TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN#01
- TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN#01
*TAFSIR AYAT-AYAT PILIHAN#01*
Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Ustadz Dr Firanda Andirja Lc MA
16 Dzulqaidah 1447H / 3 Mei 2026
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima Bekasi
Tafsir ayatin fil Quranil karim.
Syaikh menulis tafsir ini seperti dalam penulisan kitab Tauhid yang terkenal dengan penjelasan Tauhid Uluhiyah, ada faidah khusus dari setiap ayat yang ditafsirkan. Kitab Tafsir ini juga mudah dipahami.
Pujian terhadap penulis,
1. Husen bin Abi Bakar : Penulis diberi pemahaman yang kuat menyala ayat Al Qur’an diatas pemahaman yang lurus dengan perkataan yang agung. Ketika penulis menjelaskan dengan praktek yang nyata, Orang yang membaca terkagum.
2. Abdurrahman bin Muhammad Qasim : kitab ini berjilid dan selalu menyisipkan tauhid dan setiap ayat selalu didatangkan masail atau faidah. Ketika menjelaskan kisah Musa ada 100 faidah lebih.
Penulis mampu mendatangkan faidah-faidah yang orang lain belum tentu bisa.
Penulis dikenal sangat inovatif.
Penulis membuka dengan surat Al Fatihah.
Penulis (Syaikh) ; semoga Allah merahmati dan memberi petunjuk di dunia maupun di akhirat.
“Ketahuilah—semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya, meliputimu dengan penjagaan-Nya, dan menjadikanmu termasuk orang yang mendapatkan pertolongan-Nya baik di dunia dan akhirat—bahwa tujuan shalat, ruhnya, dan intinya adalah hadirnya hati kepada Allah di dalamnya.
jika sholat dikerjakan tanpa hadir nya hati maka seperti jasad tanpa ruh. Kadar pahala adalah sesuai kadar konsentrasi hati saat sholat.
Ayat tentang lalai sholat.
ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya”
Lalai ditafsirkan
1. Lalai dari waktunya
2. Lalai dari kewajiban-kewajiban sholat
3. Lalai dari konsentrasi hati.
Tafsir seperti ini ditunjukkan seperti dalam hadits.
Rasulullah ﷺ bersabda,
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ، حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
“Itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik, itulah shalat orang munafik.
Ia duduk menunggu matahari, hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk setan (menjelang terbenam), ia berdiri lalu shalat dengan cepat seperti burung mematuk, empat rakaat, dan tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit.” HR Muslim.
Ini dilakukan secara sengaja, bukan karena udzur.
🔸 Sholat orang munafik.
1. Melihat matahari tunggu tenggelam, lalai waktu.
2. Sholat seperti burung mematuk – lalai dari kewajiban.
3. Tidak ingat Allah kecuali sedikit – lalai dari khusyuk.
Maka jika ingin bisa khusyuk adalah memahami Al Fatihah dengan sangat baik.
Yang akan menghasilkan sholat diterima dan pahala banyak serta dosa dihapus.
Dalam surat An Nisa 142.
إِنَّ ٱلْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ ۖ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang membalas tipuan mereka.
Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (ingin dilihat manusia) dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit.”
4. Sengaja tidak sholat berjamaah. Dari ayat mereka menipu Allah. (Dalam hadits sholat orang munafik malas sholat Isya dan Sholat Subuh)
5. Malas saat mengerjakan sholat.
6. Riya saat sholat.
Agar paham dengan baik. Al Fatihah disebut dengan sholat (Hadits). Ini seperti hadits – Haji itu wuquf di Arafah.
Hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.
Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”
(HR. Ahmad, Muslim )
Allah membagi sholat (Al Al-Fatihah menjadi 2).
1. Buat Allah
Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (ayat pertama)
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”
Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”
Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.”
Ini ayat pertengahan –
2. Hamba.
Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”
Ini ayat ke 6
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Dan ini ayat ke 7.
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ
Ini adalah sesuai mayoritas ulama.
Sedangkan Syafi’i mulai dari Bismillah…
Semoga bermanfaat,
#tafsir #pilihan #tauhid
##$$-aa-$$##


