ARGUMENTASI YANG SALAH DALAM BERAGAMA
Diterbitkan pertama kali pada: 03-Agu-2020 @ 19:16
13 menit membaca*ARGUMENTASI YANG SALAH DALAM BERAGAMA*
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
22 Syawal 1441 H
Makin mudah tersebarnya informasi, makin banyak yang mudah menuliskan apa yang ada dibenaknya, termasuk dalam hal agama, bahkan yang tidak berhak bicara, tetapi kagum kepada pendapatnya.
Ini seharusnya menjadikan kita harus lebih berhati-hati dalam menyikapi dan mengambil rujukan.
Kita perhatikan kisah Imam Rabi’ah berikut..
Pada suatu hari, Imam Malik bin Anas Rahimahullah mendapati gurunya, Imam Rabi’ah bin Abdurrahman dalam keadaan menangis.
Imam Malik bertanya kepada gurunya , “Apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis? Apakah engkau ditimpa musibah?” Dia menjawab, “Tidak, aku menangis karena adanya orang tak berilmu yang dimintai fatwa.” Lalu Imam Rabi’ah melanjutkan, “Sungguh, sebagian orang yang berfatwa di sini lebih layak untuk dipenjara daripada para pencuri.”
ISLAM dibangun diatas Al Qur’an dan Sunnah atas pemahaman para salafus shaleh.
Rujukan agama Islam adalah..
1. Al Qur’an
2. Sunnah
3. Ijma
4. Qiyas
*Poin argumentasi yang salah.*
1. *Dengan mayoritas*
Kalau mayoritas melakukan berarti kebenaran, Ini adalah salah.. Sifat manusia adalah lemah. Mudah terbawa kondisi lingkungan yang banyak..
Jika kau ikuti mayoritas di permukaan bumi maka kau akan disesatkan.
Allah berfirman,
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴿١١٦﴾
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. [Al-An’am/6:116]
Kebenaran tidak diukur dari mayoritas.
Dalam banyak ayat, Allah mencela pendapat mayoritas.
Apalagi mayoritas adalah orang-orang awam..
Dan tidak ada dalam buku-buku fikih.
Dan disebutkan dakwah para nabi yang mengikuti hanya sedikit..
Harus kita lihat, ada dalilnya atau tidak.
Kebenaran tidak diukur dari mayoritas.
2. *Berdalil dengan mimpi*. Mimpi hanya sebagai penguat bila sudah ada dalil.
Mimpi hanya sebagai penguat bila sudah ada dalil.
Mimpi ada 3:
A. Bawaan dari pembicaraan sebelum tidur
B. Syetan menggoda manusia
C. Kabar gembira dari Allah.
Tafsir mimpi pun perlu dirujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai pemahaman para sahabat.
Mimpi bukan dalil tapi hanya sebagai penguat,misalnya bertemu Rasulullah ﷺ untuk dakwah (sudah ada), disuruh berbakti kepada orang tua dst.
Abu Bakar saja kalau menafsirkan mimpi benar sebagian dan salah sebagian.
Imam Nawawi berkata : Bila seorang bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka yang dijadikan dalil adalah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di alam nyata bukan sabda Nabi dalam mimpi,
Apalagi sekarang banyak ibadah baru yang didapat dari mimpi, padahal Allah sudah mengatakan bahwa Islam sudah sempurna sebelum Rasulullah ﷺ wafat.
Ada orang yang menafsirkan ayat dari mimpi,
{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ}
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran: 110)
Dengan dipahami, dakwah harus keluar khuruj). Tafsir itu ayat dengan ayat, ayat dengan hadits.
Ibnu Arobi yang diagungkan orang sufi mengaku menulis buku yang kumpulan bertemu dengan Rasulullah ﷺ, isinya diantaranya Firaun masuk surga.
3. *Berdalil dengan nenek moyang dan tradisi*
Ini dilakukan oleh orang-orang musyrikin dulu. Baik saat Nabi Ibrahim atau sebelumnya (Hud, Sholeh, Nuh)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَكَذٰلِكَ مَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَا لَ مُتْرَفُوْهَاۤ اِنَّا وَجَدْنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ
“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 23)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قٰلَ اَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِاَ هْدٰى مِمَّا وَجَدْتُّمْ عَلَيْهِ اٰبَآءَكُمْ ۗ قَا لُوْۤا اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
“(Rasul itu) berkata, “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.””
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 24)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا نْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Lalu Kami binasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (kebenaran).”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 25)
Nenek moyang kita tidak maksum.
Masing-masing suku atau negara punya nenek moyang.
Jadi tetap dirujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah..
Karena tidak ada dalil Al Qur’an dan Sunnah yang menyatakan nenek moyang yang mana..
4. *Dalil dengan harta yang banyak,teknologi*
Harta bukan dalil..
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَا لَ مُتْـرَفُوْهَاۤ ۙ اِنَّا بِمَاۤ اُرْسِلْـتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
“Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, “Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 34)
وَ قَا لُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَا لًا وَّاَوْلَا دًا ۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ
“Dan mereka berkata, “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (dari kamu) dan kami tidak akan diazab.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 35)
Mereka sombong…
Allah menyuruh Nabi untuk membantahnya.
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيَقْدِرُ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 36)
وَمَاۤ اَمْوَا لُـكُمْ وَلَاۤ اَوْلَا دُكُمْ بِا لَّتِيْ تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفٰۤى اِلَّا مَنْ اٰمَنَ
“Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 37)
Jadi sudah dari dulu banyak orang yang berdalil dengan harta..
Allah memberikan harta kepada orang kafir dan orang beriman..
Saat Umar melihat kemewahan pada orang-orang Romawi dan Persia maka Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka hanya dapat di dunia.
Dalam sebuah hadits.
Suatu hari ‘Umar mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau sedang tidur di atas dipan yang terbuat dari serat, sehingga terbentuklah bekas dipan tersebut di lambung beliau. Tatkala ‘Umar melihat hal itu, maka ia pun menangis. Nabi yang melihat ‘Umar menangis kemudian bertanya, “Apa yang engkau tangisi wahai ‘Umar?”
‘Umar menjawab, “Sesungguhnya bangsa Persia dan Roma diberikan nikmat dengan nikmat dunia yang sangat banyak, sedangkan engkau dalam keadaan seperti ini?”
Nabi pun berkata, “Wahai ‘Umar, sesungguhnya mereka adalah kaum yang Allah segerakan kenikmatan di kehidupan dunia mereka.”
HR Bukhari.
Kebanyakan Nabi yang Allah utus dalam keadaan miskin..
Maka tidak heran bila yang ikuti para nabi adalah orang-orang yang fakir.
5. *Cara berdalil dengan keberhasilan*
Misalnya, dakwah dengan joget, musik, dukun dan ada yang ikut ajaran dakwah mereka.
Tidak semua keberhasilan menjadikan keberhasilan sebagai argumentasi dalam beragama.
Banyak yang dakwah dengan berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4).
Keberhasilan belum tentu wasilah yang benar.
6. *Berargumentasi dengan kesalahan ulama*
Ulama yang tergelincir pada kesalahan yang nyeleneh. Disebut Zallatul Ulama (kesalahan-kesalahan ulama)
Misalnya Ibnu Abbas pernah berpendapat riba hanya riba nasyiah, riba fadhl tidak mengapa.. Juga boleh mut’ah..
Misal Ibnu Umar pernah wudhu dengan tambahan masuk kan air ke dalam mata.
Contoh lain, Ibnu Hazm yang salah dalam mendhoifkan hadits musik, menyelesihi para shahabat, tabiin dan para Imam Mahdzab.
Berusaha mendhaifkan hadits Bukhari.
(Akan ada umat muslim yang halalkan riha, zina dan musik).
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik.” HR Bukhari, shahih.
7. *Berdalil dengan akal*
Akal, bukanlah barometer untuk mengukur kebenaran.
Imam Malik berkata, “Sungguh kabarkan kepadaku dengan akal siapa mau ditimbang Al Qur’an dan Sunnah”.
Karena akal itu bermacam-macam.
Oleh karenanya orang-orang yang menggunakan akal sebagai dalil juga berselisih. Padahal mereka sepakat dengan suatu kaidah Akal di dahulukan daripada dalil jika bertentangan.
Mereka berselisih dalam Asma wa Sifat Allah. Akal Jahmiyah tidak sama dengan akal Mu’tazilah dan tidak sama dengan akal Asyairah.
Akal adalah indera yang butuh pengarahan. Wahyu adalah cahaya yang mengantarkan akal tersebut.
Ibarat akal adalah mata
Wahyu adalah cahaya
Akal diperlukan untuk memahami wahyu dengan baik.
Para ulama berhasil menjelaskan makna sifat Allah dengan baik.
8 *Dalil dengan hadits dhoif*
Boleh dengan syarat, tidak sangat lemah..
1. Hanya keutamaan amal (tidak boleh meyakini dari Nabi ﷺ)
2. Sudah ada amal yang sesuai hadits (tidak boleh meyakini dari Nabi ﷺ)
3. Berkaitan Shirah Nabi tapi bukan pada inti untuk gabung rantai yang terputus.
Adapun jadikan hadits dhaif sebagai amalan baru maka ini tidak boleh. Begitu dalam keyakinan atau aqidah.
Bukan hadits dhoif jiddan bahkan munkar, misal nya hadits palsu tentang Nur Muhammad..
9. *Berdalil dengan si fulan adalah wali*
Bukan persyaratan wali harus maksum, karena wali bisa salah.
Tidak boleh taqlid.
Imam Syafi’i menyelisihi Imam Malik (gurunya).
Imam Syafi’i, muridnya juga menyelisihi yaitu Imam Muzany dan Imam Ahmad.
Umar Khaththab, wali Allah, tidak ada yang ragu.. Beberapa kali salah..
Kalau Umar pernah salah, Imam Malik pernah salah, Imam Syafi’i pernah salah.. Maka apalagi wali-wali sekarang.
Imam Malik Rahimahullah : “Semua orang bisa diterima dan ditolak ucapannya kecuali yang ada di dalam kubur ini (Rasul ﷺ)”
Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad pernah salah, apalagi yang sekarang..
10. *berdalil dengan perkataan Falasifah.*
Sebagian orang tatkala berbicara tentang asma wasifat berdalil dengan perkataan ahli filsafat seperti aristoteles, plato. Dan kemudian dianggap perkataan ahli filsafat itu suatu kepastian hukum yang absolut.
Dan ini tidak benar. Kemudian dalil-dalil yang menyelisihi hukum yang absolut itu harus ditakwil, harus dipalingkan, harus ditolak dengan berbagai macam metode mereka.
Siapa yang mengatakan bahwa perkataan ahli filsafat itu adalah kebenaran yang absolut? Ini jelas tidak benar.
Yang benar adalah Al Qur’an dan Sunnah, dan akal harus tunduk pada Al Qur’an dan Sunnah.
Sungguh menyedihkan sebagian ulama ketika berbicara asma wasifat berdalil dengan ucapan aristoteles, padahal dia seorang yang kafir. Dia orang Yunani yang bukan Yahudi, bukan Nasrani dan bukan Muslim.
Lalu bagaimana bisa perkataannya lebih dikedepankan daripada Al Qur’an dan Sunnah..
Ini adalah perkataan yang salah.. Bahkan mereka orang yang tidak beriman.
11. *berdalil dengan istilah syari padahal tidak benar*
Contoh : jihad dengan BOM termasuk di masjid Nabawi.
Iblis, menamakam pohon yang tidak syari dengan syari, pohon Keabadian.
Riba diplesetkan dengan bagi hasil
Musik Islami…
Yang jadi patokan adalah hakikat.
12. *dalil dengan keselamatan/karomah seseorang*
Misal dia menyeru kemungkaran atau kebidahan kemudian terjadi gempa dan dia selamat.
Orang yang selamat musibah padahal aqidah dan amalannya salah misalnya Yahudi, Nasrani..
Allah berfirman:
{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}
“Maka apabila mereka mengarungi (lautan) dengan kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya; kemudian tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), (QS al-‘Ankabuut:65).
Keselamatan mereka karna Rububiyah Allah.
Bukan berarti kesyirikan mereka benar.
Bukan berarti kafir kemudian jago dalam hal olah raga..
Contoh lain terjadi kebakaran di toko yang pasang foto Fulan dan selamat fotonya.
Bukan berarti Fulan tersebut benar.
Semua harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah.
13. *Campur kebenaran dan kebatilan supaya laris*
Contoh : Dakwah dengan musik. tentunya orang menjadi senang.
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
14. *Berdalil dengan ucapan Imam Mahdzab*
Imam Madzhab tidak maksum, dan tidak ada Imam Mahdzab mengajarkan muridnya untuk taklid.
Kenyataan nya Imam Syafi’i murid Imam Malik dan Imam Syafi’i tidak taklid kepada Imam Malik. Begitu juga kepada Imam Asysyaibani.
Imam Ahmad adalah murid Imam Syafi’i, tapi Imam Ahmad tidak taklid kepada Imam Syafi’i.
Mereka punya mahdzab sendiri-sendiri.
Dengan sebab mereka Islam tersebar namun mereka tidak ada yang maksum.
Para ulama tidak ada yang mengajarkan untuk taklid kepada dirinya.
Yang Wajib di taklid adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
15. *berdalil dengan sebagian ayat*
Ini sering dilakukan oleh orang-orang liberal..
Seperti. Orang yang mabuk sholat..
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ .
Celakalah orang-orang yang shalat,…. titk..
Padahal lanjutan nya..
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.
Contoh lainnya adalah mereka ingin membenarkan perkataan ahli kitab..
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian.
Kata mereka ini dalil untuk cari persamaan (dalam buku fikih lintas agama).
Padahal lanjutannya..
أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah (yaitu Tauhid).
Mereka potong.. Sebagian ayat.
Contoh lainnya.. Mereka berkata tidak ada pemaksaan dalam dakwah
وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
Dan katakanlah, “Keheranan itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa yang ingin (kafir)
Allah beri kebebasan tidak usah dakwah (kata mereka). Padahal lanjutan nya
إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا
Dan katakanlah, “Keheranan itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling
Ini namanya ancaman..
Seperti firman Allah “Lakukan sekehendak kalian”.
Contoh yang mereka potong adalah, tidak ada paksaan, penuh rahmat.. (sekaligus menuduh Islam Teroris)
إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Padahal lanjutnya
أَلا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml: 30-31)
Juga terkait tauhid.. Mereka mengaku akademis tapi dalilnya seperti dalil orang yang mabuk.
Orang liberal sok ilmiah padahal salah dan ngawur.
16. *Berdalil dengan ayat yang mutsyabihat untuk jatuhkan ayat-ayat yang muhkam.*
Ayat muhkam dalam Alqur’an banyak sekali.
Seperti Allah di atas..
Surat Ta-Ha (20) Ayat 5
ٱلرَّحْمَـٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ
(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.
Sedangkan ayat ini hanya satu..
{وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.
Allah bersama kalian (1 ayat) , padahal banyak ayat muhkam yang jelas menjelaskan Allah di atas.
Ini digunakan untuk membongkar ayat yang muhkam..
Banyak sekali ayat-ayat muhkam yang menjelaskan Allah di atas.
Harusnya ayat yang mutsyabihat dibawa ke ayat-ayat yang muhkam.
Allah berfirman…
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ مِنْهُ ءَايَـٰتٌۭ مُّحْكَمَـٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَـٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَـٰبِهَـٰتٌۭ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌۭ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَـٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (untuk menguji manusia). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.
Surat Ali-Imran (3) Ayat 7
Allah bersama kalian (1 ayat) , padahal banyak ayat muhkam yang jelas menjelaskan Allah di atas.
Harusnya ayat yang mutsyabihat dibawa ke ayat-ayat yang muhkam.
17. *Berdalil dengan sebagian dalil dan tinggalkan dalil yang lain.*
Seperti Kaum Khawarij dan Murji’ah. Orang-orang khawarij mudah mengkafirkan orang-orang muslimin.
Mereka Berdalil dengan ayat.
{وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maidah: 44)
Mereka lupa banyak ayat-ayat yang lain, hadits-hadits lain menjelaskan tidak langsung kafir secara mutlak yang perlu rincian dan lainnya.
Contoh lain Berdalil dengan hadits Nabi ﷺ.
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Tidaklah orang yang berzina ketika ia sedang berzina dalam keadaan dia Mukmin, dan tidaklah orang yang meminum arak disaat ia minum arak dalam keadaan Mukmin, dan tidaklah orang yang mencuri disaat ia mencuri dalam keadaan Mukmin, dan tidaklah seseorang merampok harta orang kaya yang dihormati oleh manusia dalam keadaan ia Mukmin.”
Lihatlah dalil yang lain banyak, jangan hanya melihat satu sisi dan tinggalkan sisi yang lain.
Nabi ﷺ tidak mengkafirkan orang yang berzina bahkan Nabi ﷺ menegakkan hukum had. Hukum had diantara fungsinya adalah untuk menggugurkan dosa mereka.
Orang minum khamr, mencuri juga ditegakkan hukum had, tidak dikafirkan oleh Rasulullah ﷺ.
Para sahabat juga mensholatkan jenazah orang yang berbuat maksiat, padahal kalau kafir tidak ada sholat jenazah.
Kemudian orang-orang murji’ah mengatakan perbuatan maksiat tidak memengaruhi iman. Yang penting imannya tinggi meskipun maksiat.
Jadi dalam memahami agama harus melihat secara komprehensif, bukan dari keyakinan trus dicari dalilnya.
18. *Hanya berdalil dengan hadits mutawatir*
(dibawa minimal 10 shahabat)
Dan ini dilakukan oleh orang-orang Mu’tazilah. Dan diikuti oleh sebagian ahlu bidah yang lain.
Mereka berkata, “Dalam masalah aqidah hanya ikuti hadits yang mutawatir’.
Betapa banyak, sahabat menyampaikan masalah aqidah yang tidak mutawatir.
Ahlussunnah Wal jamaah berdalil dengan hadits mutawatir maupun bukan asalkan shahih. Dalam aqidah maupun ibadah.
Ini diikuti oleh kaum liberal. Hadits mutawatir itu hanya sedikit.
19. *Berdalil dengan pengalaman*
Misalnya seorang dikejar anjing kemudian baca ayat kursi dan selamat. dan jadikan itu sebagai syariat. Padahal bisa jadi anjing tidak jadi ngejar karena alasan lain.
Baca kursi mungkin untuk nambah keimanan.
Nanti bisa jadi ke gereja berdoa dan berhasil jadi dalil.
Pengalaman keberhasilan itu bisa jadi Allah kabulkan karena lihat keimanan atau bahkan karena istidraj..
Maka pengalaman bukan dalil untuk suatu amalan tertentu.
20. *Pendapat orang yang lebih senior*
Tidak ada sisi pentarjihan dengan senioritas.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Keberkahan ada pada orang-orang senior diantara kalian”
Para ulama menjelaskan maksud senior ini:
1. Senior dari sisi ilmu, meskipun muda tapi ilmunya tinggi maka dianggap senior.
2. Senior dari sisi umur. Orang yang tua, mereka memiliki keberkahan. Lebih hikmah, lebih bijak apalagi ulama..
Maksudnya adalah keberkahan yang lazim, Tetapi tidak ada pentarjiah dari sisi senioritas.
Yang tua bisa salah begitu juga yang muda bisa salah.
Kita hormati orang tua tapi tua tidak mesti lebih benar…
Tetap harus di sesuaikan dengan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para shahabat.
##$$—aa-$$##


