Diterbitkan pertama kali pada: 16-Jul-2020 @ 17:42

6 menit membaca

Ustadz Dr. Firanda Andirja
4 Sya’ban 1438 H
Masjid Al Ikhlas

Pada awalnya tauhid dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

1) TAUHID AL ‘AMAL WA AT-THULAB
Topiknya… :
Amal-amal hamba, seperti do’a, sholat, menyembelih, takut, berharap, bersumpah dll
(Semua bentuk-bentuk ibadah)

2) TAUHID AL ‘ILMI WAL MA’RIFAT
Topiknya… :
Dzat,nama (asma) ,sifat ,fiil (perbuatan2 Alloh)

TAUHID AL ‘ILMI WAL MA’RIFAT terbagi lagi menjadi 2 yaitu… :

1) TAUHID RUBUBIYAH

Topiknya… :
Af’alulloh (perbuatan-perbuatan Allah) seperti mencipta, menghidupkan dan mematikan dll..
Rububiyah adalah perbuatan-perbuatan Alloh dalam mencipta, menghidupkan, dan mematikan…
Rukunya ada 3 yaitu… :
a) AL KHALQU ( penciptaan )
b) AL MULKU (pemilikan)
c) AT-TAZDBIR ( pengaturan)
Diantaranya menghidupkan, mematikan, memberi Rizki dll

Anda dikatakan dikatakan bertauhid Rububiyah bila meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan…
Dan meyakini bahwa hanya Allah yang memiliki alam semesta…
Dan meyakini bahwa yang mengatur alam semesta hanyalah Allah ﷻ
Tidak ada Allah memberikan hak otonomi kepada siapapun ikut-ikutan mengatur alam semesta ini…
Barang siapa meyakini ada yang lain yang ikut mengatur alam semesta maka dia musyrik kepada tauhid Rububiyah….
Contoh.. :
Meyakini Nyi Roro kidul ikut mengatur pantai Selatan….
Begitu juga meyakini ada jin yang menguasai Gunung Merapi juga musyrik kepada tauhid rububiyah…

2) TAUHID ASMA WAS-SHIFAT

Kita meyakini bahwa nama-nama Allah yang mengandung makna yang tinggi hanyalah milik Alloh ﷻ
Diantara nama-nama Alloh adalah AL ‘ALIM
Manusia juga ada yang diberi nama al alim akan Tetapi Al Alimnya Alloh adalah maha mengetahui…
Kenapa kita menterjemahkan Nama Allah dengan Maha….?
Karena untuk membedakan nama Allah dan nama makhluq….
Manusia ada yang namnya ‘alim tapi dia bahlul ada….
Kalopun ada orang namanya Alim pasti beda dengan Alimnya Allah karena Allah Maha Mengetahui…

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

ؕ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

” Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”
(QS. Al-An’am: Ayat 59)

Jumlah daun, atau pohon yang ada dialam semesta tak terhingga, tapi satu daunpun yang gugur Alloh mengetahuinya….
Kenapa..? Karena semua daun itu adalah ciptaanya Allah….
Tidak ada yang mengetahui daun jatuh kecuali Allah….

Adapun tauhid TAUHID AL ‘AMAL WA AT-THULAB yang dimaksud adalah tauhid ULUHIYAH…
Topiknya adalah perbuatan hamba..
Bahwasanya hamba dituntut dalam beramal dan beribadah hanya kepada Allah ﷻ
اِيَّاكَ نَعْبُدُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah .”
(QS. Al-Fatihah: Ayat 5)
Ini adalah bahasa ada Subyek, ada predikat, ada obyek, sama seperti bahasa Indonesia….
Namun terkadang obyeknya didahuluin sebelum subyek dan predikatnya….
Tatkalah Obyeknya didahulukan maka memberi faidah Batasan ( Hanya)
Contoh: نَعْبُدُ كَ
“aku menyembahmu”
Lah kalo dikatakan Cuma “aku menyembahmu” aku juga menyembah yg lain…
Orang Nasrani menyembah Allah
Menyembah juga Nabi Isa…
Tapi tatkala “كَ
Dimajukan jadi اِيَّاكَ نَعْبُدُ
Maka artinyapun menjadi
“Hanya kpd Engkau, kami menyembah”
Dan seluruh peribadatan di tauhid uluhiyah hanya dilakukan kepada Allah ﷻ

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am: Ayat 162)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka laksanakanlah sholat hanya karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
(QS. Al-Kausar: Ayat 2)

Maka barang siapa yang mengaku bertauhid Uluhiyah maka dia harus menyerahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah saja…
Barang siapa berdo’a kepada Allah dan kepada selain Allah maka telah Musyrik…

Bantahan orang yang mengingkari pembagian tauhid…

1) Nabi dan para sahabatnya mengakui pembagian atau penjelasan ini secara praktek, meskipun tidak terlafalkan….
Apakah Nabi mengakui Allah punya anak…? Tidak…

2) Ini sama halnya kata2 dalam bahasa arab atau pembagian fiqih
Dlm bahasa arab ada Isim, fiil, huruf
Tapi Nabi menggunakan itu semua dalam berbahasa arab…
Hukum fiqih ada 5 ….yaitu :
Wajib, harom, mubah, sunnah, dan makruh…
Apakah Nabi pernah berkata “ hai sahabat ketahuilah bahwa hukum fiqih menjadi 5…? Tdk pernah ….!
Tapi secara praktek Nabi melaksanakan sholat 5 waktu hukumnya Wajib dan meninggalkanya adalah haram…
Semua hukum pernah di praktekkan, dan para ulama’ menyepakatinya …

3) Yang membagi tauhid bukan hanya para salafiyin
Contoh :

Kaum Asya’iroh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara, ungkapan mereka adalah:

إن الله واحد في ذاته لا قسيم له وواحد في صفاته لا نظير له، وواحد في أفعاله لا شريك له

“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.

Salah seorang ulama terkemukan dari Asya’iroh yang bernama Ibrahim Al-Laqqooni berkata :

“Keesaan (ketauhidan) Allah meliputi tiga perkara yang dinafikan :

… “Keesaan” dalam istilah kaum (Asyaa’iroh) adalah ungkapan dari tiga perkara yang dinafikan :

“(1) Dinafikannya berbilang dari Dzat Allah, artinya Dzat Allah tidak menerima pembagian….

(2) Dinafikannya sesuatu yang serupa dengan Allah, maksudnya tidak ada perbilangan dalam dzat atau salah satu sifat dari sifat-sifatNya…

(3) Dinafikannya penyamaan Allah dengan makhluk-makhluk yang baru…”

(Hidaayatul Muriid Li Jauharot At-Tauhiid, Ibraahim Al-Laqqooni. 1/336-338)

Ulama besar Asya’iroh yang lain yaitu Al-Baajuuri rahimahullah berkata :

“Kesimpulannya bawhasanya wahdaniah/keesaan/ketauhidan Allah yang mencakup (1) Keesaan pada Dzat, (2) Keesaan pada sifat-sifat Allah, dan (3) Keesaan pada perbuatan-perbuatanNya…”

(Hasyiat Al-Imam Al-Baijuuri ‘alaa Jauharot At-Tauhiid, hal 114)

Kedua : Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingakatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.

Adapun tingkatan-tingakatan yang berikutnya :

(1) Tauhidul ‘awaam تَوْحِيْدُ الْعَوَّام
(Tauhidnya orang-orang awam)

(2) Tauhidul Khoosoh تَوْحِيْدُ الْخَاصَّةِ (Tauhidnya orang-orang khusus, مَقَامُ الْمُقَرّبِيْنَ) dan

(3) Tauhid Khoosotil Khooshoh تَوْحِيْدُ خَاصَّةِ الْخَاصَّةِ
(Tauhidnya orang-orang super khusus مُشَاهَدَةُ الصِّدِّيْقِيْنَ)

Beliau rahimahullah berkata :

للتوحيد أربع مراتب …

فالرتبة الأولى من التوحيد هي أن يقول الإنسان بلسانه لا إله إلا الله وقلبه غافل عنه أو منكر له كتوحيد المنافقين

“Tauhid memiliki 4 tingkatan…
Tingkatan pertama dari tauhid adalah seseorang mengucapkan dengan lisannya laa ilaah illallah akan tetapi hatinya lalai darinya atau mengingkarinya, sebagaimana tauhidnya orang-orang munafiq”

Lalu Al-Gozali menyebutkan 3 tingkatan tauhidnya kaum muslimin, ia berkata :

والثانية أن يصدق بمعنى اللفظ قلبه كما صدق به عموم المسلمين وهو اعتقاد العوام

(1) Yang kedua : Yaitu ia membenarkan makna lafal laa ilaaha illallahu dalam hatinya sebagaimana pembenaran orang-orang awam kaum muslimin, dan ini adalah aqidahnya orang-orang awam

والثالثة أن يشاهد ذلك بطريق الكشف بواسطة نور الحق وهو مقام المقربين وذلك بأن يرى أشياء كثيرة ولكن يراها على كثرتها صادرة عن الواحد القهار

(2) Yang Ketiga : Yaitu dengan metode Kasyf (pengungkapan) dengan perantara cahaya Allah, dan ini adalah orang-orang muqorrobin (yang didekatkan), yaitu jika ia melihat sesuatu yang banyak akan tetapi ia melihatnya –meskipun banyak- timbul dari dzat Yang Maha Satu Yang Maha Kuasa

والرابعة أن لا يرى في الوجود إلا واحدا وهي مشاهدة الصديقين وتسميه الصوفية الفناء في التوحيد لأنه من حيث لا يرى إلا واحدا فلا يرى نفسه أيضا وإذا لم ير نفسه لكونه مستغرقا بالتوحيد كان فانيا عن نفسه في توحيده بمعنى أنه فنى عن رؤية نفسه والخلق

(3) Yang Keempat : yaitu ia tidak melihat di alam wujud ini (alam nyata) ini kecuali hanya satu, dan ini adalah pengamatan orang-orang as-siddiqin. Dan kaum sufiah menamakannya al-fanaa dalam tauhid, karena ia tidaklah melihat kecuali satu, maka iapun bahkan tidak melihat dirinya sendiri. Dan jika ia tidak melihat dirinya dikarenakan tenggelam dalam tauhid maka ia telah sirna dari dirinya dalam mentauhidkan Allah, yaitu maknanya ia telah sirna tidak melihat dirinya dan tidak melihat makhluk”
(Ihyaa ‘Ulumiddiin 4/245)

Yang menjadi permasalahan bukanlah pembagian, akan tetapi content/isi dan kandungan dari pembagian tersebut, apakah benar menurut syari’at atau tidak??!! Inilah yang menjadi permasalahan, bukan masalah pembagian tauhid menjadi dua atau tiga atau empat, atau lebih dari itu.
Karena pembagian tauhid itu hanyalah metode…
Metode untuk memahamkan manusia terhadap Tauhid….

4) Pembagian tauhid tujuanya adalah untuk menyatukan tauhid…
Aslinya tauhid tdk perlu dibagi tatkala semua orang tauhidnya benar, tatkala ada penyimpangan terhadap tauhid
Albaqoroh 21-22
Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَرْضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً ۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَادًا وَّاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: Ayat 21- 22)

Orang syirik itu percaya bahwa Allah lah yang menciptakan langit dan bumi..
Allah سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِاللّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka menyekutukan-Nya.”
(QS. Yusuf: Ayat 106)

Kalo ditanya kepada orang musyrik siapa Tuhan Kalian? Maka jawabnya adalah Allah… ( tauhid Rububiyah)
Abu jahal dan kaum musyrikin
Siapa yang menciptakan kalian maka mereka akan menjawab Allah…

##$$-$$##

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?