KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Des-2021 @ 12:58
1 menit membaca*KEUTAMAAN SHALAT TAHAJUD*
Hadits 1167,Riyadhus Shalihin.
وَعَن عائِشَةَ رَضِيَ اللَّه عَنْها ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتى تَتَفطَّر قَدَمَاه ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هذا يا رسُول اللَّهِ وَقد غُفِرَ لَكَ ما تَقَدَّم مِن ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ : « أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا » . متفقٌ عليه . وعَنِ المغيرةِ بنِ شعبةَ نحوهُ ، متفقٌ عليه .
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi shalallahu alaihi wasalam itu berdiri untuk shalat malam, sehingga pecah-pecah kedua tapak kakinya. Saya berkata kepadanya: “Mengapa Tuan mengerjakan sedemikian ini, ya Rasulullah, padahal sudah diampunkan untuk Tuan dosa-dosa Tuan yang dahulu dan yang kemudian?” Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: “Tidakkah saya ini seorang hamba yang banyak bersyukur.” (Muttafaq ‘alaih)
Rasa syukur tidak cukup hanya di lisan saja, seperti mengucapkan “Aku bersyukur kepada Allah”, tetapi harus diikuti dengan ketaatan kepada Allah yang memberikan nikmat tersebut. Syukur harus diikuti amalan anggota badan dalam bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Jika ada yang bertanya, “Mana yang lebih utama, lama berdiri dengan membaca surat yang panjang, atau sujud dan rukuknya yang lama?”.
Kita jawab, “Lihatlah yang lebih cocok dengan hatimu. Apabila pada saat sujud engkau merasa lebih konsentrasi dari pada berdiri lama membaca dan menghayati Al Qur’an, maka sujud lebih utama.
Apabila sebaliknya, maka berdiri lama yang yang lebih utama.
Hanya saja akan lebih baik apabila seseorang menjadikan lama sujud dan rukuknya sesuai lama berdirinya. Apabila dia berdiri tidak lama, seharusnya sujud dan rukuknya juga tidak perlu lama. Dengan demikian antara berdiri, rukuk dan sujud berjalan secara seimbang sesuai sunnah shalat yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin bab 212,Keutamaan Shalat Tahajud.

