Diterbitkan pertama kali pada: 24-Jun-2020 @ 19:06

3 menit membaca

Syarah Kitab Ad Daa Wa Ad Dawaa (Ibnul Qayyim). – *Dampak Negatif Maksiat* (Lanjutan)
Ustadz Ja’far Cecep
14 Shafar 1441 H
Masjid Al Ikhlas Dukuh Bima

Ustadz memulai dengan memberikan kabar gembira kepada para penuntut ilmu yang hadir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Allah inginkan kebaikan bagai para penuntut ilmu..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Majelis Ilmu akan mendatangkan ketenangan hati..

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).

*Dampak negatif maksiat* (lanjutan)

1. *Dapat melemahkan pengagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.*

Allah mencela orang yang tidak mengagungkan Allah.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?

Ibnul Qayyim mengatakan hanya orang yang mengagungkan Allah yang bisa bertauhid dengan sebenar-benarnya.

Ibnu Mas’ud berkata, saat menjelaskan perbedaan orang yang fajir dan orang yang beriman.

إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه, وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مر على أنفه فقال به هكذا فذبه عنه

((Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya.
Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut))

Kita lahir dalam keadaan fitrah, yaitu takut kepada Allah, yang mana pengagungan kepada Allah semakin berkurang bisa melakukan maksiat (dosa).

Iblis melakukan Talbis kepada manusia untuk supaya melakukan maksiat, dengan niat Agungkan Allah karena Allah akan ampuni mereka. Dan mereka tertipu.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Orang mukmin tidak menganggap remeh dosa.. Mereka sangat takut dengan dosa. Sehingga mereka mengagungkan Allah.

Pengagungan Allah seseorang akan nampak saat orang tersesat sendirian, saat jauh dari orang-orang (mungkin saat safar).

Orang yang tidak mampu mengagungkan Allah sejatinya adalah hukuman besar dari Allah, namun banyak yang tidak menyadari.

*Cara kembali kepada Allah adalah*

A. Berhenti maksiat dengan bertaubat dan banyak memohon ampunan kepada Allah.

B. Kita harus minta kepada Allah supaya Allah memudahkan kita dalam mengagungkan Allah.

Allah berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kalian kepadaku, niscaya aku akan mengabulkannya untuk kalian. (QS. Ghafir: 60)

C. Juga merenungkan ciptaan Allah.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

D. Tadabur ayat Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Orang yang tidak mengagungkan Allah maka akan dihinakan Allah.

2. *Orang yang maksiat, akan diabaikan Allah.*

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (19)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
Qs Al Hasyr 18-20.

Allah jadikan mereka yang maksiat, lupa akan diri sendiri.

Lupa diri sendiri = lupa hal-hal yang akan memberikan kebaikan untuk diri sendiri, bahkan melakukan hal-hal yang mendatangkan mudharat.

Maka segeralah bertaubat, beristighfar.

Sebagian manusia sering berucap Allah mendzalimi mereka, saat sedang tertimpa musibah atau cobaan. Padahal Allah tidak pernah dzalim kepada hamba-hamba-Nya, sebaliknya manusia sendiri yang dzalim diri sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ}

Sesungguhnya Allah tidak berbuat aniaya kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (Yunus: 44)

##$$-aa-$$##

Bagikan Catatan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ingin Umroh Nyaman Sesuai Tuntunan Rasulullah?