KAIDAH SUCIKAN JIWA- QALBUN SALIM
Diterbitkan pertama kali pada: 28-Jun-2020 @ 14:32
3 menit membacaKaidah Pensucian Jiwa: lanjutan
Ustadz Kholid Syamhudi
19 Jumadil Akhir 1440H
Takziyah = (takhliyah dan tahliyah) menghapus keburukan jiwa (kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan) dan menghiasi jiwa dengan perbuatan taat kepada Allah.
Allah Ta’ala juga berfirman :
لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “ (QS. Al Baqarah:256).
Inilah makna Laa ilaaha illallah. Memurnikan tauhid dan meningalkan semua kesyirikan dan mulai dihiasi dengan syariat (perintah dan larangan).
Allah berfirman,
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, Qs At Taubah 103.
Jika jiwa kita kotor, maka kita akan meremehkan perintah-perintah Allah.
Ibnul Qayyim membagi hati menjadi 3.
1. *Qalbun Salim , hati yang sehat*
Hati yang memurnikan tauhid..
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujuraat: 1)
2. *HATI MATI*
Ini kebalikan dari yang pertama. Ini adalah hati yang mati, tanpa kehidupan sama sekali. Ia tidak mengenal Rabb serta tidak beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan, dicintai, dan dridhai-Nya.
Sebaliknya, ia SENANTIASA MENGIKUTI HAWA NAFSU sekalipun dimurkai dan dibenci Rabb-nya.
3. *HATI SAKIT*
Hati jenis ini adalah hati yang mempunyai kehidupan, tetapi berpenyakit. Kadang-kadanag kehidupan tampak padanya, tetapi kadang-kadang yang tampak penyakitnya, tergantung yang mana di antara keduanya yang sedang dominan.
Allah berfirman..
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)
Makna ayat di atas diterangkan dalam hadits berikut.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
HR Tirmidzi (shahih)
إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي
karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. (Yusuf: 53)
Dan Allah sudah memberi perintah untuk memulai hari dengan kebaikan seperti contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta ilmu yang bermanfaat setiap selesai shalat subuh dengan berdoa kepada Allah Ta’ala,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
“Ya Allah … aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thayyib, dan amal yang diterima.” (HR. Ibnu Majah no. 925. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.)
Amal sholeh akan membuka amal sholeh berikutnya.. (begitu pula keburukan akan menyeru kepada keburukan)
Allah mensucikan iman orang dengan amal sholeh..
Yang penting hatinya? (padahal amalan nya buruk). Ini adalah pernyataan yang salah.
Karena amalan adalah cerminan hati.
Oleh karena itu Allah menjadikan bahagia ada di hati bukan di anggota tubuh lainnya. Sehingga orang yang bersih hatinya adalah orang yang bahagia..
Contoh terbaik adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian para sahabat Radhiallahu anhum, para Tabi’in dst.
$$##-aa-##$$


