Diterbitkan pertama kali pada: 08-Jul-2020 @ 07:30

6 menit membaca

*WASIAT-WASIAT IBNU MAS’UD*
Ustadz Dr Firanda Andirja, Lc MA
17 Dzulqidah 1441H

Adalah sahabat yang sangat mulia,sangat alim dan sangat paham tentang Al Qur’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata tentangnya:

من سره أن يقرأ القرآن غضا طريا كما أنزل فليقرأه على قراءة ابن أم عبد

“Barangsiapa yang senang untuk membaca Al-Qur’an sebagaimana turunnya maka hendaknya ia membaca seperti bacaannya Ibnu Ummi ‘Abdin (yaitu Ibnu Mas’ud)”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkata “Apa yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud kepada kalian, maka benarkanlah”.
Umar bin Khaththab pernah berkata “Ibnu Mas’ud adalah wadah yang penuh dengan ilmu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah suatu kali memintanya untuk membaca Al Quran, Ibnu Mas’udpun berkata, “Apakah aku membaca kepadamu sementaraAl-Qur’an diturunkan kepadamu?”,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Aku senang untuk mendengar Al-Qur’an dari selainku”.
Maka Ibnu Mas’ud pun membaca dari awal surat An-Nisaa’ hingga beliau membaca firman Allah

﴿فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا(41)يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوْا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمْ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا﴾[النساء:41-42]

Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun. (QS. 4:41-42)

Maka Nabipun berkata “cukup”. Ibnu Mas’ud berkata, “Maka akupun melihat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata beliau manangis”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berkata, “Aku ridho bagi umatku apa yang Ibnu Mas’ud ridhoi kepada kalian”.
Rekomendasi2 dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keutamaan Ibnu Mas’ud.

Ibnu Rajab Al Hambali pernah menulis, Keutamaan ilmu salaf di atas ilmu kholaf, karena orang2 terdahulu ucapan nya sedikit tapi padat maknanya, berbeda dengan orang belakangan yang banyak bicara tapi sedikit maknanya.

*Wasiat1*
لا تنثروه نثر الدقل، ولا تهزوه هز الشعر، قفوا عند عجائبه، وحركوا به القلوب

Janganlah kalian membacanya dengan cepat tanpa mentadabburinya, sebagaimana membuang pasir dan janganlah membacanya cepat seperti membaca sya’ir, berhentilah pada keajaiban-keajaibannya dan goyangkanhati kalian (renungkan- dalami maknanya), jangan sampai cita2 kalian sampai di ujung surat (saja).

Target utama adalah paham bukan banyak. berhenti dan ambil faidah2 di dalamnya.
itulah yang menambah iman dan lebih rindu untuk membaca AlQuran, di situ ada kelezatan di dalamnya.

*Wasiat2*

لو تعلمون ذنوبي ما وطئ عقبي اثنان، ولحثيتم التراب على رأسي، ولوددت أن الله غفر لي ذنبا من ذنوبي، وأني دعيت عبد الله بن روثة
Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada dua orang yang berjalan di belakangku dan sungguh kalian akan menaburkan pasir di atas kepalaku, dan aku berharap Allah mengampuni satu dosa dari dosa-dosaku walaupun aku dipanggil Abdullah bin Routsah (kotoran keledai).

Ibnu Mas’ud gelisah dengan orang yang ikutinya, karena beliau merasa tidak suci. demikian juga banyak orang salaf yang berkata seperti ini. Muhammad bin Waasi’ rahimahullah mengatakan,
“Kalau seandainya dosa ini memiliki bau, niscaya tidak ada seorangpun yang mau duduk denganku.”
ini menunjukkan bahwa orang2 terdahulu tidak suka pada ketenaran (senang dengan follower), sedangkan jaman medsos ini banyak orang suka akan ketenaran. banyaknya followers tidak menunjukkan mulia nya orang tersebut.
Orang yang diikuti itu mudah terfitnah…
nasihat ini juga kepada para pengikut untuk tidak terlalu fanatik kepada seseorang.

*Wasiat3*

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut jatuh menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (pelaku maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat depan hidungnya lewat begitu saja.”
Perasaan seperti ini muncul dari orang2 yang beriman. seorang mukmin akan gelisah dengan dosa yang dilakukannya walaupun kecil. kita bisa check diri kita sendiri check hati kita setelah melakukan dosa… bila cuek maka kita perlu waspada jangan2 hati kita telah terisi sifat2 kemunafikan.

*Wasiat4*
“Nilailah seseorang itu dengan teman-temannya karena seorang tidak akan menjadikan sahabat kecuali dengan mengagumkan dia”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.”

maka WASPADA, apalagi di jaman sekarang…(hati2 masuk grup)

*Wasiat5*
“Barangsiapa yang mencari dunia, dia pasti memberi mudhorot kepada akhiratnya, barangsiapa yang mencari akhirat, pasti ada dunia yang dikorbankan. Ya Kaumku, berkorbanlah untuk yang sirna untuk sesuatu yang kekal”.

Para ulama mengatakan, dunia dan akhirat seperi dua istri yang cemburu, tidak mungkin bersatu padu..
kalau kita besarkan dunia di hati kita maka akhirat kita korbankan…..

*Wasiat6*

“Sesungguhnya hati ini adalah bejana, maka isilah bejana itu dengan Al Quran dan jangan diisi dengan selain AlQur’an”.

hati = bejana, salurannya pendengaran dan penglihatan.
pembicaraan yang sering di dengar akan mengisi hati
apa yang sering di lihat juga akan mengisi hati…
kecanduan sesuatu yang selain AlQuran itu adalah keburukan… harus waspada.

sibuklah diri dengan mempelajari AlQuran… seorang ulama mengatkan *”kebahagiaan seseorang tergantung keterkaitannya dengan AlQuran”. Sumber kebaikan dari Allah.
Pepatah mengatakan Semua bejana yang keluar isinya, nah kalau hati kita isinya selain AlQuran bahkan kemaksiatan, maka dikuatirkan saat sakaratul maut nanti keluar hal2 yang buruk…
targetkan untuk membaca AlQuran dan ada yang dipahami…. untuk diamalkan.

*Wasiat7*
“Selama engkau berada dalam shalat, maka engkau sedang mengetuk pintu Raja. Barang siapa yang mengetuk pinta Raja, maka pintu tersebut akan dibukakan untuknya.”
pintu yang kita ketuk adalah pintu kasih sayang Allah. Nilai sholat itu sesuai dengan kondisi hati saat sholat…
Bila kita sholat dengan khusyu (karena sedang bicara dengan Allah), sabar dan konsenterasi.
ada seseoranng yang mengadu kepada Ibnu Mas’ud tentang seseorang yang shalatnya sangat lama, maka Ibnu Mas’ud menjawab – sholat akan bermanfaat bila panjang (shalat sendiri)
sholatlah dalam keadaan santai, tenang jangan buru2, setelah sholat dzikir dengan tenang,
Nabi pernah berpesan “Sholatlah seakan2 berpisah dengan dunia ini”

*Wasiat8*
“Sesungguhnya seseorang tidak dilahirkan dalam kondisi alim (memiliki ilmu), sesungguhnya ilmu denga belajar”.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Qs An Nahl ayat 78.
Pendengaran dan penglihatan adalah pintu2 ilmu…
tidak mungkin ilmu itu secara laduni – harus dengan belajar….

*Wasiat9*
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama dia mengambil ilmu dari orang2 senior (terpercaya dari kalangan mereka)”.

ilmu tidak sembarang kita ambil dari siapa saja.

Muhammad bin Sirin rahimahullah, beliau mengatakan:

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama”

Ilmu adalah amanah…akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak.

Ibnu Mas’ud juga bernah perkata:
“Bagaimana dengan kalian jika kalian tertimpa fitnah/kekacauan yang di tengah-tengah fitnah tersebut yang muda menjadi tua, anak kecil menjadi tumbuh besar, dan manusia ketika menjadikan fitnah (menganggapnya) sebagai sunnah.
Jika ada sedikit saja dari fitnah itu yang ditinggalkan orang, maka akan dikatakan, “Sunnah telah ditinggalkan?” Mereka bertanya, “Kapan hal itu terjadi?”

(Ibnu Mas’ud) menjawab, “Apabila para ulama kalian telah pergi (wafat); pembaca Alquran (penghafal Alquran) dari kalian banyak, tetapi fuqaha (yang faham) kalian sedikit; umara’ kalian banyak, tetapi orang-orang yang amanah di antara kalian sedikit; kehidupan dunia dicari dengan amalan akhirat dan (orang bersungguh-sungguh) mendalami agama bukan untuk (kepentingan) agama.”

Dunia banyak dicari dengan amal akhirat…
Sekarang banyak orang2 yang kelihatan punya ilmu, tapi kita harus melihat apa yang disampaikan – jangan hanya hiburan (dari ustadz yang dicari). harus sesuai kaidah ilmiah ilmu itu sendiri.

$$##-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?