MENJADIKAN BUAH HATI PENYEJUK HATI
*MENJADIKAN BUAH HATI PENYEJUK HATI*
Ustadz Ahmad Fathurahman, Lc.
24 Shafar 1448H/9 Agustus 2026
Adalah tugas orang tua untuk mendidik anak-anak (dan keluarga) untuk menjadi hamba Allah yang tunduk dan jatuh pada syariat Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan kita tentang tugas kita, dalam sebuah hadits.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
HR Bukhari dan Muslim.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ…
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”
(QS. At-Tahrīm: 6)
Bahkan para nabi pun menginginkan anak keturunan menjadi orang yang sholeh.
Nabi Ibrahim alaihissalam berdoa,
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. As-Saffat: 100)
Nabi Ibrahim mendoakan anak-anak nya selama puluhan tahun..
Dan Allah berikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim alaihissalam,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ
“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 101)
Doa yang lain, adalah doa Nabi Zakaria alaihissalam,
هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
“Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.'”
(QS. Ali ‘Imran: 38)
Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria, kedua nya diberi keturunan yang sholeh, saat umur mereka sudah lanjut usia.
Dan Allah memberi balasan surga bagi orang-orang yang mendoakan anak-anak nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.””
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)
اُولٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوْا وَيُلَقَّوْنَ فِيْهَا تَحِيَّةً وَّسَلٰمًا
“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 75)
🔹 Memiliki anak sholeh, memiliki dua keutamaan.
1. Keutamaan saat masih di dunia. Hati senang dengan adanya anak yang sholeh. Seakan-akan Allah menyegerakan surga bagi kita.
2. Keutamaan saat di akhirat, diantara nya tambahan pahala untuk orang tua.
🔹 Dalam sebuah hadits,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”
HR Muslim.
🔹 Anak sholeh senantiasa mendoakan kita,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim )
Carilah sedekah jariyah, jangan sampai ketika meninggal kita tidak punya sedekah jariyah (bangun masjid, sedekah air dst).
Carilah ilmu dan sebarkan ilmu tersebut.
Doa anak yang sholeh. Kita sebagai anak, panjatkan selalu doa untuk orang tua. Terutama saat waktu mustajab.
🔹 Anak sholeh akan menaikkan derajat orang tua nya di surga.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ
“Sesungguhnya Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga. Lalu ia berkata: ‘Wahai Rabb-ku, bagaimana aku mendapatkan derajat ini?’ Allah berfirman: ‘Dengan sebab permohonan ampun anakmu untukmu.'”
HR Ahmad.
🔹 Akan mendapatkan syafaat dari anak.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. Ath-Thūr: 21)
Orang tua beriman dan anak keturunan mengikuti dengan keimanan. Walaupun orang tua dan anak beda derajat di surga, mereka akan dipertemukan oleh Allah dan ditempatkan di surga yang tinggi.
Bahkan bila orang tua di neraka, anak yang sholeh bisa mengangkat orang tua nya ke surga.
❓ Bagaimana cara jadikan anak yang sholeh.
Ada dua garis besar, tapi banyak cabangnya.
1. Doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tidak ada daya upaya kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dalam sebuah hadits,
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan, tidak ada keraguan padanya: doa orang tua, doa orang yang sedang bepergian (yang inginkan kebaikan) , dan doa orang yang terdzalimi.”
HR Abu Dawud dan Tirmidzi.
2. Orang tua harus jadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.
Anak pasti akan mencontoh orang tua.
Orang tua yang sholeh, memberi keselamatan kepada anak keturunan nya.
Kisah Nabi Musa dan Khaidir, saat Khaidir perbaiki rumah yang rusak.. Pemilik rumah tersebut adalah anak yatim yang orang tuanya sholeh.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ مَّا الْجِدَا رُ فَكَا نَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَا نَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَا نَ اَبُوْهُمَا صَا لِحًـا ۚ فَاَ رَا دَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا ۗ ”
Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
3. Luangkan waktu untuk keluarga. Misalnya dengan Safar bersama keluarga dan selipkan nasihat-nasihat.
Seperti apa yang Nabi ﷺ kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمًا، فَقَالَ:
يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ…
“Wahai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah…”
(HR. At-Tirmidzi , Ahmad — hadits hasan)
Jika anak ada kesalahan nasihati saat bersama di waktu yang tepat.
Seperti kisah Umar bin Salamah saat kecil dan kalau makan tangan nya grasah grusuh…
يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
“Wahai anak kecil, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu.” HR Bukhari dan Muslim.
Demikian juga saat sakit adalah waktu yang tepat untuk memberi nasihat.
Seperti seorang anak Yahudi yang pernah membantu Nabi ﷺ dan sedang sakit, Nabi ﷺ memberi nasihat..
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:
كَانَ غُلَامٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ ﷺ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ، فَقَالَ لَهُ أَبُوهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ وَهُوَ يَقُولُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ
“Dahulu ada seorang anak Yahudi yang biasa membantu Nabi ﷺ. Suatu ketika ia sakit, lalu Nabi ﷺ menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya dan berkata kepadanya: ‘Masuk Islamlah.’ Anak itu melihat kepada ayahnya. Ayahnya berkata: ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad ﷺ).’ Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi ﷺ keluar seraya bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.'”
(HR. Al-Bukhari)
Semoga bermanfaat,
#AlIkhlasDukuhBima #anak #sholeh #surga #taat #doa #nasihat
##$$-aa-$$##

