4 menit membaca

📜 *TAFSIR JUZ ‘AMMA – 04*
✒️ Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’ di
🎤Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary
Ahad, 17 Muharam 1447H /13 Juli 2025

عَمَّ يَتَساءَلُونَ (1) عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ (2) الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ (3) كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ (4) ثُمَّ كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ (5)

Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. 

Syaikh menjelaskan tentang saling bertanya-tanya nya kaum musyrikin akan berita besar, yaitu lebih kepada mendustakan berita besar akan hari kiamat. Orang-orang yang mendustakan akan adanya pertemuan besar dengan Allah di hari kiamat kelak, mereka tidak beriman walaupun Allah telah menjelaskan melalui Nabi-Nya tanda-tanda yang besar.

Mereka kelak baru percaya setelah melihat siksa yang besar neraka Jahanam.
Kita jangan seperti mereka. Harus yakin akan adanya hari kiamat kelak.

أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهاداً (6) وَالْجِبالَ أَوْتاداً (7) وَخَلَقْناكُمْ أَزْواجاً (8) وَجَعَلْنا نَوْمَكُمْ سُباتاً (9) وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِباساً (10) وَجَعَلْنَا النَّهارَ مَعاشاً (11) وَبَنَيْنا فَوْقَكُمْ سَبْعاً شِداداً (12) وَجَعَلْنا سِراجاً وَهَّاجاً (13) وَأَنْزَلْنا مِنَ الْمُعْصِراتِ مَاءً ثَجَّاجاً (14) لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَباتاً (15) وَجَنَّاتٍ أَلْفافاً (16)

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak? Dan Kami jadikan kalian berpasang-pasangan, dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan, dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh,  dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah, supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan, dan kebun-kebun yang lebat.

Syaikh menjelaskan – Kemudian Allah menyebutkan nikmat-nikmat yang besar dan ini adalah bukti benarnya Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berdasar ayat 6, bumi sebagai hamparan, ada pendapat yang mengatakan bumi itu datar. Wallahu a’lam, ulama berpendapat bahwa bumi itu bulat.

يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِۚ

Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam. Dia

Ini dalam bahasa arab hanya bisa terjadi bila bentuk bumi membulat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لْاَ رْضَ بَعْدَ ذٰلِكَ دَحٰٮهَا 
“Dan setelah itu bumi Dia hamparkan.”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 30)

Dalam bahaya Arab دَحٰٮهَا bisa terjadi dengan makna bulat.

Pada QS Az-Zumar ayat 5

وَصْف: Allah “menggulung” malam atas siang dan sebaliknya

> يُكَوِّرُ ٱلَّيْلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيْلِ

“Dia menutupkan (menggulung) malam atas siang dan menggulung siang atas malam…”
(39:5)

Begitu pula bukti foto dan kapal di lautan menunjukan bumi adalah bulat.

Syaikh As Sa’di – bumi itu bagus untuk manusia.

Gunung sebagai pasak, fungsi nya untuk menjaga bumi. 30% dari gunung terlihat di atas permukaan bumi dan sisanya yaitu 70% di dalam bumi. Ini untuk menjaga bumi supaya tidak goyang.

Dijadikannya manusia berpasangan dengan jenis yang sama, maksudnya manusia dengan manusia.

Ibnu Katsir menjelaskan ketika menjelaskan ayat 21 QS Ar Rum – kalau pasangan suami istri itu sering berantem bisa jadi salah satu nya jenis nya lain dari manusia.

وَمِنْ آيَاتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجٗا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحْمَةًۚ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Allah menyebutkan nikmat-Nya atas hamba-hamba-Nya, bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis mereka sendiri. Kalau seandainya mereka dari jenis yang berbeda, niscaya tidak akan terjadi rasa kasih sayang dan ketenangan, tetapi justru akan timbul ketidakcocokan dan kejauhan.

Suami seharus nya lebih sabar hadapi wanita karena wanita terbuat dari tulang rusuk yang mudah patah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda.

“اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.”

“Berbuat baiklah kepada para wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun jika engkau membiarkannya, ia tetap bengkok. Maka berbuat baiklah kepada para wanita.” HR Bukhari dan Muslim.

Suami harus memberikan cinta dan kasih sayang. Cinta terkait syahwat dan kasih sayang lebih dari cinta terkait nafkah dan khianat.

Bergaul dengan cinta kasih sayang pada istri.
1. Akhlak baik
2. Penampilan yang baik
3. Sering beri hadiah yang baik.

Ibnu Mubarak, akhlak baik adalah
1. Wajah yang tersenyum termasuk Ucapan yang baik
2. Suka memberi
3. Tidak suka meyakiti.

Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mendidik istri di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan yang kasar dst.

Pernikahan laki-laki dan perempuan akan memberikan keturunan.
Anak-anak adalah anugrah untuk manusia. Bagi yang tidak mempunyai anak bisa jadi Allah beri nikmat lain mungkin mengurus anak-anak yatim dst.

Menikah adalah salah satu cara untuk mengusir gangguan setan.

Nafkah keluarga adalah sedekah, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ، إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ.”

“Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan suatu nafkah yang engkau niatkan karena mencari wajah Allah, kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu pun ada pahalanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Lanjutan..
Tidur sebagai istirahat..

Asal hukumnya di malam hari adalah istirahat. Dalam Islam kalau terpaksa tidak ada istilah lembur.

Waktu istirahat terbaik adalah di malam hari. Suami di rumah saat malam sebaiknya istirahat bersama keluarga.
Tidak ada yang bisa gantikan istirahat tidur malam.

AIB bagi muslim yang tidur pagi (kecuali terpaksa).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّجَعَلْنَا النَّهَا رَ مَعَا شًا 
“dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan,”
(QS. An-Naba’ 78: Ayat 11)

Dalam hadits,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا.”

“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.”
(HR. Abu Dawud , Tirmidzi)

Kajian Berikut nya, ayat 12..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّبَنَيْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعًا شِدَا دًا 

“dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh,”
(QS. An-Naba’ 78: Ayat 12)

Semoga bermanfaat.

#tafsir #AhmadZainuddin #albanjary #surga #neraka #nikmat #annaba

$$##-aa-##$$

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?