Syarah Dzikir Pagi Petang-3
Diterbitkan pertama kali pada: 27-Agu-2022 @ 06:14
5 menit membaca*Syarah Dzikir Pagi Petang-3*
Ustadz Muhammad Anwar, Lc MPd
29 Muharam 1444H
➡️ *Tafsir ayat Kursi*
{اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (255) }
Allah, tidak ada Ilah (sesembahan yang benar untuk disembah) melainkan Dia Yang Maha Hidup (kekal), Maha Berdiri Sendiri lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk, dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan di bumi. Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah melainkan dengan seizin Allah ﷻ. Allah mengetahui semua apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.
{اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ}
Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. (Al-Baqarah: 255)
🖍️ Tauhid akan sempurna dengan dua syarat
1. Nafi = Meniadakan tuhan yang disembah di bumi
2. Isbat = menetapkan hanya Allah sebagai sesembahan
{لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ}
tidak mengantuk dan tidak tidur. (Al-Baqarah: 255)
Disebutkan kisah Israiliyat bahwa Nabi Musa alaihissalam pernah bertanya kepada para malaikat, “Apakah Allah pernah tidur?” Maka Allah mewahyukan kepada para malaikat dan memerintahkan mereka untuk membuat Musa mengantuk selama tiga hari, dan mereka tidak boleh membiarkannya terjaga. Mereka mengerjakan apa yang diperintahkan itu. Mereka memberi dua buah botol kepada Musa supaya dipegang, lalu mereka meninggalkannya. Sebelum itu mereka mewanti-wanti kepada Musa agar hati-hati terhadap kedua botol tersebut, jangan sampai pecah. Maka Musa mulai mengantuk, sementara kedua botol itu dipegang oleh masing-masing tangannya. Kemudian Musa mengantuk dan sadar, dan mengantuk serta sadar. Akhirnya ia mengantuk selama beberapa saat, lalu salah satu dari kedua botol itu beradu dengan yang lainnya hingga pecah.
Apa yang disebutkan oleh kisah di atas merupakan misal (perumpamaan) yang dibuat oleh Allah. Ma’mar ‘mengatakan bahwa demikian pula halnya langit dan bumi di tangan kekuasaan-Nya (seandainya Dia mengantuk, niscaya keduanya akan hancur berantakan)
{لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ}
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. (Al-Baqarah: 255)
Ayat ini memberitakan bahwa semuanya adalah hamba-hamba-Nya, berada dalam kekuasaan-Nya dan di bawah pengaturan dan pemerintahan-Nya
{مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ}
Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya. (Al-Baqarah: 255)
🖍️ *Syafaat hanya atas izin dari Allah*. Kelak di akhirat saat kondisi yang sangat genting, orang-orang yang sudah sangat lama menunggu keputusan dari Allah, berbondong-bondong meminta Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa yang semuanya tidak punya ilmu untuk memberi syafaat yang diminta.
Hanya Nabi Muhammad ﷺ yang akhirnya meminta syafaat kepada Allah.
disebutkan di dalam hadis mengenai syafaat, yaitu:
«آتِي تَحْتَ الْعَرْشِ فَأَخِرُّ سَاجِدًا، فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي. ثُمَّ يُقَالُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ تُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ- » .
Aku datang ke bawah Arasy, lalu aku menyungkur bersujud, dan Allah membiarkan diriku dalam keadaan demikian menurut apa yang dikehendaki-Nya. Kemudian Dia berfirman, “Angkatlah kepalamu dan katakanlah (apa yang engkau kehendaki), niscaya kamu didengar; dan mintalah syafaat, niscaya kamu diberi izin untuk memberi syafaat.”
Inilah syafaatus Utsmaa..
Maka itu jangan terlalu pede kita pasti akan dapat pertolongan dari kawan-kawan kita di dunia saat ini.
Namun berharap hal itu boleh bila kawan kita sudah aman di surga. Yaitu syafaat umum..
🖍️ Syarat mendapatkan syafaat
1. Mendapat izin dari Allah kepada orang yang beri syafaat
2. Allah telah ridho kepada orang yang akan diberi syafaat
Allah berfirman:
وَكَم مِّن مَّلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِن بَعْدِ أَن يَأْذَنَ اللَّـهُ لِمَن يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ ﴿٢٦﴾
“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm[53]: 26) ✅
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ}
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka. (Al-Baqarah: 255)
Ayat ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa pengetahuan Allah meliputi semua yang ada, baik masa lalu, masa sekarang, maupun masa depannya.
Kelak di akhirat semua yang kita kerjakan akan Allah ingatkan kepada kita.
{وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ}
Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (Al-Baqarah: 255)
Yakni tidak ada seorang pun yang mengetahui sesuatu dari ilmu Allah kecuali sebatas apa yang Allah beri tahukan kepadanya dan apa yang diperlihatkan kepadanya.
Akan tetapi, makna ayat ini dapat ditafsirkan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka tidak dapat mengetahui sesuatu pun mengenai pengetahuan tentang Dzat dan sifat-sifat Allah melainkan hanya sebatas apa yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya
Kelak kita akan bisa melihat Dzat Allah di surga.
{وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ}
Kursi Allah meliputi langit dan bumi. (Al-Baqarah: 255)
Ada beberapa tafsir terkait kata kursi ini.
Ibnu Abbas mengatakan
“Yang dimaksud dengan Kursi ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya).”
dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Kursi Allah meliputi langit dan bumi. (Al-Baqarah: 255) Maka beliau ﷺ menjawab:
«كُرْسِيُّهُ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ وَالْعَرْشُ لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ»
Kursi Allah ialah tempat kedua telapak kaki (kekuasaan-Nya), sedangkan Arasy tiada yang dapat menaksir luasnya kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.
Rasulullah ﷺ telah bersabda:
«ما السموات السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَدَرَاهِمَ سَبْعَةٍ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ»
Tiadalah langit yang tujuh (bila) diletakkan di dalam Kursi, melainkan seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas sebuah tameng.
Begitu besar kursi tersebut, namun Arsy Allah jauh lebih besar lagi.
dari Abu Dzar Al-Ghifari, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Kursi. Maka beliau ﷺ bersabda:
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tiadalah langit yang tujuh dan bumi yang tujuh lapis bila diletakkan pada Kursi melainkan seperti sebuah cincin yang dilemparkan di tengah-tengah padang pasir. Dan sesungguhnya keutamaan Arsy atas Kursi sama dengan keutamaan (perbandingan) padang pasir atas cincin itu.
Sering timbul pertanyaan, apakah Allah punya kaki?
dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ
“(Neraka) jahanam masih saja berkata, ‘apakah ada tambahan’ hingga akhirnya Tuhan Pemiliki Kemuliaan meletakkan kaki-Nya. Kemudian dia berkata, cukup, cukup, demi kemuliaan-Mu, lalu. Lalu neraka satu sama lain saling terlipat.”
HR Bukhari dan Muslim
{وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا}
Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya. (Al-Baqarah: 255)
{وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ}
Dan Allah Maha Tinggi lagi Mahabesar. (Al-Baqarah: 255)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah berada di atas.
Ayat ini juga menjadi dalil bagi orang-orang yang sering bertanya-tanya tentang sifat-sifat Allah yang sering meragukan pemahaman sifat-sifat Allah sesuai pemahaman para sahabat radhiyallahu anhum.
Semoga bermanfaat..
##$$-aa$$##

