USHUL TSALATSAH-03
*USHUL TSALATSAH-03*
Syarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Ustadz Musa Mulyadi, Lc
25 Dzulhijjah 1446H/22 Juni 2025
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima
Penulis kitab ini adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
➡️ Seorang muslim wajib mempelajari tiga hal dan mengamalkan
1. Allah lah yang Menciptakan kita.
Berikut adalah beberapa dalil dari Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan manusia:
1.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
(Al-Mu’minun: 12)
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ
“Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ
“Lalu air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain.” QS Al-Mu’minun ayat 12–14
2.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِن صَلْصَـٰلٍۢ مِّنْ حَمَإٍۢ مَّسْنُونٍۢ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Qs Al-Hijr ayat 26
3.
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Qs Adz-Dzariyat ayat 56
4.
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَا بٍ ثُمَّ اِذَاۤ اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 20)
Kesadaran akan penciptaan ini, adalah agar manusia beriman bahwa nanti akan dibangkitkan lagi di hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan perbuatan.
Kaidah nya bahwa Yang Menciptakan Manusia dari yang sebelumnya tidak ada maka akan lebih mudah untuk membangkitkan dihari kiamat.
➡️ Penulis – Allah Yang memberi rezeki.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّا قُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ
“Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 58)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ قُلِ اللّٰهُ ۙ وَ اِنَّاۤ اَوْ اِيَّا كُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah,” dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 24)
Dalam sebuah hadits,
> عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: حدثنا رسول الله ﷺ وهو الصادق المصدوق:
“إن أحدكم يُجمع خلقُه في بطن أمه أربعين يومًا نطفة، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك، ثم يُرسل إليه المَلَك فينفخ فيه الروح، ويُؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أو سعيد…”
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ bersabda — dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya:
‘Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan dengan empat perkara: dicatat rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia.’”
HR Bukhari dan Muslim.
➡️ Allah tidak membiarkan kita terlantar…
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36) أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (39) أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى (40)
Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi ‘alaqah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? QS Al Qiyamah 36-40.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَيَحْسَبُ الْاِ نْسَا نُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”
(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 36)
➡️ Allah mengutus kepada kita Rasul.
Untuk membimbing kita. Yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Syaikh – Barangsiapa yang yang menaati Rasul akan masuk surga, dan yang menentang Rasul maka akan masuk neraka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 132)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَا رًا خَا لِدًا فِيْهَا ۖ وَلَهٗ عَذَا بٌ مُّهِيْنٌ
“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 14)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِلَّا بَلٰغًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِسٰلٰتِهٖ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِ نَّ لَهٗ نَا رَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا , “(Aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalah-Nya. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia akan mendapat (azab) Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.””
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 23)
➡️ Syaikh sebutkan dalil dalam matan nya
إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (16)
Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat. Qs Al Muzammil 15-16.
➡️ Syaikh – kedua Sesungguhnya Allah tidak ridha disekutukan dengan apapun dalam masalah ibadah,baik itu dalam bentuk malaikat atau nabi yang diutus.
Kalau malaikat dan nabi yang dekat dengan Allah saja tidak Allah ridhai apalagi hanya wali dan lainya.
Bentuk ibadah adalah minta dan berdoa. Maka dilarang berdoa dan minta pada kuburan.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّاَنَّ الْمَسٰجِدَ لِلّٰهِ فَلَا تَدْعُوْا مَعَ اللّٰهِ اَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.”
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 18)
Maksud Masjid disini adalah rutinitas di dalamnya yaitu ibadah. Sebagian ulama makna Masjid adalah bangunan dan aktifitas di dalamnya.
➡️ Poin ketiga – tidak boleh loyal kepada orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun ia adalah kerabat dekatnya.
Maksud di sini, adalah larangan pada orang yang cinta pada Allah dan Rasul-Nya tetapi juga cinta orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.
Kita harus ikuti prinsip yang benar dalam Al wala (loyalitas) wal bara (berlepas diri).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ يُوَآ دُّوْنَ مَنْ حَآ دَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَا نُوْۤا اٰبَآءَهُمْ اَوْ اَبْنَآءَهُمْ اَوْ اِخْوَا نَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِ يْمَا نَ وَاَ يَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ اُولٰٓئِكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 22)
Muslim itu harus tegas, punya identitas.
Dalam lingkup sosial, prinsip ini harusnya tidak bertabrakan.
Semoga bermanfaat.
#salaf #sunnah #ushul #syariat #ridha #syahadat #iman #ilmu #dakwah #taat #Allah #Rasul
##$$-aa-$$##

