TAFSIR # AL BAQARAH 197-198
Diterbitkan pertama kali pada: 08-Jul-2020 @ 21:38
6 menit membacaTafsir Al Baqarah – QS Al Baqarah 197-198.
Ustadz Muhammad Shoim
4 Rabi’ul Akhir 1441 H
Ayat 197-198.
{الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ (197) }
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas (jima’) , berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.
Qs Al Baqarah 197.
Allah menjelaskan bahwa haji memiliki waktu-waktu yang telah ditetapkan,yaitu bulan Syawal, Dzulqaidah, Dzulhijjah.
Nabi shallallahu alaihi wasallam :
“لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُحْرِمَ بِالْحَجِّ إِلَّا فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ”.
Tidak layak bagi seseorang melakukan ihram haji kecuali di dalam bulan-bulan haji.
Jabir ibnu Abdullah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
أَيُهَلُّ بِالْحَجِّ قَبْلَ أَشْهُرِ الْحَجِّ؟ فَقَالَ: لَا،
“Bolehkah melakukan ihram haji sebelum musim haji?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.”
{فَلا رَفَثَ}
maka tidak boleh rafas. (Al-Baqarah: 197)
Yakni barang siapa yang memasuki ihram untuk ibadah haji atau umrah, hendaklah ia menjauhi rafas. Yang dimaksud dengan rafas ialah bersetubuh, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
{أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ}
Dihalalkan bagi kalian pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kalian. (Al-Baqarah: 187)
Diharamkan pula melakukan hal-hal yang menjurus ke arahnya, seperti berpelukan dan berciuman serta lain-lainnya yang semisal; juga diharamkan membicarakan hal-hal tersebut di hadapan kaum wanita.
Ata ibnu Abu Rabah mengatakan bahwa rafas artinya persetubuhan dan yang lebih rendah daripada itu berupa perkataan yang jorok. Hal yang sama dikatakan pula oleh Amr ibnu Dinar.
Ata mengatakan bahwa orang-orang Arab tidak menyukai ungkapan ‘irabah yang artinya kata-kata sindiran ke arah persetubuhan, hal ini hukumnya haram.
Tawus mengatakan, rafas ialah bila seorang lelaki berkata kepada istrinya, “Apabila kamu telah ber-tahallul, niscaya aku akan menggaulimu.” Hal yang sama dikatakan pula oleh Abul Aliyah.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa rafas artinya menyetubuhi wanita, menciumnya, dan mencumbu rayunya serta mengeluarkan kata-kata sindiran yang jorok kepadanya yang menjurus ke arah persetubuhan dan lain-lainnya yang semisal.
{وَلا فُسُوقَ}
dan tidak boleh berbuat fasik. (Al-Baqarah: 197)
Fusuqo, ditafsirkan sbb:
+ Segala macam kemaksiatan.
+ Kemaksiatan saat ibadah haji
+ Mencela seseorang muslim
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
Mencaci orang muslim adalah perbuatan fasik, dan memeranginya adalah kekufuran. (Hadits shahih)
+ Menyembelih untuk berhala
أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (Al-An’am: 145)
+ memberi gelaran yang buruk kepada orang lain.
مِنْها أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian sendiri dalam bulan yang empat ini. (At-Taubah: 36)
Ini bukan bermakna kezaliman diluar bulan haram boleh, tapi dosanya dilipatgandakan.
Sehubungan dengan melakukan perbuatan zalim di Tanah Suci, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذابٍ أَلِيمٍ
Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih. (Al-Hajj: 25)
بِإِلْحادٍ
Kerusakan.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah bersabda:
«من حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»
Barang siapa yang melakukan haji di Baitullah ini, lalu ia tidak rafas dan tidak berbuat fasik, maka seakan-akan ia bersih dari semua dosanya seperti pada hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya. HR Bukhari dan Muslim.
{وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ}
dan (tidak boleh) berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (Al-Baqarah: 197)
Makna yang dimaksud dengan al-jidal ialah bila kamu membantah saudaramu hingga kamu buat dia marah karenanya.
{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ}
Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. (Al-Baqarah: 197)
Bekal ini selain untuk berangkat haji juga bekal untuk keluarga karena mereka akan ditinggalkan cukup lama.
{وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى}
Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. (Al-Baqarah: 197
وَرِيشاً وَلِباسُ التَّقْوى ذلِكَ خَيْرٌ
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. (Al-A’raf: 26)
Takwa akan memberi kebaikan kepada keturunan.
Seperti kisah dalam surat Al Kahfi.
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.
Qs Al Kahfi 82.
Jangan kuatir dengan rezeki anak keturunan kita selagi kita bekali mereka dengan ketakwaan. Orang yang bertakwa akan meninggalkan anak-anak dengan rezeki yang cukup.
Umar bin Abdul Aziz saat ditanya kenapa meninggalkan anaknya dengan harta yang sedikit? “Saya meninggalkan untuk mereka ketaqwaan kepada Allah, Jika mereka adalah orang-orang yang shalih, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang shalih… Jika mereka bukan orang yang shalih, maka tidak akan saya tinggalkan sedikit pun yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah…”
Dalam sebuah riwayat dikisahkan, pada hari pembaiatan khalifah Al-Mansur sebagai khalifah Bani Abbasiyah, datanglah seorang ulama bernama Muqatil bin Sulaiman ke hadapan sang Khalifah.
Melihat kedatangan ulama tersebut, sang Khalifah bertanya:
“Wahai Muqatil, berilah saya sebuah nasihat…”.
Muqatil membalas bertanya:
“Apakah anda ingin nasihat dari apa yang pernah saya lihat, ataukah dari apa yang pernah saya dengar?”.
Al-Manshur menjawab:
“Kalau begitu, dari apa yang engkau lihat…”.
Muqatil berkata:
“Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya Umar bin Abdil Aziz memiliki 11 orang anak. Ketika beliau wafat, beliau hanya meninggalkan warisan berupa uang 18 dinar. Dari uang itu, 5 dinar digunakan untuk membeli kafan, dan 4 dinar untuk mengurus penguburan beliau, dan sisanya 9 dinar dibagikan kepada 11 orang anaknya”. Ujar Muqatil lalu terdiam sejenak.
“Lanjutkan kisahmu…”. Ujar Al-Manshur.
“Dan setelahnya, Hisyam bin Abdul Malik (khalifah setelah Umar bin Abdul Aziz) juga punya 11 orang anak. Dan di saat ia meninggal dunia, Hisyam meninggalkan warisan untuk masing-masing anaknya sebesar 1 juta dinar…
Demi Allah wahai amirul mukminin… sungguh saya telah menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, di suatu hari salah seorang anak keturunan Umar bin ‘Abdul Azis bersedekah 100 kuda perang untuk jihad fii sabilillah…
Dan aku juga menyaksikan salah seorang anak keturunan Hisyam bin Abdul Malik sedang mengemis di tengah pasar…”.
Muqatil kembali terdiam, lalu ia menyambung nasehatnya:
“Ketika Umar bin Abdul Aziz di penghujung usianya, orang-orang bertanya kepada beliau: Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?!”
Umar bin ‘Abdul Azis pun menjawab: ”Saya meninggalkan untuk mereka ketakwaan kepada Allah… Jika mereka adalah orang-orang yang shaleh, maka sesungguhnya Allah adalah wali (pelindung) bagi orang-orang yang sholeh… Jika mereka bukan orang yang sholeh, maka tidak akan saya tinggalkan
Sedikitpun yang membantu mereka bermaksiat kepada Allah.
{وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ}
dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal. (Al-Baqarah: 197)
{لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ (198) }
Tidak ada dosa bagi kalian untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhan kalian. Maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang di-tunjukkan-Nya kepada kalian; dan sesungguhnya kalian sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Qs Al Baqarah 198.
Ayat ini menjelaskan bahwa berhaji boleh sambil jualan dengan niat utama berhaji.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ﴿١٥﴾ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan amal perbuatan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang di akhirat tidak akan memperoleh apa-apa kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Hud/11:15-16]
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
” مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ ”
“Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 2067].
Jadi, boleh beramal dengan tujuan akhirat ditambah tujuan duniawi asalkan yang nomor sekian.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
حصنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدوا للبلاء الدعاء
“jagalah harta kalian dengan zakat, OBATILAH ORANG YANG SAKIT DI ANTARA KALIAN DENGAN SEDEKAH dan tolaklah bala’ dengan doa” HR Tabrani. (ulama ada menshahihkan).
Niat beribadah ada 3 tingkatan
1. Murni karena Allah
2. Dibarengi dengan niat untuk dunia
3. Murni untuk dunia, ini yang tidak boleh.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
{فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ}
Maka apabila kalian telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Musdalifah) (Al-Baqarah: 198)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
الْحَجُّ عَرَفَاتٌ -ثَلَاثًا -فَمَنْ أَدْرَكَ عَرَفَةَ قَبْلَ أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ، فَقَدْ أَدْرَكَ. وَأَيَّامُ مِنًى ثَلَاثَةٌ فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ، وَمَنْ تَأَخَّرَ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ”
Haji itu hanyalah di Arafah —sebanyak tiga kali—. Barang siapa yang menjumpai (hari) Arafah sebelum fajar menyingsing, berarti dia telah menjumpai haji.
Dan hari-hari Mina itu adalah tiga hari, karenanya barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa baginya.
Tergesa-gesa maksudnya di Mina hanya 2 hari, boleh meninggalkan Mina tanggal 12 Dzulhijjah.
Dan lebih afdhal bila melengkapi 3 hari di Mina.
Semoga bermanfaat,
$$##-aa-$$##


