Tematik

SIKAP TERHADAP KHILAFIYAH

Diterbitkan pertama kali pada: 02-Jun-2024 @ 07:33

2 menit membaca

SIKAP TERHADAP KHILAFIYAH
Ustadz Dr Emha Hasan Ayatullah, MA.
24 Dzulqaidah 1445H / 02 Juni 2024
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Pagi hari duduk di majelis ilmu adalah nikmat besar, karena kita masih diberi nikmat iman,dimana kita tidak ada jaminan untuk tetap istiqomah. Jaman banyak fitnah/ujian ini bisa jadi pagi hari masih beriman, sore sudah tidak beriman..

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR. Muslim).

Beda pendapat.. (Ibnu Rojab Al Hambali).
1. Mujtahid – kasus tidak jelas
2. Orang awam – Bingung dengan fatwa yang berbeda.

Yang lebih buruk, adalah adanya fanatisme yang kadang bisa membuat orang tidak rujuk pada kebenaran.

Dalam aqidah ushul, ahlu sunnah sepakat.

Para ulama Ahlussunnah tidak ada yang berniat untuk menyelisihi dalil.

Ibnu Abbas menemui Khawarij dan berdebat karena khawarij salah memahami dalil. Para ulama berkesimpulan bahwa terjadi salah dalam memahami dalil kalau tidak ikuti pemahaman para sahabat Radhiallahu’anhum.

Perbedaan itu muncul karena beberapa sebab.

Perbedaan juga terjadi pada para shahabat justru menunjukkan bahwa para shahabat tidak maksum.

1️⃣ Dalil tidak sampai pada ulama yang bersangkutan.

Contoh : perbedaan pendapat saat sikapi thoun.. Bahkan Umar bin Khaththab tidak mendengar hadits terkait thoun dan baru dengar dari Abdurrahman bin Auf.

2️⃣ Bisa jadi alim sudah tahu dalil namun dalil ini menurutnya tidak kuat.

Contoh – wanita yang hamil yang ditinggal mati suami.

Masa iddah – untuk memastikan rahim kosong.

3️⃣ Sudah dengar dalil, tapi lupa.

Contoh adalah masalah tayamum terjadi perbedaan antara Umar bin Khaththab dan Amr bin Yasir.

4️⃣ Seorang alim dengar dalil tapi dipahami berbeda dengan yang semestinya.

Contoh.. Saat terjadi perang ahzab terkait waktu sholat Ashar dalam perjalanan ke kampung Bani Quraidhoh.

Contoh lain – batal wudhu saat sentuh wanita. Yang lebih kuat tidak batal.

5️⃣ Alim sudah dengar dalil tapi dalil sudah dihapus tetapi alim tersebut tidak tahu kalau sudah dihapus.

6️⃣ Beramal dengan hadits yang lemah.

Sedangkan menyatakan hadits itu kuat, lemah juga dengan ijtihad.

✅ Sikap kita bagaimana? ❓

1️⃣ Lihat, apakah itu benar ada perbedaan

2️⃣ Dicari kenapa terjadi perbedaan.

Kita bisa tanya dalil yang dipakai ulama (Ustadz)

3️⃣ Ada perbedaan yang mu’tabar.
1. Husnudzan
2. Ikuti pendapat yang paling dekat dengan dalil.

🔸Level orang belajar agama
1. Paham alat (bahasa, ushul fiqih)
2. Awam – bertanya.
3. Antara mujtahid dan awam – Ittiba – ikuti dengan coba cerna dalil.

Kalau cari guru – lihat perkataan nya apakah pendapat guru tersebut sering berbeda dengan ulama yang mu’tabar.

Semoga bermanfaat.

##$$-aa-$$$$

Digita Template

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?