TematikUstadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, Lc.MAFiqih

IBADAH TIDAK AKAN DITERIMA, KECUALI DENGAN IKHLAS DAN MUTABA’AH

Diterbitkan pertama kali pada: 09-Feb-2022 @ 21:46

4 menit membaca

IBADAH TIDAK AKAN DITERIMA, KECUALI DENGAN IKHLAS DAN MUTABA’AH
Ustadz Dr Musyaffa Ad Dariny, Lc MA
8 Rajab 1443 H

Telah banyak Allah berikan kenikmatan kepada kita dan akan Allah beri tambahan bila kita bersyukur.

Syaikh Walid Ibnu rasyid Asy Sya’idan membahas kaidah ke 15, yaitu Ibadah tidak diterima oleh Allah Subhanahu kecuali dengan ikhlas dan mutaba’ah.

Ibadah merupakan tujuan utama diciptakan manusia..

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Az-Dzariyat 51: Ayat 56)

Yang dimaksud dengan ikhlas adalah ketika seseorang melakukan sesuatu hanya untuk mengharapkan pahala/balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika melakukan sesuatu tanpa mengharapkan sesuatu maka itu bukan Ikhlas.

Dalam melakukan amalan, ada 3 keadaan :

1. Hanya untuk mengharapkan balasan dari Allah
2. Harapkan dunia
3. Harapkan balasan Allah dan dunia..

Hanya keadaan 1 yang diterima oleh Allah, dan keadaan 3 dengan syarat ada dalil syariat atau bukti ilmiahnya.

Misalnya berpuasa hanya untuk tubuh yang langsing atau tubuh yang baik, maka ini bukan bernilai ibadah.

Apabila seseorang puasa dan meninggalkan pembatal2 puasa dan hanya untuk harapkan pahala dari Allah, maka akan ini ibadah.

Keadaan ketiga, berpuasa dan meninggalkan pembatal2 puasa dari fajar shadiq sampai maghrib dengan niat utama untuk harapkan pahala dari Allah dan niat sampingan untuk menguruskan badan, maka amalan seperti ini mendapatkan pahala, karena niat utamanya untuk ibadah dan niat sampingan ada bukti ilmiahnya.

Namun niat sampingan seperti ini sebaiknya dihindari sehingga keikhlasan nya menjadi murni atau tinggi.

Demikian juga bila seseorang menyambung silaturahim dengan niat utama untuk mendapatkan pahala dari Allah dan niat sampingan untuk kelapangan rezeki,
Ini boleh karena ada dalil syariat.
.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

‘Barangsiapa senang diluaskan
rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim’ Muttafaq Alaih dari hadits Anas.

Namun sebaiknya kita jauhi niat seperti yang ini, supaya nilai Ikhlas menjadi sempurna.

Dan pahala duniawi itu akan Allah berikan.

Demikian juga orang yang sedekah dengan mencampur niat akhirat dan niat duniawi.

Niat dibagi dua.

1. Niat untuk melakukan suatu amalan (tidak akan bisa ditinggalkan oleh orang yang akalnya sehat).

2. Niat menjadikan sesuatu sebagai ibadah. (ini yang jadi syarat diterima ibadah seseorang).

Datang nya Riya

1. Ketika riya dari awal ibadah.

2. Riya yang datang ketika ditengah melakukan amalan.

Keadaan 1, menyambut atau ikuti riya.. Maka ibadah menjadi tidak ada nilai ibadah. Ada dua juga…

1.1 bila ibadah berkesinambungan, tidak dipisah, misal sholat,.

1.2.  Ketika ibadah dipisah2. Misal baca Al Qur’an, dzikir, belajar ilmu agama, membaca Sholawat.

Keadaan 2, berusaha untuk melawan.. Sehingga riya hilang, maka ibadahnya sah dan dapat pahala dari melawan riya.

MUTABA’AH

Adalah melakukan ibadah dengan tata cara tertentu sesuai tuntunan Nabi ﷺ

Dan menuntut ilmu kita akan bisa mutaba’ah.
Dengan menuntut ilmu kita bisa bertauhid dengan sempurna.

Dengan mencontoh bagaimana pelaksanaan ibadah.

Tempat, telah ditentukan tempat khusus untuk ibadah tertentu.

Misalnya thawaf di Ka’bah.

Ada thawaf yang tidak ada nilai ibadah bahkan kesyirikan yaitu thawaf pada kuburan.

Begitu juga wukuf hanya ada di Arafah.

Itikaf hanya dilakukan di masjid, tidak bisa dipindahkan ke tempat lain.

WAKTU

Sudah ditentukan, misalnya puasa Ramadhan hanya di bulan Ramadhan.

Orang yang punya udzur dan mengqadha di hari lain yang sudah ada tuntunan juga.

Contoh lain.. Waktu sholat.

Subuh, setelah fajar shadih..
Maka sholat subuh sebelum waktunya tidak sah dst.

KADAR

harus sesuai dengan yang ditentukan oleh Rasulullah ﷺ.

Misalnya
Sholat Dhuhur 4 rakaat
Puasa Ramadhan selama 1 bulan.

Orang yang berniat puasa Ramadhan 50 hari maka ini menyelisihi tuntunan dan disebut bid’ah.

Kita harus tahu juga bahwa ada suatu ibadah yang secara asal disyariatkan tapi menyelisihi tuntunan dari sisi perinciannya.

Ini banyak dilakukan karena kejahilan dan semangat ibadah yang tidak didukung oleh ilmu.

Contoh Dzikir.. Asal nya disyariatkan.

Tapi ada cara-cara yang tidak disyariatkan
Misal dzikir dengan memanggil nama Allah saja (Misalnya Yaa Qadir saja 12 ribu kali) dan dilakukan dengan harus duduk,hadap Barat, sedekap, tengah malam dst..

Itulah perincian yang menyelisihi syariat, jatuh pada kebid’ahan.

Termasuk dalam keumuman larangan berikut.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)

Contoh lain, bershalawat..
Banyak dalil yang menyatakan istimewanya shalawat.

Namun banyak orang-orang yang dalam rincian, Sholawat nya ada unsur-unsur syirik. Atau unsur bid’ah.

⛔Jangan campur adukkan yang hak dan yang batil.

Seperti mencampur daging dengan babi.

Demikian juga kuda dicampur keledai (haram) , jadilah baqhal dan ini haram.

Contoh lainnya adalah ziarah, banyak orang yang ziarah dengan menyelisihi tuntutan.
Misalnya ziarah yang dicampur dengan kesyirikan, misalnya meminta kepada ahli kubur.

Ziarah yang dicampur dengan kebid’ahan, misalnya tawasul dengan kedudukan orang yang dikubur.

Ziarah yang dicampur dengan bacaan Al Qur’an di kuburan, ini juga termasuk kebid’ahan..

Ini jangan dikatakan..

Ziarah kok dilarang
Dzikir kok dilarang
Sholawat kok dilarang

Tapi yang dilarang adalah tata caranya yang tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. ..

Semoga bermanfaat..

##$$-aa-$$##

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?