SUNAN ABU DAWUD # ADAB BUANG AIR
Diterbitkan pertama kali pada: 26-Jun-2020 @ 19:12
2 menit membacaSunan Abu Dawud – Adab Buang Air
Ustadz Musa Mulyadi
15 Syaban 1440H
Tempat-tempat yang dilarang buang air kencing.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ ». قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِى ظِلِّهِمْ »
“Waspadalah dengan dua orang yang terkena laknat.” Mereka berkata, “Siapakah yang kena laknat tersebut?” Beliau menjawab, “Orang yang buang hajat di tempat orang lalu lalang atau di tempat mereka bernaung.” (HR. Muslim no. 269).
Laknat ini juga berlaku bagi
1. pengguna toilet umum yang tidak membersihkan toilet setelah buang air.
2. Juga tempat berteduh.
Al Haitami memasukkan dosa kencing seperti ini sebagai dosa besar.
Laknat yang dimaksud adalah laknat mutlak (tanpa sebut nama), misalnya terlaknatlah orang yang membuang kotoran ini.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ.
“Beliau melarang kencing di air yang menggenang.”
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga melarang kencing di tempat mandi. (bila air tidak mengalir)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang laki-laki terlalu sering menyisir rambutnya.
ﻧَﻬَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺘَّﺮَﺟُّﻞِ ﺇِﻻَّ ﻏِﺒًّﺎ
“Rasulullah shalllallahu alaihi wa sallam melarang menyisir kecuali ‘ghibban’ (jarang-jarang).” (Ash-Shahihah no. 501)
Maksud kata “ghibban” adalah meminyaki sehari dan sehari (tidak terlalu sering). Imam Ahmad berkata,
ﻳﺪﻫﻦ ﻳﻮﻣﺎً ﻭﻳﻮﻣﺎً
“Meminyakinya sehari dan sehari (saja)“. (Al-Mughni 1/67)
Demikian juga dalam hadits lainnya.
ﻛَﺎﻥَ ﻧَﺒِﻲُّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻨْﻬَﺎﻧَﺎ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺈِﺭْﻓَﺎﻩِ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﺍﻹِﺭْﻓَﺎﻩُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺘَّﺮَﺟُّﻞُ ﻛُﻞَّ ﻳَﻮْﻡٍ
“Nabi shalallahu alaihi wa sallam melarang kami dari ‘al-Irfah’ ” Kami bertanya : “Apa itu al-Irfah ?” ia (shahabat, pent) itu menjawab : “menyisir sepanjang hari”. (Ash-Shahihah no. 502)
Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini merupakan larangan bagi laki-laki menyisir sepanjang hari (seharian dan terlalu sering). Beliau berkata,
ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺪﻝ ﻋﻠﻰ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻻﺷﺘﻐﺎﻝ ﺑﺎﻟﺘﺮﺟﻴﻞ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻳﻮﻡ؛ ﻷﻧﻪ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺮفه…
ﻭﺍﻹﺭﻓﺎﻩ : ﺍﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﺍﻝ ﻳﻬﻴﺊ ﻧﻔﺴﻪ
“Hadits ini menunjukkan makruhnya menyibukkan diri dengan menyisir sepanjang hari, karena ini termasuk bermegah-megah. Al-Irfah maksudnya adalah terlalu banyak berhias dan selalu mempersiapkan dirinya untuk berhias.” (Nailul Authar 1/159)
Berpenampilan sederhana itu juga dianjurkan
إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ
“Sesungguhnya bersahajanya penampilan itu termasuk keimanan.” HR Abu Dawud
Hadits yang menyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyisir sehari 2x adalah dhaif.
Yang dianjurkan sering berhias adalah wanita untuk menyenangkan suami.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْجُحْرِ
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang (yang biasa digali oleh binatang sebagai tempat persembunyiannya).”(HR. Ahmad no. 19847 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam al-Jami’ush Shahih, 1/499)
Hadits ini banyak di dhaifkan ulama, namun karena ada mudharat bagi hewan maka boleh diamalkan.
Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ « غُفْرَانَكَ ».
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu)” HR Abu Dawud.
Hadits tentang doa keluar toilet selain ghufronaka adalah dhaif.
Kenapa baca Ghufronaka? Ulama menjelaskan..
1. Minta ampun karena saat duduk di toilet tidak dzikir (kelalaian)
2. Tidak mampu bersyukur atas nikmat mampu buang hajat.
Makruh hukum nya memegang kemaluan dengan tangan kanan dengan tangan kanan.
إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَإِذَا أَتَى الْخَلَاءَ فَلَا يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلَا يَشْرَبْ نَفَسًا وَاحِدًا
Apabila salah seorang dari kalian buang air kecil, maka janganlah dia menyentuh kemaluannya dgn tangan kanannya. Apabila dia mendatangi WC (untuk buang air), maka janganlah dia beristinja dgn tangan kanannya. Dan apabila dia minum, maka janganlah dia minum dgn satu kali nafas. [HR. Abudaud No.29].
Larangan ini bukan haram tapi makruh.
Apakah larangan ini juga berlaku saat hubungan badan? Ulama menjelaskan tidak, hadits tersebut hanya adab saat di kamar kecil.
##$$-aa-$$##


