RIYADHUS SHALIHIN # BAB 18 – LARANGAN TERHADAP KEBID’AHAN DAN PERKARA-PERKARA YANG DIADA-ADAKAN
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 16:18
4 menit membacaKitab Riyadhus Shalihin : BAB 18.
*LARANGAN TERHADAP KEBID’AHAN DAN PERKARA-PERKARA YANG DIADA-ADAKAN.*
Ustadz Luthfi Abdul Jabbar
20 Shafar 1441 H
Sesungguhnya diberi kesempatan untuk beramal adalah rezeki yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Apalagi diberi kemauan untuk beramal, dan duduk di dalam majelis ilmu adalah kenikmatan yang besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).”HR Bukhari.
Allah menciptakan kita untuk beribadah,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).
Dan Allah lah yang memberi petunjuk cara ibadah.
Definisi ibadah adalah segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai dari ucapan maupun perbuatan baik yang dhahir dan yang batin.
(menurut Ibnu Taimiyyah, dalam kitab Al Ubudiyah).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Qs Adz Dzariyat 56.
Itulah bedanya manusia dengan hewan, yaitu tugas untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,tugas yang mulia.
Sesuatu yang dicintai dan diridhai, tentu ada standar nya.
Sehingga yakin Allah suka dan cintai dengan ibadah kita.
Tentu dari kabar Allah, bukan standar akal kita..
Jangan samakan selera kita dengan selera (standar) Allah.
Menurut kita bagus belum tentu bagus dari sisi Allah.
Sehingga Allah mengutus Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagai tanda rahmat Allah kepada kita.
وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut ” (QS. An Nahl:36)
Apa-apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah ibadah..
Dan amalan yang dikaitkan dengan agama namun bukan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah bukan ibadah.
Ingatlah pada kisah 3 pemuda yang ingin ibadah lebih (sholat terus, puasa terus, tidak nikah) dan hal tersebut membuat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam marah dan menolak cara ibadah dengan cara tersebut..
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى »
“Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukan dariku.”
Tidak ada amalan kebaikan (ibadah) yang belum diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةًۭ لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
Sedangkan urusan dunia, kita diminta untuk cari yang terbaik.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus untuk perkara agama, tidak perlu mengurangi dan melebihi ajaran Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Ini menjadi konsep dasar supaya umat Islam tetap satu, kembali Kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman shahabat (seperti asal mulanya).
Tidak boleh memahami agama dengan akal karena akal manusia berbeda.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّ بِعْدَهُمَا كِتِابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ ،
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat setelah (kalian bepergian teguh pada) keduanya, Kitabullah dan Sunnahku.” [HR. At-Thabrani].
Ini adalah konsep penjagaan agama,
Orang yang tidak setuju dengan konsep kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, berarti akan menyelisihi syariat Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?”
(QS. Yunus [10]:32)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An Nisaa’ [4]:59)
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) m, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”
(QS. Al An’aam [6]:153)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Ali ‘Imran [3]:31)
عن عائشة، رضي الله عنها، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ”من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد” (( متفق عليه)).
وفي رواية لمسلم : ”من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد”.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya:
Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perkara – agama -kita ini akan sesuatu yang semestinya tidak termasuk dalam agama itu, maka hal itu wajib ditolak.”
(Muttafaq ‘alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
Rasulullah Shalallaahu ‘Alayhi Wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang mengamalkan sesuatu amalan yang atasnya itu tidak ada perintah kami – maksudnya perintah agama, maka amalan itu wajib ditolak.
Semua yang berhubungan dengan agama pasti sampai kepada kita hari ini..
Karena bila tidak sampai berarti agama berkurang..
Padahal Allah yang menjaga agama ini,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya [al-Hijr/15:9]
Kejadian Rasulullah beribadah dan aktifitas walaupun sangat jarang akan sampai pada kita. Misalnya kejadian saat Aisyah mengerik mani kering dari pakaian untuk shalat.
Dan kita tidak pernah tahu kabar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ulang tahun.
Hendaknya kita berusaha mengamalkan apa yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang mana jumlahnya banyak dan belum tentu kita sanggup untuk melakukan amalan itu semua…
Salaman setelah shalat?
Kalau niat nya untuk muamalah (misal lama gak jumpa) maka boleh.
Bila jadi ritual dan jadi keyakinan itu Yang perlu dalil.
##$$-aa-$$$##

