidak akan pernah basi dan daging tidak akan pernah membusuk.”  (HR. Muttafaqun ‘alaih).

Tentang Abu Thalib,

هُوَ فِي ضَحْضَاحٍ مِنْ نَارٍ، وَلَوْلاَ أَنَا لَكَانَ فِي الدَّرَكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

”Dia berada di permukaan neraka. Andai bukan karena aku, niscaya dia berada di kerak neraka.” (HR. Ahmad 1774 dan Bukhari 3883).

Ini adalah khabar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bukan sedang sebutkan nikmat.

Semoga Bermanfaat…. ditutup dengan doa kafaratul Majelis..

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

SUBHAANAKALLOHUMMA WA BIHAMDIKA, ASY-HADU ALLA ILAHA ILLA ANTA, AS-TAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIK

(Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu)

##$$-aa-##$$

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?